Dr Nawwaf Takruri: Kembalinya Ayasofya Merupakan Simbol Tauhid, Kewibawaan, dan Kemenangan Siyasah

26 July 2020, 20:35.
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menghadiri shalat Jum’at di Masjid Agung Ayasofya, yang kembali dibuka untuk pelaksanaan ibadah setelah 86 tahun pada 24 Juli 2020 di Istanbul, Turki. (AA)

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menghadiri shalat Jum’at di Masjid Agung Ayasofya, yang kembali dibuka untuk pelaksanaan ibadah setelah 86 tahun pada 24 Juli 2020 di Istanbul, Turki. (AA)

Sahabat Al-Aqsha (YOGYAKARTA) – Untuk pertama kalinya sejak tahun 1934, shalat Jumat kembali digelar di Masjid Agung Ayasofya, Istanbul.

Para jamaah hadir berbondong-bondong dalam jumlah besar, termasuk Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan.

Diperkirakan sebanyak 350.000 orang menghadiri shalat Jum’at pertama dalam 86 tahun; setelah bangunan bersejarah itu dipulihkan statusnya sebagai masjid oleh Dewan Negara yang membatalkan statusnya sebagai museum.

Masjid berkapasitas 1.500 orang – dengan protokol kesehatan – dipenuhi oleh jama’ah.

Sedang ribuan lainnya yang tak mendapat kesempatan masuk, memenuhi sisi luar masjid, jalan raya, hingga jalan setapak di sekitar masjid. Radius 1,6 kilometer dari masjid dipenuhi oleh jamaah.

Di momen yang istimewa ini, Sahabat Al-Aqsha (SA) turut serta menyiarkan secara langsung pelaksanaan shalat Jum’at dari Masjid Ayasofya.

Momen istimewa ini dimoderatori oleh Babeh Dzikrullah Pramudya dan Rais Afif, serta diulas oleh Shofwan Al-Banna, PhD, Ustadz Dr H Mustafa Umar, Lc, MA dan Ustadz Salim A Fillah, mulai pukul 14.00 WIB hingga 19.10 WIB.

Selain kedua penasehat diatas, turut bergabung beberapa relawan yang mewartakan secara langsung dari Istanbul via video converence.

Tayangan ini juga disiarkan ulang oleh beberapa kanal YouTube, seperti ProYou Channel, Masjid Jogokariyan, dan Hidayatullah.

Sebagaimana disampaikan Babeh Dzikrullah, momen ini merupakan momen persatuan yang menyatukan ummat Islam sedunia.

Shofwa Al Banna mengatakan pemulihan Ayasofya merupakan monumen kembalinya ummat ke asalnya, yaitu Al-Quran dan sunnah.

Ketua Perhimpunan Ulama Palestina di Luar Palestina Dr. Nawwaf Takruri mengatakan, kembalinya Ayasofya merupakan kebahagiaan bagi semua muslim, yang patut disyukuri oleh ummat seluruh dunia.

“Bebasnya Ayasofya bukan sekadar menjadi masjid untuk beribadah. Tetapi sebuah simbol tauhid, simbol kewibawaan, dan simbol kemenangan siyasah. Masjid Ayasofya merupakan tempat lahirnya keputusan-keputusan politik tingkat dunia ketika Khilafah Utsmaniyyah memimpin dunia,” ujar Dr Nawwaf.

Ia mengatakan kabar gembira bebasnya Ayasofya memberikan harapan bagi kaum Islam di negeri-negeri dan bangsa yang tertindas saat ini, seperti Palestina, Suriah, Arakan, Kashmir, Iraq, Yaman, hingga Muslim Rohingya.

“Juga kegembiraan bagi rakyat Indonesia, karena mereka berperan selalu menemani orang-orang yang tertindas. Baik secara do’a, keilmuan, informasi, harta, dan mendukung perjuangan. Kabar gembira dari Ayasofia merupakan kabar buruk bagi kaum munafiq dan ulama yang suu’,” ujarnya.

Ustadz Mustafa Umar mengatakan bahwa awal seluruh peradaban Islam dimulai dari masjid, maka semangat masjid itulah yang sangat kita perlukan dan perlu terus dipupuk.

Ustadz Mustafa pun merasa “cemburu” pada orang yang dianugerahi karunia oleh Allah, seperti Presiden Erdogan, namun merendahkan diri di hadapan Allah, bersimpuh, mendengarkan Al-Quran secara khusyu’.

“Ia adalah contoh ketawadhu’an yang perlu diteladani. Meskipun dia besar di hadapan manusia, dia tidak merasa besar, karena apa yang dijalankan adalah kemudahan dan pertolongan Allah Subhaanahu wa Ta’ala”, ujar Dr Mustafa.

Visi Besar Bebaskan Al-Aqsha

Sebelumnya, 12 Juli lalu, Sahabat Al-Aqsha menggelar “syukuran online” pemulihan Ayasofya sebagai masjid. Hadir secara virtual seluruh Pembina SA dan akademisi Dr Khalid El-Awaisi (Direktur Eksekutif IslamicJerusalem Research Academy, Turki).

Saat itu, pembina SA Ustadz Fauzil Adhim pun membacakan puisi gubahannya tentang Ayasofya dan visi besar membebaskan Al-Aqsha.

Lelaki yang Tak Terbeli

Tak berani aku melangkah
gemetar langkah di depannya, meski sedikit lagi sampailah sudah
hanya memandangmu sekejab saja
lalu runtuh hati ini mengingat keringat yang telah jatuh
darah yang telah mengucur
dari para lelaki yang tak terbeli
Al-Fatih yang kepada ‘ulama Rabbani ia tundukkan diri

Gemetar hati mendengar,
meski bukan termasuk tiga yang manusia boleh berpayah-payah
mengkhususkan diri datang untuk beribadah
dibukanya kembali pintumu, Ayasofya, untuk ibadah adalah tanda
dekatnya Rumiyah dan Al-Aqsha merdeka di depan mata
tetapi aku kemudian tunduk diam bertanya,
bagaimana aku dapat menyebut dengan bangga,
sedangkan tak ada yang telah kulakukan untuk keduanya
Futuhat Rumiyah dan Al-Aqsha merdeka

Maka inilah saatnya
semakin bertasbih dan memuji Rabbul ‘Alamin Yang Maha Perkasa
seraya memohon ampunan dan bertaubat kepada-Nya
sebab tak ada tempat untuk berbangga,
sedangkan anak-anak harus dibentuk jiwanya untuk siap
bersunyi-sunyi di jalan perjuangan. (*)

Jamaah melaksanakan shalat Jum'at di dalam Masjid Agung Ayasofya bersama Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan di Istanbul, Turki pada 24 Juli 2020. (AA)

Jamaah melaksanakan shalat Jum’at di dalam Masjid Agung Ayasofya bersama Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan di Istanbul, Turki pada 24 Juli 2020. (AA)

Jamaah melaksanakan shalat Jumat untuk pertama kalinya setelah 86 tahun di luar Masjid Agung Ayasofya pada 24 Juli 2020 di Istanbul, Turki. (AA)

Jamaah melaksanakan shalat Jumat untuk pertama kalinya setelah 86 tahun di luar Masjid Agung Ayasofya pada 24 Juli 2020 di Istanbul, Turki. (AA)

 

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Menjelang Masa Puncak Ibadah Haji, Jamaah Harus Jalani Karantina di Makkah
Sahabat Al-Aqsha, Moslem Charity, dan FDP Salurkan Amanah Masyarakat Indonesia untuk Muhajirin Rohingya »