Apresiasi Warga Aceh, Amnesty International: “Muhajirin Rohingya Membutuhkan Perlindungan Jangka Panjang”

27 June 2020, 13:29.
Sumber: Amnesty.org

Sumber: Amnesty.org

JAKARTA (Amnesty.org) – Merespons penyelamatan 94 Muhajirin Rohingya di Aceh Utara, Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia, Usman Hamid, Kamis (25/6/2020) menyampaikan apresiasi.

“Penyelamatan pengungsi Rohingya hari ini merupakan sebuah momen optimisme dan kebersamaan. Merupakan jasa besar dari warga Aceh yang telah bekerja keras dan berani mengambil risiko, sehingga anak-anak, para wanita, dan pria (Rohingya) akhirnya bisa mendarat dengan selamat. Mereka telah menunjukkan rasa kemanusiaan yang terbaik.”

“Pada tahun 2015, ketika datang kapal warga Rohingya yang juga sangat membutuhkan pertolongan dengan ratusan nyawa telah menjadi korban, warga Aceh telah menunjukkan sifat kepemimpinan yang sesungguhnya.”

“Namun kabar menggembirakan ini tidak boleh berhenti di sini saja. Para pengungsi ini memerlukan perlindungan jangka panjang. Setelah semua yang mereka alami dalam perjalanan di lautan, apa yang paling mereka butuhkan sekarang ialah tempat tinggal dan jaminan keamanan.”

“Pemerintah Indonesia harus menyediakan kebutuhan dasar mereka dan tidak boleh dengan alasan apapun menyuruh mereka kembali ke tengah lautan. Bertepatan dengan pertemuan negara-negara ASEAN yang dimulai besok, kisah dramatis hari ini menunjukkan begitu penting dan gentingnya solusi regional untuk mencegah lebih banyak lagi nyawa menjadi korban di lautan.”

Pada hari Rabu (24/6/2020), sebuah perahu yang hampir karam dan berisi 94 Muhajirin Rohingya ditemukan di dekat Pantai Seunuddon, Aceh Utara, oleh nelayan lokal yang kemudian melaporkannya kepada aparat setempat.

Warga Aceh berbondong-bondong mendesak aparat untuk segera menolong mereka.

Di hari berikutnya, para Muhajirin Rohingya tersebut akhirnya dapat mendarat setelah warga Aceh bergerak bahu-membahu dan tim gabungan dikerahkan.

94 orang Muhajirin, yang sebagian besar merupakan anak-anak dan wanita ini, dibawa ke masjid sekitar. Pemerintah sendiri belum menentukan langkah apa yang akan diambil.

Sementara Amnesty International terus berkoordinasi dengan masyarakat lokal dan organisasi kemanusiaan lain untuk membantu mereka.

Hukum internasional mewajibkan setiap negara untuk melindungi hak asasi para pengungsi yang mencari suaka ke wilayahnya.

Setiap negara juga tidak boleh mengembalikan para pengungsi ke tempat di mana mereka rawan terkena persekusi maupun pelanggaran hak asasi lainnya.

Hal ini menjadi dasar fundamental perlindungan internasional bagi para pengungsi untuk secara absolut tidak menyiksa ataupun memperlakukan mereka secara tak manusiawi.

Meski Indonesia bukanlah negara anggota Konvensi Kepengungsian di tahun 1951, namun hukum internasional mengikat semua negara untuk wajib menaatinya.

Deklarasi ASEAN untuk Hak Asasi Manusia juga menekankan hal tersebut.

Ditambah lagi, larangan untuk melakukan pengusiran terhadap para pencari suaka juga tertuang secara jelas di Pasal 13 Perjanjian Internasional tentang Hak Sipil dan Politik, di mana Indonesia merupakan salah satu negara anggota. (Amnesty.org)

 

 

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Pasukan Keamanan Turki Lumpuhkan Tiga Teroris PKK di Wilayah Timur Provinsi Tunceli
Gali Emas dari Buku Emas Baitul Maqdis, Felix Siauw: “Perjuangan Harus Didasari Ilmu yang Benar” »