Kasus Pertama Covid-19 Terkonfirmasi di Suriah, Para Muhajirin dan Tahanan Paling Rentan Terinfeksi

24 March 2020, 19:37.
Foto: Muhammed Said/Anadolu Agency via Getty Images

Foto: Muhammed Said/Anadolu Agency via Getty Images

SURIAH (The Guardian) – Kasus virus corona pertama di Suriah telah dikonfirmasi. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran bahwa pandemi tersebut akan meruak ke negara yang telah kacau balau karena perang 9 tahun ini.

Sang pasien adalah perempuan berusia 20 tahun yang baru saja pulang ke Suriah dari negara yang tak dijelaskan secara spesifik.

“Langkah-langkah yang diperlukan telah dijalankan”, kata Menteri Kesehatan Rezim Suriah Nizar Yaziji.

Pengumuman ini datang setelah beberapa pekan sebelumnya rezim terus-menerus membantah bahwa pasukan Syiah Iran (yang membantunya selama perang) tidak membawa virus corona.

Padahal telah banyak laporan dari petugas medis di ibukota Suriah bahwa beberapa pasien mengalami gejala terinfeksi virus corona.

Perang sembilan tahun telah menghancurkan infrastruktur, ekonomi, dan sistem kesehatan di Suriah.

World Health Organization (WHO) mengatakan bahwa sistem kesehatan yang rapuh di Suriah bisa jadi tidak mampu mendeteksi dan memberikan penanganan terhadap pandemi yang terjadi di seluruh dunia ini.

Risiko paling besar berada di bagian barat laut Suriah, yang merupakan wilayah oposisi, dan di bagian timur laut yang dikontrol pasukan Kurdi.

Di dua wilayah tersebut, belum ada alat pendeteksi virus corona guna membatasi persebarannya.

Di Idlib, Suriah bagian barat laut, sekitar 900.000 orang tinggal di kamp-kamp sementara yang penuh sesak, di mana kebersihan dan social distancing (menjaga jarak sosial) tidak memungkinkan untuk diterapkan.

Meski wilayah itu kini bisa sedikit bernafas lega dengan adanya perjanjian gencatan senjata, namun serangan membabi buta rezim Suriah beserta Rusia sebelumnya telah membuat 61 fasilitas medis di sana tak bisa beroperasi lagi.

Obat-obatan, perlengkapan kesehatan, dan ruang rawat tak lagi memadai.

“Di Idlib, ketika rekan kami bertanya kepada para pengungsi Suriah tentang persiapan menghadapi virus corona, mereka hanya tertawa,” kata Sonia Khush, Direktur Save the Children di Suriah.

“Mereka berusaha mencari tempat bernaung, kebanyakan dari mereka terpaksa tinggal di tanah lapang. Prioritas utama mereka adalah tempat tinggal dan jeriken untuk tempat menampung air. Virus corona tak menjadi kekhawatiran mereka. Untuk memenuhi kebutuhan dasar saja, mereka masih kesusahan.”

Di bagian timur laut Suriah, penguasa Kurdish menyediakan 150 ventilator (alat bantu pernafasan) bagi para pasien yang didiagnosa terkena virus corona.

Mulai Senin (23/3/2020), di wilayah tersebut akan diberlakukan “lockdown”, dengan arus keluar masuk antar kota ditutup; hanya pasar serta fasilitas kesehatan yang diizinkan tetap beroperasi.

Kebijakan serupa diberlakukan di wilayah yang dikendalikan rezim mulai, Selasa (24/3/2020), di mana ruang-ruang publik, sekolah, dan masjid ditutup. Sedangkan transportasi antar provinsi dihentikan.

Human Rights Watch (HRW) mendesak rezim untuk memberikan izin bagi PBB masuk ke penjara-penjara Suriah.

Para tahanan di sana tak mendapat makanan, perawatan kesehatan, dan sanitasi yang layak.

Ventilasi yang terbatas dan ruang-ruang yang sempit membuat mereka sangat rentan terinfeksi wabah virus corona. (The Guardian)

 

 

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Desak Yunani Berikan Suaka untuk Muhajirin, HRW: Ratusan Orang Diangkut ke Kamp Tertutup di Athena
Jaksa Zionis Tolak Penangguhan Penahanan Syaikh Raed Salah »