Di Tengah Kondisi yang Keras, Para Bocah Muhajirin Bertahan dan Berjuang di Perbatasan Eropa

25 March 2020, 18:53.
Anak-anak muhajirin masih menunggu izin Yunani untuk melintasi perbatasan, di dekat perbatasan Yunani di Provinsi Edirne, Turki, Selasa, 24 Maret 2020. Foto: AA

Anak-anak muhajirin masih menunggu izin Yunani untuk melintasi perbatasan, di dekat perbatasan Yunani di Provinsi Edirne, Turki, Selasa, 24 Maret 2020. Foto: AA

EDIRNE, TURKI (Daily Sabah) – Selama 26 hari terakhir, ribuan keluarga muhajirin masih terdampar di perbatasan Turki-Yunani, dengan harapan besar bisa memasuki Eropa.

Namun penantian panjang nan menyiksa itu telah berdampak pada anak-anak.

Di antara kenyataan pahit kehidupan sehari-hari, para bocah harus “berani” menghadapi rentetan tabung gas air mata yang ditembakkan oleh pasukan perbatasan Yunani ke arah mereka.

Cuaca dingin, ditambah hujan sporadis, seringkali membuat mereka tak bisa beristirahat; karena tenda sering terisi air hujan.

Sepanjang hari, anak-anak terlihat berkeliaran di sekitar kamp, mencoba menciptakan permainan dengan apa pun yang mereka dapat temukan.

Untuk saat ini, teman bermain terbaik yang mereka miliki adalah para pasukan keamanan, polisi, atau pejabat pemerintah yang ditempatkan di kamp-kamp dengan tugas resmi.

Meskipun ada beberapa peralatan yang tersedia bagi anak-anak untuk bermain, seperti ayunan dan bola kaki, namun tak cukup memberikan hiburan sepanjang hari.

Anak-anak pada umumnya berkeliaran di sekitar dan menciptakan permainan imajiner untuk melewati masa-masa sulit.

Sayangnya, kecemasan dan rasa takut di wajah polos mereka benar-benar terlihat; mereka tampaknya sangat menyadari keadaan buruk yang menimpa keluarga mereka.

Kegubernuran Edirne, Otoritas Imigrasi, Otoritas Bencana dan Darurat Turki (AFAD), Bulan Sabit Merah Turki, dan organisasi sipil lainnya bergerak memberikan makanan dan persediaan dasar lainnya kepada para muhajirin.

Dan dari waktu ke waktu, mereka menawarkan permen untuk anak-anak, guna membangkitkan semangat para bocah tersebut.

Saat ini Turki menampung sekitar 3,7 juta muhajirin Suriah, lebih dari negara lain mana pun di dunia.

Sementara itu, akibat serangan yang tak henti-hentinya terhadap warga sipil di Idlib, Suriah, 1 juta pengungsi baru-baru ini bergerak ke perbatasan Turki, yang menurut Ankara tak lagi bisa ditampung.

Bulan lalu, Turki membuka perbatasannya ke Eropa untuk para muhajirin. Turki mengatakan Uni Eropa gagal memenuhi komitmennya dalam kesepakatan pengungsi 2016. (Daily Sabah)

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Rentetan Peperangan Hancurkan Kesehatan Mental Anak-anak Yaman
Desak Perbaikan Upaya Perangi Covid-19, BROUK: Bongkar Pagar Pembatas dan Cabut Blokir Internet! »