Dewan Fatwa Palestina: “Pihak yang Menormalisasi Hubungan dengan ‘Israel’ Tidak Diterima di Masjid Al-Aqsha”

23 October 2020, 19:18.
Seorang Yahudi Ultra Ortodoks melihat dari sebuah titik di Bukit Zaitun menuju Baitul Maqdis, dengan pemandangan Kubah Batu di kompleks Masjid al-Aqsha, pada tanggal 23 September 2020 [AHMAD GHARABLI /AFP via Getty Images]

Seorang Yahudi Ultra Ortodoks melihat dari sebuah titik di Bukit Zaitun menuju Baitul Maqdis, dengan pemandangan Kubah Batu di kompleks Masjid al-Aqsha, pada tanggal 23 September 2020 [AHMAD GHARABLI /AFP via Getty Images]

BAITUL MAQDIS (Middle East Monitor) – Dewan Fatwa Tertinggi Palestina, Kamis (22/10/2020), mengecam “kunjungan” yang baru-baru ini dilakukan oleh kelompok pro-normalisasi ke Masjid Al-Aqsha.

“Kunjungan” tersebut dilakukan di bawah perlindungan serdadu zionis ‘Israel’ dan didampingi dedengkot penjajah ‘Israel’.

Ketua Dewan Fatwa Tertinggi Palestina, Muhammad Hussein, mengatakan bahwa kunjungan normalisasi tidak berbeda dengan serangan berulang dari serdadu zionis dan pemukim ilegal ‘Israel’, yang menodai masjid suci di bawah perlindungan serdadu.

“Masjid suci Al-Aqsha hanya untuk Muslim. Hanya mereka yang tidak melucuti legitimasi Islamnya yang dipersilakan untuk berkunjung,” tegas Hussein.

Ia menegaskan bahwa mereka yang menormalisasi hubungan dengan penjajah ‘Israel’ tidak diterima di masjid suci.

Mufti Agung Palestina mengecam keras rencana ‘Israel’ untuk mengisolasi kota Baitul Maqdis dan Al-Aqsha, serta menghalangi ribuan jamaah Muslim untuk mengaksesnya.

Muhammad Hussein menyebut penjajah ‘Israel’ sedang mengeksploitasi wabah Covid-19 untuk mengosongkan dan menyita Masjid Al-Aqsha, serta memfasilitasi serbuan para pemukim ekstremis ke dalamnya. (Middle East Monitor)

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Serangan Udara Serdadu Zionis Sasar Kamp Nuseirat di Gaza Tengah
Rakyat Sudan Kecam Langkah Rezim Transisi Menormalisasi Hubungan dengan ‘Israel’ »