Muhajirin Palestina yang Sempat Ditahan di RI Akhirnya Berkumpul dengan Keluarganya di Turki

12 September 2020, 18:39.
Foto: LBH Hidayatullah

Foto: LBH Hidayatullah

TANGERANG – Majeed WS Idris Dalal (41 tahun), muhajirin Palestina yang sempat menjalani hukuman sembilan bulan di Lapas Pemuda Tangerang, akhirnya bisa berkumpul kembali dengan keluarganya.

Penasihat Hukum Majeed dari LBH Hidayatullah, Dr Dudung Amadung Abdullah, mengatakan saat ini Majeed sudah berada di Turki.

Setelah bebas, Jumat (10/07/20), Majeed ditempatkan di rumah detensi imigrasi (rudenim) Bandara Soekarno-Hatta di Tangerang.

“Kami menghubungi Kedutaan Besar Palestina untuk mengurus izin tinggal Majeed di Turki. Jika dideportasi ke negara asalnya Palestina, itu tidak mungkin, karena kampungnya sudah dibumihanguskan oleh serdadu zionis ‘Israel’,” ujar Dudung.

Alternatif yang memungkinkan menuju negeri ketiga, dalam hal ini yang pas adalah Turki.

Anak istri Majeed berada di Turki dan sudah memperpanjang izin tinggal pada April 2020 lalu.

Prosesnya akhirnya diurus oleh Kedubes Palestina. Ia dinyatakan bisa tinggal sementara di Turki.

Setelah ada izin masuk dari Turki, karena masih dalam kondisi Covid-19, beberapa hari lalu Majeed sudah berkumpul dengan keluarganya.

“Alhamdulillah, sekarang sudah berkumpul kembali dengan keluarganya di Turki. Salam dari Majeed untuk Pengurus dan Jamaah Hidayatullah serta Sahabat Al-Aqsha,” kata Dudung.

Sebelumnya, Jumat (10/07/20) tepat pukul 10.00 WIB, dijemput petugas imigrasi Tangerang dan didampingi Tim Pengacaranya, Majeed keluar dari Lapas Pemuda Tangerang.

Dalam video yang diperoleh Sahabat Al-Aqsha dari Penasihat Hukum Majeed dari LBH Hidayatullah, Dr Dudung Amadung Abdullah, usai memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala dan bershalawat kepada Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa sallam, Majeed menyampaikan terima kasih kepada sejumlah pihak.

“Saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Hidayatullah, Paham, dan Sahabat Al-Aqsha atas segala bantuan untuk saya. Semoga Allah membalas kebaikan kalian semua. Saya sangat bahagia kalian selalu berdiri di sisi saya dengan segala bantuan. Sungguh saya sangat senang bisa mengenal kalian,” ujarnya.

Kisah Pilu Dibalik Persoalan Paspor Palsu

Kisah Tragis Majeed hingga harus mendekam di Lapas Pemuda Tangerang, berawal dari kisah pilu warga Palestina yang terusir dari tanah kelahirannya oleh serdadu zionis ‘Israel’.

Orangtua Majeed kemudian mengungsi ke Suriah. Majeed dilahirkan pada masa pengungsian di Suriah.

Tahun demi tahun berganti, Tanah Suriah yang awalnya tenang justru bergolak menjadi daerah konflik.

Tahun 2015, Majeed beserta Istri dan anaknya kembali mengungsi ke Turki. Di sana ia mendapat izin tinggal sementara sampai 16 April 2020.

Bulan Oktober 2019, Majeed berniat mencari penghidupan lebih baik. Atas saran kawannya di Turki, Majeed diarahkan untuk berangkat ke Belanda melalui jalur Indonesia.

Belanda menjadi pilihan, karena menurut informasi yang didapatnya, negara ini sangat ramah terhadap pengungsi. Namun karena Belanda tidak mempunyai hubungan diplomatik dengan Palestina, Majeed dibuatkan paspor dari Negara Cekoslovakia.

“Pada titik inilah petaka terjadi. Karena saat memasuki Indonesia di Bandara Soekarno Hatta, petugas Imigrasi mencurigai paspor yang digunakan oleh Majeed sebagai paspor palsu, hingga dilakukan pemeriksaan dan penangkapan,” kata Dudung.

Majeed kemudian harus berhadapan dengan hukum Indonesia, ia didakwa melanggar Pasal 119 ayat (2) Undang-undang RI Nomor 6 Tahun 2011 tentang Keimigrasian, karena terbukti menggunakan paspor palsu saat memasuki wilayah Indonesia.

Pada Persidangan, Kamis (12/03/2020) Majeed divonis bersalah dengan dijatuhi hukuman 8 bulan penjara dan denda 100 juta rupiah subsidair satu bulan penjara.

Tim penasihat hukum gabungan sebenarnya sudah melakukan pembelaan maksimal dengan dalih bahwa apa yang dilakukan oleh Majeed berada dalam kondisi darurat, mengingat Majeed adalah warga korban konflik.

Namun hal tersebut dikesampingkan oleh Majelis Hakim. Dalam pertimbangannya, hakim menilai bahwa Majeed sudah hidup tenang di Turki sebagai tempat pengungsian yang aman. (Sahabat Al-Aqsha)

Foto: LBH Hidayatullah

Foto: LBH Hidayatullah

Foto: LBH Hidayatullah

Foto: LBH Hidayatullah

 

 

 

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Serdadu Zionis Tangkap 7 Warga Palestina di Tepi Barat, Termasuk Wartawan dan Mantan Tawanan
Kecam Normalisasi Hubungan Bahrain-’Israel’, Hamas: “Pengkhianatan terhadap Palestina dan Baitul Maqdis” »