Sistem Kesehatan Hancur Akibat Perang, Wilayah Barat Laut Suriah Rentan Dilanda Wabah Covid-19

25 March 2020, 11:25.
Anggota kelompok pertahanan sipil Suriah, White Helmets, mulai melakukan aktivitas desinfeksi menangkal coronavirus di Idlib [Anadolu Agency]

Anggota kelompok pertahanan sipil Suriah, White Helmets, mulai melakukan aktivitas desinfeksi menangkal coronavirus di Idlib [Anadolu Agency]

IDLIB, SURIAH (Al Jazeera) – Warga Suriah saling berebut membeli makanan dan bahan bakar, setelah pada hari Senin (23/3/2020) pemerintah mengumumkan kasus infeksi virus corona yang pertama di negara tersebut.

Warga khawatir, kebijakan lebih ketat segera diberlakukan pemerintah sebagai respons atas temuan kasus tersebut.

Di hari yang sama dengan pengumuman tersebut, WHO berjanji bahwa uji tes virus corona di Suriah bagian barat laut akan dilakukan mulai beberapa hari ke depan; sebagai antisipasi agar wabah tersebut tidak menyebar ke kamp pengungsian yang telah penuh sesak di sana.

“Sekira 300 perlengkapan untuk mendeteksi virus corona akan dikirim ke Kota Idlib pada hari Rabu, dan tes akan dimulai segera setelahnya,” kata Hedinn Halldorsson, juru bicara WHO.

Setelah itu, 2.000 alat uji tes lainnya akan kembali dikirim.

Sampai saat ini, tiga kasus terduga corona di wilayah itu telah dinyatakan negatif melalui hasil uji sampel yang dikirim ke Turki.

Namun menurut Halldorsson, kekhawatiran tak hilang begitu saja.

“WHO sangat mengkhawatirkan kemungkinan dampak yang terjadi jika Covid-19 telah menyebar sampai ke wilayah (Suriah) barat laut tersebut,” jelasnya.

Kepada AFP ia menerangkan; “Orang-orang yang mengungsi (di sana) hidup dalam kondisi yang sangat rentan terkena gangguan pernafasan”.

Hal ini dikarenakan kondisi yang penuh sesak, juga tekanan fisik dan mental, serta sangat minimnya ketersediaan makanan, air bersih, dan tempat tinggal yang layak.

“Tiga rumah sakit di barat laut Suriah telah dimodifikasi sebagai ruang isolasi yang dilengkapi dengan ventilator (alat bantu pernafasan),” kata juru bicara WHO tersebut.

Lebih dari 1.000 tenaga medis telah dimobilisasi berikut pengiriman alat perlindungan diri (APD) yang terdiri dari 10.000 masker operasi dan 500 masker respirator; yang dijadwalkan tiba dalam pekan ini.

Bersiap untuk Penutupan yang Lebih Luas

Kekhawatiran akan nasib para pengungsi Suriah meningkat seiring ditemukannya kasus pertama virus corona di negara tersebut.

Warga saling antre di depan toko grosir, bank, dan SPBU yang berada di seantero ibukota Suriah, Damaskus, karena khawatir akan diberlakukannya penutupan yang lebih luas.

Rezim telah menutup restoran-restoran, kafe, dan tempat bisnis lainnya, serta menghentikan layanan transportasi umum.

Perbatasan dengan Libanon dan Yordania ditutup. Bandara Internasional Damaskus pun meniadakan penerbangan komersial.

Koran-koran milik pemerintah telah mengumumkan melalui cetakan terakhirnya bahwa setelah ini mereka hanya membuat berita versi online.

Suriah juga sudah menutup hubungan dengan Iran, yang merupakan sekutu utama selama perang ini.

Hancur Akibat Perang

Sistem kesehatan Suriah telah banyak hancur akibat perang 9 tahun yang menyebabkan jutaan warganya mengungsi dan kehilangan hartanya.

Rumah sakit dan klinik kesehatan di seantero negeri sudah lumpuh atau tak lagi beroperasi.

Rezim diktator Suriah pun terancam sanksi berat internasional atas kejahatan perangnya ini.

Kebanyakan orang yang terinfeksi virus corona hanya menderita gejala ringan dan pulih kembali dalam hitungan minggu.

Namun yang membahayakan adalah sangat mudahnya virus ini menular dan rentannya para lansia, orang yang memiliki riwayat penyakit berat, serta orang-orang dengan imunitas rendah mengalami gejala berat jika terkena virus tersebut.

Orang bisa saja membawa dan menyebarkan virus ini tanpa disadari karena dirinya tidak merasakan gejala apapun.

Ratusan ribu orang di seluruh dunia telah terinfeksi virus ini, dan lebih dari 15.000 orang meninggal dunia. (Aljazeera)

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Dirikan Fondasi Toko, Warga Budha Rakhine Serobot Tanah Warga Rohingya
Fokus Perangi Covid-19, PBB Serukan Pembebasan Tahanan dan Gencatan Senjata Total di Suriah »