PBB: “Belasan Desa Rohingya Dihapus Rezim dari Peta Resmi Myanmar”

14 September 2020, 21:58.

Berita 1076 (14 September 2020).jpg - 1

MYANMAR (Reuters) – Tiga tahun lalu, ratusan desa Rohingya dibakar dan diratakan dengan tanah oleh serdadu Myanmar.

Kini, belasan di antaranya telah dihapus dari peta resmi Myanmar, sebagaimana dilaporkan PBB.

Salah satunya adalah desa Kan Kya yang dihapus pada akhir tahun lalu.

Desa ini terletak sekira lima kilometer dari Sungai Naf; yang menjadi pembatas antara negara Myanmar dan Bangladesh.

Kan Kya adalah rumah bagi ratusan warga Rohingya sebelum tentara Myanmar melakukan operasi militer “pembersihan etnis” dan membuat lebih dari 730.000 Muslim Rohingya meninggalkan tanah airnya pada tahun 2017.

Berdasarkan gambar satelit, di wilayah yang dahulu bernama Kan Kya itu kini berdiri puluhan bangunan milik rezim dan serdadu Myanmar, termasuk pangkalan serdadu yang luas serta dikelilingi pagar tinggi.

Pada peta yang dibuat PBB tahun 2020, desa itu sekarang menjadi wilayah tak bernama yang dimasukkan sebagai bagian dari Kota Maungdaw.

Unit pemetaan PBB sendiri mengatakan bahwa peta tersebut dibuat berdasar peta resmi rezim Myanmar.

Sementara menurut laporan Human Rights Watch, Kan Kya hanyalah satu dari hampir 400 desa yang dihancurkan serdadu Myanmar pada tahun 2017.

Masih menurut satuan pemetaan PBB di Myanmar, pada bulan September 2019, rezim Myanmar secara keseluruhan mengklasifikasi ulang sebanyak 16 desa -yang sebagian besarnya dulu dihuni etnis Rohingya- menjadi bagian dari Kota Maungdaw, lalu menghapus 10 desa di antaranya dari peta.

PBB juga menjelaskan ada 11 desa Rohingya lain yang diklasifikasi ulang sebagai kota baru bernama Myin Hlut, di mana pemerintah Myanmar berencana menjadikannya sebagai area wisata karena letaknya yang berada di pesisir pantai.

“Tujuan mereka (menghapus nama desa-desa Rohingya) adalah agar kita tidak bisa kembali lagi,” kata Muhammad Rofiq, mantan kepala desa di dekat Kan Kya yang saat ini tinggal di kamp pengungsian Bangladesh kepada Reuters.

Mantan utusan HAM PBB untuk Myanmar, Yanghee Lee, berpendapat bahwa rezim Myanmar sengaja mempersulit para Muhajirin Rohingya kembali ke daerah asalnya.

Hal ini disebabkan desa-desa Rohingya sudah tak memiliki nama, sehingga bukti bahwa mereka pernah tinggal di sana pun tak lagi bisa diterima.

Secara tegas Lee mengatakan bahwa itu adalah cara pemerintah Myanmar menghapuskan identitas asal etnis Muslim Rohingya. (Reuters)

Muhammad Rofiq, mantan kepala desa di dekat Kan Kya yang saat ini tinggal di kamp pengungsian Bangladesh. Foto: Reuters/Stringer

Muhammad Rofiq, mantan kepala desa di dekat Kan Kya yang saat ini tinggal di kamp pengungsian Bangladesh. Foto: Reuters/Stringer

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« PLO: Normalisasi Dirancang untuk Membentuk Aliansi Militer yang Dipimpin Zionis ‘Israel’
Ditinggalkan Warga Rohingya Saat Genosida Berkecamuk, Kini Sejumlah Desa Dijadikan Permukiman Warga Buddha »