Tak Hanya Facebook, Twitter Juga Jadi Kubangan Rasisme dan Kebencian terhadap Muslim Rohingya

23 June 2020, 08:44.
Sumber: Reuters/Soe Zeya Tun

Sumber: Reuters/Soe Zeya Tun

(REUTERS) – Tidak hanya Facebook yang digunakan untuk menyebar ujaran kebencian terhadap Muslim Rohingya. Tapi juga Twitter.

Di Myanmar, popularitas Twitter memang masih kalah jauh dibanding Facebook yang begitu mendominasi.

Namun setelah terjadi serangan brutal militer Myanmar terhadap etnis minoritas Rohingya pada bulan Agustus 2017, ratusan akun Twitter baru tiba-tiba bermunculan di negara Asia Tenggara tersebut.

Sebagian besar cuitan akun-akun tersebut merupakan kontra-narasi atas penderitaan warga Rohingya yang diungkap media dan para aktivis kemanusiaan.

Sebagai contoh, ratusan akun baru itu berusaha menjelaskan bahwa etnis Rohingya merupakan imigran ilegal dari Bangladesh.

Seringkali cuitan-cuitan tersebut ditulis dengan bahasa Inggris yang salah, sebagaimana dikutip dari Reuters:

“There is no Rohingya in Myanmar they are only illegal immigrant and terrorists.”

“They are Originally Bangalis, Illegally migrants and Land Robbers”

Twitter sendiri melalui peraturan komunitasnya telah melarang segala bentuk serangan terhadap sekelompok orang berdasarkan identitas ras, etnis, maupun kebangsaan.

Matthew Smith, salah seorang pendiri organisasi kemanusiaan Fortify Rights, mengatakan bahwa setelah serangan brutal terhadap etnis Rohingya pada bulan Agustus 2017, ia sadar banyak akun mencurigakan mulai mengikutinya di Twitter.

Reuters menganalisa akun-akun tersebut menggunakan layanan ExportTweet.com dan Mentionmapp Analytics.

Hasilnya menunjukkan bahwa lebih dari 1.200 akun itu baru dibuat antara tanggal 27 sampai 31 Agustus 2017, ketika puncak serangan brutal terhadap etnis Rohingya.

Dari 564 di antaranya, analisa lebih lanjut menunjukkan bahwa sebanyak 349 akun atau 62 persennya anti terhadap Muslim Rohingya. Hal ini disampaikan John Gray, salah seorang penemu Mentionmapp.

Analisa Mentionmapp juga menjelaskan bahwa akun-akun tersebut hanya aktif dalam jangka waktu singkat. Sekira 31 persen dari 1.239 akun mencurigakan tersebut berhenti mengunggah cuitan pada akhir bulan September 2017. (Reuters)

 

 

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Malaysia Tolak Rencana Zionis Caplok Tanah Palestina
Aktivis Kemanusiaan: “Pemblokiran Internet di Myanmar Terlama di Dunia” »