Perjanjian Normalisasi UEA-‘Israel’ Restui Orang Yahudi Beraktivitas di Masjid Al-Aqsha

8 September 2020, 17:27.
Foto: Ahmad Gharabli/AFP/Getty Images

Foto: Ahmad Gharabli/AFP/Getty Images

PALESTINA (Middle East Monitor) – Sebuah pusat studi ‘Israel’, yang fokus meneliti urusan Baitul Maqdis, menyimpulkan bahwa perjanjian normalisasi” ‘Israel’-UEA menimbulkan konsekuensi atas tempat-tempat suci di Kota Baitul Maqdis dan hak-hak umat Muslim di kompleks Masjid Al-Aqsha.

Sebuah laporan oleh LSM Terrestrial Jerusalem menyebutkan bahwa perjanjian tersebut memberikan legitimasi bagi orang Yahudi untuk beraktivitas di dalam kompleks Masjid Al-Aqsha, sekaligus membatasi hak-hak Muslim untuk beribadah di Baitul Maqdis.

LSM Terrestrial Jerusalem adalah pusat studi yang fokus memantau dinamika di Baitul Maqdis, yang dijalankan analis politik Daniel Seidman.

Perjanjian UEA-’Israel’, kata laporan LSM itu, menimbulkan perubahan signifikan dalam status Kota Suci demi kepentingan penjajah ‘Israel’.

Klausul spesifik menyebut: “Muslim yang datang ke ‘Israel’ dengan damai memiliki hak untuk shalat di Masjid Al-Aqsha.”

LSM mencatat bahwa ini merupakan kali pertama istilah “Masjid Al-Aqsha” digunakan dalam dokumen internasional; dibanding diksi Al-Haram Al-Sharif, atau Tempat Suci (Noble Sanctuary).

“Namun, hak umat Islam dikurangi menjadi sebatas bangunan Masjid Al-Aqsha saja, bukan untuk seluruh kompleks Masjid Al-Aqsha,” kata laporan itu.

Padahal jelas, bagi Ummat Islam maupun fakta yuridis-historis, bahwa seluruh area kompleks masjid merupakan bagian Masjid Al-Aqsha; bukan hanya bangunan masjidnya.

Adapun kubu zionis mengatakan bahwa Masjid Al-Aqsha adalah sebatas bangunan masjidnya. Sedangkan segala sesuatu selainnya di dalam tembok tempat suci adalah kuil gunung (Temple Mount).

Klausul yang sama juga menyatakan bahwa “tempat suci lainnya tetap terbuka di Baitul Maqdis untuk penganut agama lain secara damai.”

Artinya, klausul ini mengizinkan orang Yahudi untuk beraktivitas di dalam kompleks masjid Al-Aqsha, kecuali di dalam bangunan masjid.

Muncul kekhawatiran bahwa perjanjian UEA-’Israel’ akan mengarah pada pembagian kawasan Masjid al-Aqsha serupa dengan yang diberlakukan di Masjid Ibrahimi di al-Khalil.

Kini, di Masjid Ibrahimi, “bagian” Yahudi lebih besar daripada ummat Muslim.

“Kesepakatan Abad Ini” ala Donald Trump menyebut bahwa orang-orang dari semua agama harus diizinkan untuk beraktivitas di Tempat Suci al-Aqsha; termasuk bangunan Masjid Al-Aqsha, Masjid Dome of the Rock, dan sejumlah tempat lain di dalam tembok al-Aqsha. (Middle East Monitor)

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Tenda Terbakar di Kamp Muhajirin Idlib, Tiga Bersaudara Tewas
Awal Pekan, Serdadu Kembali Tangkap Sejumlah Warga Palestina di Tepi Barat »