Profil Syaikh Raed Salah; Figur Ikonik Pembela Masjid Al-Aqsha

12 February 2020, 18:16.
Sumber: Anadolu Agency

Sumber: Anadolu Agency

PENGADILAN ‘Israel’, Senin (10/2/2020), menjatuhkan hukuman 28 bulan penjara pada tokoh Palestina pembela Masjid Al-Aqsha, Syaikh Raed Salah, sebagai bagian dari rangkaian penganiayaan yang telah ia alami.

Ini bukanlah upaya pertama zionis untuk membungkamnya karena pembelaannya yang teguh dan berani atas Masjid Al-Aqsha; melawan upaya Yahudisasi para pemukim terhadap situs suci ketiga ummat Muslim tersebut.

Ikon perlawanan Palestina yang juga dikenal sebagai “Syaikh Masjid Al-Aqsha”, atau pembela Masjid Al-Aqsha, merupakan salah satu tokoh Palestina yang paling menonjol.

Ia memperoleh popularitas luas di dunia Muslim karena pembelaan tiada henti terhadap masjid, serta membangkitkan kesadaran tentang tindakan zhalim ‘Israel’ terhadap Baitul Maqdis secara umum dan jamaah di sana pada khususnya.

Lahir pada tahun 1958, Syaikh Salah adalah seorang penyair dan ayah dari delapan anak. Dia memulai pekerjaan publiknya sebagai Wali Kota Umm al-Fahm, sebuah kota Arab di wilayah yang dicaplok ‘Israel’, di mana dia juga menjadi pemimpin cabang utara Gerakan Islam.

Ketika kegiatannya berkembang dan pidato anti-pendudukannya tersebar luas di kalangan minoritas Palestina di ‘Israel’, ia beberapa kali menjadi sasaran penangkapan oleh otoritas ‘Israel’.

Pada 2003, ia ditangkap karena dicurigai mendanai Hamas. Sementara pada 2005, ia dilarang bepergian.

Kemudian pada 2010, ia dijatuhi hukuman lima bulan penjara karena diduga menyerang polisi ‘Israel’.

Sebagai seorang pembela yang kuat bagi rakyat Palestina, ia telah melakukan sejumlah protes terhadap kebijakan ‘Israel’ dan berkampanye menentang perluasan permukiman ‘Israel’ di wilayah-wilayah pendudukan.

Membela Baitul Maqdis

Di bawah slogannya yang terkenal “Al-Aqsha dalam bahaya”, ia menarik perhatian orang-orang Palestina dan dunia Muslim tentang meningkatnya pelanggaran ‘Israel’ terhadap kesucian situs suci.

Raed Salah juga membalas narasi palsu ‘Israel’ dengan menerbitkan fakta tentang kota suci dan apa yang terjadi di sana.

Dia telah menjadi bagian dari upaya menguak prosedur busuk ‘Israel’ terhadap situs-situs Kristen dan Muslim, terutama terowongan dan pekerjaan penggalian ‘Israel’ di bawah Masjid Al-Aqsha.

Pada musim panas 2017, ia juga menyerukan untuk membela Masjid Al-Aqsha dari otoritas ‘Israel’ yang memutuskan memasang kamera dan gerbang elektronik di depan gerbang masjid.

Pada bulan Agustus 2017, Salah ditangkap di rumahnya di Kota Umm al-Fahm di ‘Israel’ utara, sebelum dihukum dengan tuduhan “menghasut kekerasan.” Raed Salah membantah keras tuduhan itu.

Pada bulan Februari 2018, Pengadilan Pusat ‘Israel’ menzhalimi ikon perlawanan Palestina dengan kurungan isolasi selama enam bulan.

Tepat setahun setelahnya, Mahkamah Agung ‘Israel’ memvonis Salah untuk tiga bulan lebih masa tahanan rumah.

Di bawah ancaman ‘Israel’

Syaikh Salah juga menjadi sasaran hasutan dan ancaman para pejabat ‘Israel’.

Menteri Keamanan Publik ‘Israel’ Gilad Erdan pernah men-tweet bahwa hukuman Syaikh Salah “menggambarkan bahwa pendukung teror dan hasutan berada di penjara untuk waktu yang lama dan bukan di Knesset [parlemen ‘Israel’].”

Setelah penangkapannya pada tahun 2017, Menteri Pendidikan ‘Israel’ Rafi Peretz menyuarakan dukungannya untuk pengadilan pendudukan Israel.

“Saya harap vonis dalam kasusnya selama dan separah mungkin.”

Berbicara selama sesi kabinet pada tahun 2017, menteri-menteri Avigdor Lieberman, Yisrael Katz dan Yoav Galant menuntut agar Salah ditempatkan di bawah penahanan administratif.

Katz juga meminta otoritas ‘Israel’ untuk mendeportasi Sheikh Salah ke Lebanon atau Gaza.

Pada 2010, ia berada di atas kapal Mavi Marmara di Freedom Flotilla, yang bertujuan untuk menghancurkan pengepungan yang diberlakukan di Jalur Gaza.

Seorang jurnalis asing mengungkapkan dalam sebuah artikel bahwa bagian dari rencana ‘Israel’ dalam menyerang Mavi Marmara adalah untuk membunuh Syaikh Salah.

Meskipun didera serangan ‘Israel’ yang tak berkesudahan, Syaikh Salah menegaskan dalam kesempatan yang berbeda bahwa dirinya bertekad terus melanjutkan pembelaannya untuk Masjid Al-Aqsha “berapa pun biayanya”. (Anadolu Agency)

 

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Dewan Pesantren Rohingya di Kamp Pengungsian Luluskan 252 Santri Angkatan Pertama
Buldoser ‘Israel’ Gilas Taman dan Runtuhkan Aula di Galilea Atas »