Media Sebut 2.000 Warga Rohingnya Hadiri Pertemuan JT di Malaysia, Presiden Asosiasi Sampaikan Klarifikasi

21 March 2020, 18:42.
Foto: Rohingya Vision

Foto: Rohingya Vision

KUALA LUMPUR, MALAYSIA (Rohingya Vision) – Sebagaimana Covid-19 telah merebak cepat, para pemimpin Rohingya, aktivis, dan media di seluruh dunia terus berupaya mengingatkan etnis Rohingya – baik yang berada dalam pengungsian, maupun yang masih bertahan di negaranya – untuk melakukan pencegahan penyebaran virus corona, serta mengikuti instruksi pemerintah dan pihak medis setempat.

Khususnya setelah beredar kabar ratusan orang pengungsi Rohingya di Malaysia menghadiri pertemuan internasional Jamaah Tabligh (JT) yang digelar pada tanggal 28 Februari hingga 1 Maret kemarin di Petaling, Kuala Lumpur.

Hal ini menjadi sorotan karena pertemuan itu telah menyebabkan peningkatan drastis kasus infeksi virus corona yang terjadi di Malaysia.

Meskipun jamaah yang hadir berasal dari mancanegara, kabar bahwa sebagian pengungsi Rohingya mengikuti acara tersebut menjadi topik utama di media lokal dan bahkan internasional.

Reuters sendiri sampai memberitakan bahwa “Pemerintah Malaysia sedang melacak sekira 2.000 warga Rohingya yang menghadiri sebuah acara perkumpulan umat Muslim.”

Pemberitaan Reuters yang berlebihan dan tanpa didahului pengecekan fakta ini dapat menimbulkan ketakutan; tak hanya bagi komunitas etnis Rohingya, tapi juga bagi negara Malaysia secara keseluruhan, dan bisa menyebabkan sentimen anti-Rohingya di kalangan penduduk negara itu.

Faktanya, menurut Direktur Jendral Kesehatan Malaysia, jamaah yang hadir dalam acara Tabligh tersebut sebanyak 16.000 orang.

14.500 orang di antaranya merupakan warga asli Malaysia dan 1.500 lainnya dari manca negara.

Yang menjadi pertanyaan, bagaimana caranya 2.000 warga Rohingya bisa masuk ke dalam bagian 1.500 orang dari luar Malaysia tersebut, sementara masih ada jamaah dari negara-negara lain pula?

Rohingya Vision telah menghubungi beberapa komunitas dan pemimpin JT. Mereka menjelaskan bahwa angka yang disebut Reuters itu berlebihan dan tidak masuk akal.

Hajee Farid, seorang tokoh JT etnis Rohingya mengatakan, “Jamaah dari Rohingya yang hadir ke Sri Petaling hanya beberapa ratus orang saja. Masyarakat Rohingya awam tidak ikut acara tersebut.”

Tambahnya; “Sebenarnya pertemuan itu khusus diperuntukkan bagi para ‘ulama dan khudama (senior). Sehingga tak mungkin masyarakat awam Rohingya datang. Sebagian besar jamaah Rohingya yang hadir pun baru ikut di akhir acara ketika doa penutup,” yang membuat mereka tidak berada di tengah kerumunan pada waktu itu.

Farid melanjutkan, jumlah warga Rohingya yang mengikuti acara keseluruhan dari awal hingga akhir pun tidak mungkin lebih dari 50 orang, karena para ulama dan senior mereka yang diundang di bawah angka tersebut.

Mohammad Y., seorang petinggi JT yang lain, mengatakan bahwa sebagian besar jamaah Rohingya yang hadir telah mengikuti pemindaian Covid-19 dan hasilnya negatif.

Sedangkan sisanya sudah dibolehkan pulang dari klinik dan rumah sakit karena tak ada tanda dan gejala virus tersebut.

Menurut Farid, sebenarnya sebagian jamaah enggan mengikuti cek kesehatan tersebut karena tak merasakan gejala apa-apa.

Namun kata Bo Ming Naing, Presiden Asosiasi Rohingya di Malaysia, “Kami tetap menghimbau semua yang hadir dalam acara tersebut dan bahkan yang tidak hadir namun memiliki gejala, baik mereka mempunyai kartu UNHCR ataupun tidak, untuk mengikuti tes corona demi menjamin keamanan tanpa memungut biaya apapun, sesuai dengan langkah-langkah pencegahan dan MCO (Managed Care Organization).”

Baru-baru ini ia juga menuliskan di akun Facebooknya, “Media-media Malaysia menulis bahwa 2.000 warga Rohingya menghadiri acara keagamaan di Sri Petaling. Apakah media-media ini memiliki bukti bahwa warga Rohingya yang hadir memang sebanyak 2.000 orang?”

“Kami, komunitas Rohingya ingin melihat bukti tersebut karena kami benar-benar serius akan isu ini. Para reporter menulis berita tersebut tanpa bukti dan beberapa dari mereka bahkan tidak bisa membedakan mana warga Rohingya dan mana warga Muslim Myanmar.”

Hampir semua pengungsi Rohingya adalah buruh kasar. Penghasilan yang tak seberapa membuat mereka sibuk bekerja untuk agar bisa bertahan hidup (dengan standar bawah) setiap harinya.

Saking sibuknya, mereka sampai tak ada waktu untuk keluarga, lebih-lebih untuk aktif di JT.

Rahmat Ali menanggapi, dengan 2.000 orang terduga yang belum menjalani tes (sebagaimana ditulis media), jika situasi memburuk, warga Malaysia akan lupa bahwa virus tersebut berasal dari China, bukan Rohingya.

Anwar S. Mohammad juga berkomentar, “Bagaimana bisa mereka melaporkan angka yang jauh berbeda dalam permasalahan yang sensitif ini? Apakah Reuters mau bertanggungjawab jika etnis Rohingya disalahkan dan mendapat konsekuensi apapun bentuknya itu akibat pemberitaan yang tak berdasar ini?” (Rohingya Vision)

 

 

 

 

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Serdadu Zionis Hancurkan Dua Rumah Warga Palestina di Tenggara Baitul Maqdis
Warga Palestina dan Yordania di Penjara Saudi Terancam Pandemi Covid-19, Keluarga Berharap Pembebasan »