Warga Palestina dan Yordania di Penjara Saudi Terancam Pandemi Covid-19, Keluarga Berharap Pembebasan

22 March 2020, 18:51.
Foto: MEE/Adam Khalil

Foto: MEE/Adam Khalil

GAZA (Middle East Eye) – Warga Palestina dan Yordania meminta kepada pihak Kerajaan Arab Saudi untuk membebaskan keluarga mereka yang ditahan di Arab Saudi karena khawatir dengan pandemi corona yang menyebar cepat di sana.

Menurut beberapa sumber, sedikitnya 68 orang warga Palestina dan Yordania ditahan oleh aparat Kerajaan Arab Saudi dengan alasan memiliki keterkaitan terhadap kelompok Hamas di Palestina.

Warga kedua negara tersebut, sebagiannya sudah berusia 80-an tahun, mengatakan bahwa keluarganya yang ditahan tak bisa mendapat pendampingan secara hukum dan hak jenguk, ditambah akhir-akhir ini akses telepon dikurangi.

“Kami sangat khawatir tentang cepatnya penyebaran virus corona. Pemerintah Saudi harus membebaskan mereka sebelum bencana terjadi,” kata Muhammad al-Akkad.

Sementara itu perwakilan dari Hamas menjelaskan bahwa para tahanan tersebut diadili secara berkelompok 5 orang sekaligus dan dengan audiensi yang dipercepat.

Menurut salah satu sumber, hukuman yang dijatuhkan kepada mereka pun didasarkan pada alasan yang janggal maupun tak dapat dibuktikan.

Salah seorang dari mereka ditahan karena membawa botol minyak zaitun Palestina. Yang kedua, ditahan karena memberikan domba kepada warga Gaza ketika Idul Adha. Ketiga, karena ada yang membawa buku sejarah Palestina karya Tareq al-Suwaidan dari Kuwait.

Umm Qusai al-Haddad, yang terlahir di Arab Saudi namun sekarang tinggal di Gaza, mengkhawatirkan kondisi ayahnya, Suleiman (67 tahun), dan kedua saudaranya, Yahya (40) serta Muhammad (38), yang sama-sama ditahan sejak tahun 2018.

Ia menambahkan, bahwa pemerintah Saudi berulang kali menahan informasi bagi keluarga para tahanan, termasuk hasil persidangan terakhir pada tanggal 8 Maret kemarin.

Menurut Umm Qusai, kurang transparannya pemerintah Arab Saudi telah berlangsung sejak penahanan keluarganya.

Ia menjelaskan bahwa sejak ditahan paksa tanggal 11 Maret 2018, aparat selalu membatasi komunikasi mereka dengan keluarganya.

Ketika ibunda Umm Qusai diperbolehkan bertemu suaminya di penjara al-Haair milik kerajaam Saudi, sang suami berkata bahwa kedua anaknya dimasukkan ke penjara terpisah dan ia sudah lama tak melihat keduanya.

Setelah kunjungan tersebut, komunikasi benar-benar putus selama sekitar satu tahun.

Kini, kunjungan kepada keluarga yang ditahan sudah tak lagi dibolehkan karena alasan penyebaran virus corona.

Menurut Umm Qusai, sejak pengadilan terakhir keluarganya, organisasi-organisasi kemanusiaan telah melaporkan adanya penyiksaan terhadap para tahanan serta penemuan terduga infeksi virus corona di salah satu penjara.

Di antara warga Palestina yang ditahan ialah Muhammed al-Khoudary (82) yang selama sekitar 2 dekade ini menjadi penjalin hubungan antara Arab Saudi dengan Hamas.

Abdul Majed, saudaranya, mengatakan bahwa kondisi penjara di sana sangat tidak layak dan mengakibatkan kanker yang diderita Khoudary semakin memburuk.

Berdasarkan penuturan Abdul Majed, pengadilan Saudi memenjarakan Khoudary dengan alasan tergabung serta ikut mendanai kelompok teroris.

Sementara anak Khoudary yang bernama Hani, seorang pengajar di Universitas Umm Al-Qura, dituduh membantu menutup-nutupi apa yang dilakukan ayahnya tersebut.

Abdul Majed melanjutkan, saudaranya sebenarnya telah mengundurkan diri 10 tahun yang lalu sebagai perwakilan resmi Hamas.

Badan intelijen Saudi bahkan sampai mempersilakannya membuka kantor resmi di Kota Jeddah.

Hamas berdiri pada tahun 1987 dan secara umum dipandang oleh dunia Arab sebagai kelompok yang terus menerus menentang penjajahan ‘Israel’ di bumi Palestina.

Beberapa pendirinya dan tokoh yang dekat dengan Hamas telah lama tinggal di Kerajaan Arab Saudi, dimana banyak donasi diberikan untuk perjuangan mereka, bahkan atas restu dari kerajaan.

Namun hubungan kerajaan dengan kelompok yang berpusat di Gaza itu menjadi buruk; terutama semenjak Donald Trump yang merupakan pendukung setia ‘Israel’ terpilih sebagai presiden Amerika Serikat dan juga diangkatnya Mohammed bin Salman sebagai putra mahkota.

Di antara mereka yang ditahan karena keterlibatannya dengan Hamas adalah tiga orang anggota keluarga Akkad dari Gaza bagian selatan.

Muhammad al-Akkad, sepupu dari tiga orang tersebut mengatakan bahwa mereka tidak diperbolehkan berkomunikasi dengan keluarganya.

“Sama sekali tidak boleh ada komunikasi dengan mereka. Kami mendengar tuduhan yang dijatuhkan atas mereka melalui media, termasuk di antaranya ialah karena terlibat dengan kelompok teroris – dan yang dimaksud tak lain adalah faksi pejuang Palestina. Kami sangat terpukul dengan putusan ini, terlebih karena mereka lahir di Arab Saudi dan telah tinggal di sana selama puluhan tahun.”

Ia mengatakan bahwa keluarganya sangat khawatir terhadap pandemi virus corona yang telah menyebar di Arab Saudi.

Pada hari Senin kemarin (16/3/2020), pemerintah Arab Saudi mengumumkan 38 kasus baru terkonfirmasi positif terinfeksi virus corona, menambah total angka yang terinfeksi menjadi 171 orang.

WHO sendiri telah menyatakan wabah ini sebagai pandemi pekan lalu, sebagaimana korban meninggal terus bertambah dari hari ke hari. Total kasus yang tercatat melebihi 179.000 di 136 negara.

“Kami sangat khawatir terhadap cepatnya penyebaran virus corona ini. Pemerintah Arab Saudi harus segera membebaskan mereka sebelum terjadi bencana,” kata Akkad. (Middle East Eye)

 

 

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Media Sebut 2.000 Warga Rohingnya Hadiri Pertemuan JT di Malaysia, Presiden Asosiasi Sampaikan Klarifikasi
Kematian Massal Akibat Coronavirus; Ancaman Nyata yang Mengintai Kamp dan Penjara di Suriah »