Dewan Pesantren Rohingya di Kamp Pengungsian Luluskan 252 Santri Angkatan Pertama

12 February 2020, 18:10.
Foto: Rohingya Vision

Foto: Rohingya Vision

DEWAN Pendidikan Pesantren di kamp pengungsian Rohingya di Bangladesh merayakan keberhasilannya meluluskan 252 santri.

Yakni 92 santri dari departemen akademik, plus 160 santri dari departemen tahfizh yang telah menghafal 30 juz Al-Quran seluruhnya.

Perayaan itu digelar di markas dewan pendidikan tersebut, tepatnya di Balukhali 1, Kamp 9, Blok G18 pada tanggal 7 Februari 2020.

Dewan pendidikan yang dikenal dengan nama “Wifaq al-Madaris al-Arabiya al-Rohingya” menaungi 92 pondok pesantren yang tersebar di berbagai penjuru kamp pengungsian.

“Ratusan guru yang mayoritas adalah relawan, mengajar ribuan santri yang ada di pondok-pondok tersebut,” ujar Anisul Mustafa, Direktur Wifaq al-Madaris al-Arabiya al-Rohingya.

Dalam wawancaranya kepada Rohingya Vision, Mustafa mengatakan bahwa pada tahun ajaran yang lalu, 120 santri tingkat akhir dari 7 pondok pesantren mengikuti ujian yang dilaksanakan di 4 tempat.

Sebanyak 92 santri di antaranya mampu memenuhi syarat kelulusan. Ada juga 160 santri yang berhasil menghafalkan Al-Quran.

“Di tahun ajaran berikutnya, sekitar 136 institusi lainnya diharapkan bisa bergabung dengan dewan ini,” tambahnya.

Institusi-institusi yang dinaungi Wifaq akan mengadopsi kurikulum, metodologi, peraturan, dan kebijakan yang sama.

Kurikulum tersebut bernama Dars-i Nizami, yang berasal dari wilayah India pada abad ke 18 dan terus digunakan di institusi pendidikan Islam tradisional, seperti Darul Uloom Deoband yang berada di India.

Kurikulum Dars-i Nizami berisikan ilmu-ilmu pengetahuan agama seperti Al-Qur’an dan tafsirnya, hadits, fikih atau hukum Islam, akidah, sejarah Nabi Muhammad Saw, bahasa Arab, dan lainnya.

Masa tempuh pendidikan kurikulum tersebut adalah 12 tahun dengan buku-buku referensi sebagian besar dalam bahasa Arab. Namun pengajaran disampaikan menggunakan bahasa Rohingya dan Urdu.

Anisul Mustafa lebih jauh lagi menjelaskan; “Kami hanya memiliki sumber daya yang sangat terbatas. Meski begitu kami terus berupaya mendidik generasi baru kami. Tanpa sistem pendidikan formal, anak-anak dan pemuda yang berada di kamp rawan menjadi korban eksploitasi oleh jaringan pengedar obat-obatan terlarang, ideologi ekstrim, perdagangan manusia, dan lain-lain.”

“Institusi-institusi pendidikan ini berkomitmen untuk tak hanya melindungi mereka, tapi juga untuk mengajarkan mereka akhlak yang baik, mendidik mereka, mengajarkan mereka tentang kehidupan dunia dan akhirat kelak.”

Sejak tahun 2012, pemerintah Myanmar menutup semua pondok pesantren dan masjid di daerah asal warga Rohingya, serta melarang para santrinya untuk melanjutkan pendidikan di sekolah-sekolah negeri.

Para santri yang baru saja lulus di kamp ini adalah mereka yang sebelumnya tak bisa menyelesaikan masa studinya akibat penutupan sekolah-sekolah tersebut dan operasi “pembersihan” yang dilakukan militer Myanmar pada tahun 2016-2017.

Sistem pendidikan swasta berupa pondok pesantren telah berperan besar dalam menjaga identitas agama dan budaya etnis Rohingya di bumi Arakan, meski mereka tak pernah mendapat dukungan dari pemerintah; ditambah dengan bermacam pembatasan serta upaya genosida yang dialami. (Rohingya Vision)

 

 

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Turki Sebut 51 Tentara Rezim Tewas di Idlib, Oposisi Kobarkan Perlawanan di Dekat M-5 dan Deera
Profil Syaikh Raed Salah; Figur Ikonik Pembela Masjid Al-Aqsha »