Dua Mantan Serdadu Myanmar Ungkap Adanya Perintah Genosida terhadap Muslim Rohingya

10 September 2020, 07:37.
Sumber: Rohingya Vision

Sumber: Rohingya Vision

MYANMAR (Rohingya Vision | Aljazeera) – Dua orang mantan serdadu Myanmar menyampaikan pengakuan melalui rekaman video bahwa memang ada perintah untuk membunuh dan memperkosa Muslim Rohingya dalam operasi militer Myanmar tahun 2017.

Temuan yang bisa mengungkap banyak bukti atas krisis yang menimpa etnis minoritas Rohingya ini disampaikan Fortify Rights pada hari Selasa (8/9/2020).

Myo Win Tun (33 tahun) dan Zaw Naing Tun (30) bahkan menyebut 19 nama berikut pangkatnya – termasuk 6 petinggi – dari pihak serdadu Myanmar yang terlibat atas insiden kejam terhadap Muslim Rohingya tiga tahun yang lalu.

Di antara pengakuan Myo Wim Tun ialah; komandan dari Pusat Operasi Militer ke 15 memberikan perintah untuk “tembak semua yang kalian lihat dan kalian dengar” ketika menyerang desa-desa Rohingya.

Ia mengungkapkan, dalam sebuah operasi, serdadu Myanmar pernah membunuh 30 orang, yakni delapan wanita, tujuh anak-anak, serta 15 pria sekaligus.

Banyak wanita Rohingya yang diperkosa terlebih dahulu sebelum dibunuh, dan Myo Wim Tun mengaku ikut melakukannya.

Sementara Zaw Naing Tun terlibat dalam pembantaian, penguburan massal, dan kejahatan lain yang dilakukan di 5 desa Rohingya di Maungdaw pada tahun 2017.

Meski Myo Win Tun dan Zaw Naing Tun berada di desa dan di bawah arahan komandan yang berbeda, namun mereka mendapat perintah yang sama.

Hal ini menjadi indikasi bahwa adanya keseragaman perintah di setiap satuan pasukan untuk melakukan genosida terhadap etnis Rohingya.

Fortify Rights juga menjelaskan bahwa apa yang disampaikan keduanya sesuai dengan dokumentasi dan temuan lembaga-lembaga kemanusiaan maupun Tim Pencari Fakta PBB untuk kasus ini.

Kedua video pengakuan yang direkam Arakan Army – kelompok bersenjata lokal yang sedang berseteru dengan serdadu Myanmar- secara terpisah itu dilakukan pada bulan Juli 2020.

Pengakuan Zaw Naing Tun direkam pada tanggal 8, sementara Myo Win Tun di tanggal 23.

Diketahui pada pertengahan bulan Agustus 2020, keduanya muncul di perbatasan Myanmar-Bangladesh dan meminta perlindungan kepada aparat Bangladesh.

Saat ini, dua mantan serdadu Myanmar itu diyakini berada dalam perlindungan Mahkamah Internasional di Den Haag, Belanda. (Rohingya Vision | Aljazeera)

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Pejabat UEA: Penyerangan di Gaza Tak Ganggu Hubungan Hangat UEA-‘Israel’
Hamas Kecam Liga Arab yang Gugurkan Resolusi Antinormalisasi UEA-’Israel’ »