Bertahun-tahun Dikelilingi Kematian, Ini Ungkapan Perasaan Pemuda Suriah yang Rindukan Kedamaian

25 June 2020, 19:15.
Sumber: https://whoiam1.home.blog/

Sumber: https://whoiam1.home.blog/

Kawan-kawan sekalian.

Mungkin beberapa dari Anda bertanya-tanya siapa saya, dan bagaimana kehidupan terkepung di Douma, di Ghouta Timur, Damaskus.

Saya berusia 15 tahun ketika revolusi Suriah pecah di pedesaan Daraa, Homs, dan Damaskus.

Orang-orang begitu bersemangat berunjuk rasa, mendukung Daraa, dan menentang rezim Assad. Setiap hari ada unjuk rasa di berbagai wilayah kota.

Serdadu keamanan rezim menyerang kami dan menahan mereka yang berhasil ditangkap.

Secara khusus setiap hari Jum’at ada unjuk rasa yang sangat besar di Masjid besar di Douma. Para pengunjuk rasa dibubarkan. Banyak yang terluka, bahkan dibunuh, meskipun unjuk rasa itu berlangsung damai.

Beberapa bulan kemudian, pembelotan dimulai di barisan pasukan diktator Assad. Mereka menolak tindakan rezim untuk membunuh pengunjuk rasa. Orang-orang bersenjata mulai melindungi pengunjuk rasa dari serangan serdadu Assad.

Sementara itu, keputusan dibuat oleh rezim Assad untuk membebaskan tahanan politik. Rezim Assad tahu betul bahwa mereka akan melawan rezim secara militer.

Rezim segera menjadi lebih brutal. Ketika protes menyebar luas, rezim membunuh ratusan pengunjuk rasa. Akibatnya, beberapa faksi bersenjata dibentuk di Douma, yang mendapat dukungan rakyat.

Beberapa faksi dengan cepat dibentuk untuk berperang melawan rezim setelah ratusan kematian dalam unjuk rasa. Pada setiap unjuk rasa, ada dukungan umum untuk FSA (Free Syirian Army) atau Tentara Pembebasan Suriah.

Situasi di kota berubah menjadi mengerikan dan institusi berhenti bekerja. Pada pertengahan 2012, aliran listrik kota sepenuhnya terputus. Rezim Assad telah memutus aliran listrik.

Jasad Ayah Dibakar dan Dipotong

Suatu hari, ketika sedang bersama ayah di ladang, saya menyaksikan sebuah helikopter terbang dan menembaki kawasan pertanian di pinggiran kota Douma.

Saya begitu gemetar dan ketakutan saat itu. Keesokan harinya, kami mendengar dari orang-orang bahwa serangan terjadi di markas besar faksi Tentara Pembebasan Suriah. Saya tak akan pernah melupakan peristiwa malam itu.

Setelah itu, penembakan terus-menerus dilakukan pesawat tempur rezim terhadap markas FSA maupun pertemuan warga sipil.

Pada Desember 2012, saya kehilangan ayah saya; ketika dia pergi untuk membeli beberapa barang di kota Rihan, berdekatan dengan kota Douma, di dekat ladang kami. Kami terus mencarinya, namun tak kunjung menemukannya.

Setelah FSA membersihkan daerah milisi Assad, kami memasuki al-Rihan untuk mencari ayah saya. Akhirnya, kami menemukannya telah terbunuh oleh pasukan rezim. Tubuhnya dibakar dan kakinya dipotong.

Serdadu Assad yang membunuh ayah saya akhirnya tewas di tangan FSA. FSA kemudian menemukan video di ponsel serdadu Assad itu, berhari-hari pasca kematian ayah.

Dalam video itu, serdadu berkata; “Lihat teroris itu. Kami telah membunuhnya!”. Rekaman itu begitu menyakitkan. Saat itu saya tidak bisa melihatnya.

Setelah ayah terbunuh, saya bekerja di ladang merawat sapi warisan ayah untuk menafkahi ibu dan adik perempuan saya. Dalam usia 16 tahun, saya terlalu muda untuk pekerjaan ini. Sepupu saya pun datang untuk membantu di ladang. Tiga bulan kemudian, dia terbunuh oleh rudal. Kepalanya hancur.

Guna merebut daerah luas Ghouta Timur dari FSA, serdadu rezim mulai memperketat pengepungan di Ghouta Timur sebagai satu-satunya senjata untuk menghentikan kemajuan militer yang dicapai FSA.

Orang-orang tidak merasakan pengepungan pada awalnya. Namun hampir tiga bulan kemudian, kami mulai kehabisan tepung dan bahan makanan pokok. Harga makanan naik tajam dan orang-orang tidak mampu membayar harga tinggi.

Kami tidak miskin. Tetapi kami, dan semua orang di Ghouta, harus makan pakan ternak dan jelai untuk mengatasi kelaparan, karena hanya itu yang tersedia. Sungguh menyedihkan melihat orang mencari sesuatu untuk dimakan di tempat sampah.

Seorang bocah perempuan meminta makanan di Douma, Februari 2018.

Seorang bocah perempuan meminta makanan di Douma, Februari 2018.

Aroma Kematian Mengepung

Pada saat yang sama, aroma kematian ada di mana-mana. Saya merasa tidak berdaya ketika saya melihat luka di depan mata saya dan tak bisa menghentikannya.

Keponakan saya baru berusia 6 tahun ketika dia kehilangan kaki akibat penembakan bom curah di sekolah. Sedangkan sepupunya terbunuh. Saat itu mereka sedang bergandengan tangan dari area sekolah menuju rumah.

Pada hari pembantaian di sekolah, hampir 30 anak tewas. Keponakan saya masih menderita sampai saat ini.

Saya melihat, setiap keluarga paling tidak mengalami satu tragedi.

FSA mencoba untuk maju ke arah pasukan Assad dari sisi timur daerah Ghouta Timur – tetapi tidak berhasil. Situasi pun memburuk; kemiskinan dan kelaparan meningkat drastis.

Saat itu tidak ada organisasi kemanusiaan atau perawatan medis yang lengkap yang mampu mengatasi dampak pemboman besar-besaran pesawat tempur rezim.

Setiap hari orang-orang telantar dari suatu daerah ke daerah lain, karena intensitas pengeboman. Begitulah cara kami hidup selama 6 tahun.

Tidak ada bahan bakar saat itu. Kami harus mengekstraksi atau mengurai bahan bakar dengan membakar plastik dan menyulingnya di pembakar lokal.

Proses ini menyebabkan banyak asap, juga menyebabkan kematian banyak orang. Pasalnya, plastik yang larut dalam ketel menyebabkan tekanan tinggi, sehingga kadang-kadang ketel meledak. Harga per liter bensin plastik adalah sekira $5.

Setidaknya kami bisa bertahan, meskipun kondisinya begitu mengerikan.

Penyulingan bahan bakar dari sampah plastik, Douma, 2017. Foto: Reuters

Penyulingan bahan bakar dari sampah plastik, Douma, 2017. Foto: Reuters

Serangan Tanpa Henti

Kematian selalu ada di sekitar kami. Dalam setiap serangan udara, kami mendengar teriakan di sekitarnya.

Saya ingat pada bulan Maret 2018, di mana penembakan tanpa henti terjadi di depan pintu tempat penampungan kami.

Saya melihat helikopter melintas di atas saya, lalu saya melihat sesuatu yang jatuh.

Saya lalu berteriak sekuat tenaga kepada semua orang di sana; “pergi berlindung!” Lima detik setelah saya berada di tengah tangga, tekanan ledakan mendorong saya terhempas ke tanah.

Ledakan itu begitu dekat, dan saya sempat mengambil foto serangan udara itu.

Orang-orang hanya memiliki dua pilihan; tinggal di tempat penampungan, atau keluar bekerja di bawah ancaman penembakan untuk mendapatkan penghasilan tidak lebih dari $2 per hari sebagai buruh tani.

Dengan begitu terbatasnya kesempatan, bekerja di ladang adalah salah satu dari sedikit pekerjaan yang tersedia.

Saya kehilangan begitu banyak orang yang saya cintai. Setiap hari saya mendengar berita kematian seorang teman.

Kematian yang normal menjadi hal yang aneh dan asing. Dan saya masih selamat dari kematian setelah puluhan kali terancam. Sungguh merupakan keajaiban.

Saya tidak pernah berpikir saya akan meninggalkan Suriah, tetapi saya dipaksa untuk pergi. Lima bulan sebelum saya meninggalkan Douma ke utara Suriah, saya bekerja sebagai aktivis media; dimana saya tidak bergabung dengan media apa pun.

Saya adalah seorang aktivis independen yang sedikit bisa berbicara bahasa Inggris. Tetapi dengan latihan dan pembelajaran, saya mulai menguasai bahasa Inggris dan saya mulai berbagi di akun Twitter saya pada awal tahun 2018. Saya tidak membayangkan ada orang asing yang peduli dengan apa yang terjadi di Suriah.

Saya berbagi agar lebih banyak orang memahami apa yang terjadi pada kami di Suriah. Langkah itu memang terlambat. Tetapi saya melaporkan operasi baru-baru ini di kota Douma pada bulan Maret, sampai proses evakuasi; di tengah akses internet yang sangat buruk dan penuh gangguan.

Tidak ada kehidupan bagi saya. Hanya senjata, api, dan ledakan. Saya berharap saya bisa pergi secepat mungkin. Saya bosan dengan situasi ini.

Meskipun sangat sulit untuk meninggalkan keluarga di belakang saya, saya benar-benar tidak punya pilihan lain. Saya memutuskan untuk pergi ke Prancis.

Hari terakhir di Douma, 2018.

Hari terakhir di Douma, 2018.

Evakuasi dilakukan pada 4 April 2018 ke kota Azaz di pedesaan utara Aleppo. Orang-orang di sana menerima, tetapi saya tidak ingin menunggu lagi. Saya mencoba menyeberang ke Turki melalui rute ilegal, tetapi saya tidak berhasil. Saya ditangkap oleh penjaga perbatasan Turki.

Segera setelah memasuki wilayah Turki, saya mengajukan permintaan perlindungan ke Konsulat Prancis di Istanbul. Namun permintaan saya ditolak.

Saya merasa sangat terkejut dan tak berdaya. Walaupun telah mengalami semua tragedi ini, saya masih tidak memiliki hak untuk hidup normal secara damai, jauh dari atmosfer perang.

Saya bahkan tidak punya hak untuk mendaftar di bawah sistem perlindungan sementara di Istanbul.

Tetapi saya menemukan penyelundup yang membawa orang-orang Suriah untuk mendaftar di berbagai daerah di Turki. Ongkosnya memang mahal, tetapi lebih baik daripada tinggal tanpa dokumen.

Saya bekerja tanpa izin di pabrik pakaian di Istanbul. Saya tidak punya hak untuk bekerja atau tinggal di kota itu. Saya berharap bisa meninggalkan Turki setelah saya bertemu James Le Mesurier sebulan yang lalu, dia adalah pria yang hebat dan berjanji untuk membantu saya.

Kontak terakhir saya dengannya adalah dua hari sebelum dia meninggal.

Satu-satunya pilihan saya saat ini adalah menempuh jalur laut. Saya melihat sedikit cahaya, tetapi saya tidak tahu apakah saya akan berhasil mendapatkannya.

Saya merencanakan perjalanan saya untuk mencapai kebebasan. Saya tahu risikonya, tetapi saya ingin hidup seperti Anda, berada dalam kehidupan normal.

Sungguh teramat sulit menjadi seperti tahanan dan sendirian. Saya sangat berterima kasih kepada orang-orang yang bersedia membantu saya mencapai impian.

Pesan saya untuk semua, tolong jangan menyerah. Berjuanglah untuk kebebasan dan hak asasi manusia. Terima kasih banyak atas dukungan tanpa syarat dan persahabatan Anda.

Ahmad

Catatan: Hampir empat bulan terakhir saya tinggal di ruang bawah tanah yang gelap, bersama banyak anak-anak. Saya tidak menunjukkan identitas saya karena alasan keamanan, dan melindungi keluarga saya yang masih berada di Suriah. Jika suatu hari Anda mengenali saya sepenuhnya, itu akan terjadi pada hari jatuhnya diktator Assad.

Sumber: https://whoiam1.home.blog/

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Rabu Malam, Serdadu Zionis Lukai Puluhan Warga Palestina di Baitul Maqdis
Nelayan Aceh Selamatkan 94 Muhajirin Rohingya yang Terombang-ambing di Lautan »