Populer di Myanmar, Facebook Jadi Sarang Rasisme dan Ujaran Kebencian

21 June 2020, 18:34.
Sumber: Reuters/Soe Zeya Tun

Sumber: Reuters/Soe Zeya Tun

(REUTERS) – Bagi sebagian besar masyarakat Myanmar, Facebook merupakan internet itu sendiri. Ia sangat dominan sebagai situs yang paling sering digunakan di sana.

Sebelumnya, pada tahun 2012, Myanmar masih menjadi salah satu negara yang warganya belum banyak mengenal internet.

Menurut International Telecommunication Union (badan milik PBB), hanya ada 1,1 persen populasi warganya yang menggunakan internet, dan masih sedikit di antara mereka yang mempunyai ponsel kala itu.

Hal ini dikarenakan junta militer Myanmar yang telah berkuasa selama puluhan tahun berupaya untuk tetap mengisolir warganya dari dunia luar.

Namun hal itu mulai berubah pada tahun 2013, ketika militer memberi kekuasaan lebih kepada pemerintahan sipil Myanmar. Aturan pertelekomunikasian kemudian dirombak sehingga perusahaan telekomunikasi milik negara tak lagi mendominasi.

Masuknya perusahaan telekomunikasi asing dari Norwegia dan Qatar membuat harga kartu SIM ponsel terjun jauh dari $200 menjadi $2 saja. Masyarakat Myanmar pun berbondong-bondong membelinya.

Hingga pada tahun 2016, menurut GSMA Intelligence, hampir separuh warga Myanmar telah memiliki ponsel yang membuat mereka bisa mengakses internet dan terkoneksi satu sama lain melaluinya.

Satu aplikasi menjadi sangat viral di tengah-tengah masyarakat Myanmar: Facebook. Bagi mereka, Facebook merupakan satu sarana lengkap untuk berkomunikasi dengan sesama, memperoleh berita terkini, sekaligus mencari konten-konten hiburan.

Aplikasi tersebut sekaligus merupakan simbol status di masyarakat, kata Chris Tun, mantan konsultan Deloitte.

“Jika kamu tidak menggunakan Facebook, berarti kamu ketinggalan zaman,” jelasnya, “Tak terkecuali nenek-nenek, semua orang aktif di Facebook.”

Untuk menarik minat konsumen, para penyedia jaringan seluler di Myanmar pun menawarkan promosi berupa: gratis menggunakan Facebook tanpa memerlukan kuota internet.

“Facebook seharusnya mengirimkan bunga (sebagai bentuk terimakasih), karena kami yang membuat aplikasi tersebut sedemikian viralnya,” kata Lars Erik Tellman, mantan pimpinan eksekutif Telenor Myanmar, salah satu anak perusahaan telekomunikasi dari Norwegia

“Ini sepenuhnya merupakan inisiatif kami. Dan hal tersebut sangat populer ketika itu,” jelasnya.

Reuters melaporkan, pada tahun 2014 ada 1,2 juta pengguna Facebook di Myanmar. Setahun berikutnya meningkat menjadi 7,3 juta orang dan terus bertambah hingga pada tahun 2018 terdapat 18 juta orang pengguna Facebook.

Namun perkembangan teknologi komunikasi di Myanmar ini tak sepenuhnya menjadi pertanda baik.

Facebook yang begitu dominan itu justru menjadi lahan subur tumbuhnya ujaran kebencian rasisme, khususnya terhadap etnis Muslim minoritas Rohingya. Para ahli dan aktivis kemanusiaan pun telah memperingatkannya langsung kepada Facebook selama bertahun-tahun.

Matt Schissler, seorang kandidat doktor antropologi di Universitas Michigan mengatakan bahwa antara bulan Maret sampai Desember 2014, ia telah berulang kali memberitahu Facebook tentang bagaimana aplikasi tersebut disalahgunakan untuk menyebar kebencian dan berita palsu di Myanmar.

Para aktivis kemanusiaan juga mengkritik sistem pelaporan konten berbahaya di Facebook yang harus melalui terlalu banyak tahapan.

Salah satu contohnya adalah ketika mereka melaporkan sebuah unggahan foto mengenai petugas kemanusiaan yang sedang bekerja di negara bagian Rakhine, wilayah di mana warga Rohingya tinggal.

Akun yang membagikan unggahan itu mendeskripsikan sang petugas kemanusiaan sebagai “seorang pengkhianat bangsa” dan Reuters melaporkan bahwa sudah 229 kali unggahan tersebut dibagikan oleh pengguna Facebook lainnya.

Salah seorang aktivis berusaha melaporkan hal tersebut sebagai ujaran kebencian. Setelah itu Facebook justru menjawab, “Kami telah meninjau foto yang kamu laporkan mengandung ujaran ataupun simbol kebencian, namun kami tidak menganggapnya melanggar aturan komunitas kami.”

Setelah protes berulang kali dari para aktivis selama enam pekan, baru pada akhirnya seorang pegawai Facebook menjelaskan langsung mengapa laporan mereka ditolak. Unggahan tersebut dihapus di kemudian hari.

“Mereka (Facebook) telah diwanti-wanti berulang kali,” kata David Madden, seorang pengusaha dalam bidang teknologi di Myanmar.

Ia sendiri telah menjelaskan langsung kepada Facebook dalam pertemuan di California pada tahun 2015 bahwa media sosial tersebut dieksploitasi pihak-pihak tertentu untuk menebar kebencian. Belasan karyawan Facebook hadir dalam pertemuan itu, termasuk Mia Garlick, yang kini menjabat sebagai Direktur Facebook untuk wilayah Asia Pasifik.

“Inti keseluruhan presentasi pada saat itu ialah untuk membunyikan tanda bahaya, untuk menunjukkan dengan gamblang bagaimana Facebook beroperasi dan bukti bahwa ia telah disalahgunakan,” jelas Madden.

Sayangnya, ia melanjutkan, “Mereka tidak segera mengambil langkah yang harus dilakukan.”

Tak berhenti di situ, bertahun-tahun setelahnya Madden terus berkomunikasi dengan Facebook baik melalui email, grup Facebook, maupun pertemuan langsung untuk menjelaskan bahwa sistem yang digunakan mereka untuk menghilangkan konten berbahaya sudah tidak efektif.

“Masalah utamanya ialah mekanisme mereka untuk menghapus ujaran kebencian terlalu memakan waktu lama,” kata Madden, “Sebelum ujaran tersebut benar-benar menimbulkan efek buruk di dunia nyata, sistem (Facebook) tersebut tidak akan bekerja.”

Madden juga menerangkan bahwa Facebook terlalu bergantung kepada para aktivis dan relawan untuk melaporkan konten-konten berbahaya.

Kembali pada tahun 2014, tak hanya pemerhati teknologi yang membunyikan peringatan tanda bahaya ini. Bahkan pemerintah Myanmar pun ikut melakukannya.

Pada bulan Juli di tahun itu, sebuah kerusuhan terjadi di pusat kota Mandalay setelah beredar berita bohong di Facebook bahwa seorang Muslim memperkosa seorang wanita Buddha. Dalam kekacauan tersebut, seorang warga Buddha dan satu warga Muslim terbunuh.

Pemerintah Myanmar melaporkan hal ini kepada Facebook. Namun karena tak ada respon yang diinginkan, maka pemerintah memblokir media sosial tersebut setelahnya.

Chris Tun, mantan konsultan Deloitte yang pada saat itu menjadi penghubung antara pemerintah Myanmar dengan Facebook menceritakan, “Apa yang Facebook janjikan adalah jika kalian menemukan berita palsu, kalian bisa melaporkannya melalui email. Lalu mereka akan segera menindaklanjuti – setelah melakukan verifikasi sendiri terhadap laporan tersebut.”

Kemudian, pemerintah Myanmar mulai melaporkan beberapa kasus kepada Facebook. Pada saat itu Tun menyadari bahwa Facebook memiliki kesulitan dalam menerjemahkan teks Burma.

“Jujur saja, Facebook sama sekali tak bisa membaca konten-konten beraksara Burma,” jelasnya, “Kami harus menerjemahkannya ke dalam bahasa Inggris terlebih dahulu untuk mereka.”

Kesulitan Facebook ini terlihat jelas dalam fitur baru yang membuat penggunanya bisa menerjemahkan konten berbahasa Burma ke dalam bahasa Inggris.

Sebuah unggahan dalam bahasa Burma yang mengatakan, “Bunuh semua Rohingya yang kalian temui di Myanmar; tak satupun dari mereka boleh dibiarkan hidup.”

Diterjemahkan Facebook ke dalam bahasa Inggris yang artinya, “Semestinya aku tidak boleh memiliki sebuah pelangi di Myanmar.”

Dalam sebuah jawabannya, Facebook mengatakan, “Tim penerjemah kami sedang merancang cara baru untuk menjamin bahwa (fitur) terjemahan tersebut bisa akurat.”

Berdasarkan pesan dari para pegawai Facebook, pada tahun 2014 perusahaan raksasa di bidang media sosial itu hanya memiliki satu orang karyawan untuk mengawasi konten-konten berbahasa Burma.

Setahun berikutnya, karyawan yang bisa berbahasa Burma bertambah menjadi sekira empat orang. Mereka bertugas untuk mengawasi 7,3 juta pengguna Facebook aktif di Myanmar.

Sementara Mia Garlick, Direktur Facebook wilayah Asia Pasifik mengatakan kepada Reuters, “Kami terlalu lambat merespon kekhawatiran yang disampaikan masyarakat sipil, para akademisi, serta kelompok-kelompok lain di Myanmar. Kami tak ingin Facebook digunakan untuk menyebar kebencian dan menimbulkan kekerasan. Hal ini memang terjadi di seluruh dunia, dan benar-benar terjadi khususnya di Myanmar; di mana layanan kami digunakan untuk melipatgandakan kebencian dan kekerasan terhadap warga Rohingya.” (Reuters)

 

 

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Serdadu Zionis Bubarkan Unjuk Rasa Secara Brutal, Puluhan Warga Palestina Terluka
Serdadu Zionis Tangkap Murabith dan Lima Wanita Palestina di Masjid Al-Aqsha »