Ditangkap Rezim di Laut Lepas, Puluhan Warga Rohingya Dikembalikan ke Kamp Rakhine

6 September 2020, 10:38.
Beberapa orang berjalan di Kamp Kyauktalone di Kyaukphyu, Rakhine, 3 Oktober 2019; di mana warga Muslim dipaksa untuk tinggal selama beberapa tahun setelah peristiwa genosida. (AFP)

Beberapa orang berjalan di Kamp Kyauktalone di Kyaukphyu, Rakhine, 3 Oktober 2019; di mana warga Muslim dipaksa untuk tinggal selama beberapa tahun setelah peristiwa genosida. (AFP)

MYANMAR (The Star) – Rezim Myanmar, Sabtu (5/9/2020), mengumumkan bahwa puluhan warga Rohingya telah dipulangkan kembali ke kamp penampungan di negara bagian Rakhine, selepas ditangkap dalam upayanya untuk keluar dari Myanmar.

Sebelumnya, sebanyak 42 Muslim Rohingya – dua di antaranya anak-anak – ditangkap, Kamis (3/9/2020), di lepas pantai Bogale, wilayah Ayeyarwady (Myanmar bagian barat daya), sebagaimana disampaikan kepolisian setempat kepada AFP.

Lalu pada hari Jumat (4/9/2020), puluhan warga Rohingya itu dikirim lagi ke kamp penampungan Kyaukphu di Rakhine (Myanmar bagian utara), menggunakan perahu.

Kyaukphu merupakan wilayah terpencil di mana terdapat lebih dari 1.000 warga Muslim yang ditahan di kamp penampungan sejak terjadinya kerusuhan antar etnis di tahun 2012.

Sebagian besar penduduknya berasal dari etnis Muslim Kaman, yang secara resmi diakui sebagai pribumi oleh Myanmar.

Meski begitu, mereka pun tetap mendapat diskriminasi di negara mayoritas Buddha tersebut.

Warga Rohingya yang ditahan kemudian dibawa ke kamp tersebut.

“Para penduduk setempat tidak diberi pilihan lain kecuali menerimanya,” kata seorang warga lokal yang meminta dirahasiakan identitasnya.

“Mereka telah mengarungi perjalanan tanpa makan maupun istirahat… sehingga kami setuju untuk menerima mereka.Kami sendiri sudah berada dalam masalah yang besar – mereka (aparat Myanmar) hanya menambah masalah lagi bagi kami,” ujarnya.

Etnis minoritas Rohingya telah puluhan tahun dipersekusi. Mereka dianggap imigran gelap, sehingga tak diberikan haknya sebagai warga negara. Bahkan untuk bepergian pun mereka dilarang.

Saat ini, ada ratusan warga Rohingya ditahan karena berupaya meninggalkan Rakhine untuk mencari suaka di negara lain. Mereka mendapat hukuman berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun di balik penjara.

Burma Human Rights Network (BHRN) dalam laporan berjudul “Nowhere to Run in Burma: Rohingya trapped between an open-air prison and jail” pada pekan lalu menyeru kepada dunia internasional untuk menekan pemerintah Myanmar lebih jauh lagi.

Direktur Eksekutif BHRN Kyaw Win juga menentang aturan hukum Myanmar yang digunakan sebagai senjata untuk menyerang etnis dan kelompok minoritas pribumi yang telah hidup di sana sejak ratusan tahun yang lalu. (The Star)

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Jajaki Kemungkinan Pindah, Perwakilan Muhajirin Rohingya Kunjungi Pulau Terpencil Bhashan Char
Syaikh Ikrimah Sabri: “Penjajah ‘Israel’ Tunggangi Krisis Covid-19 untuk Tutup Masjid Al-Aqsha” »