Rakyat Sudan Kecam Langkah Rezim Transisi Menormalisasi Hubungan dengan ‘Israel’

24 October 2020, 18:51.
Sumber: Anadolu Agency

Sumber: Anadolu Agency

SUDAN (Sudan Tribune | Anadolu | Xinhua | Parstoday) – Jum’at (23/10/2020), The National Umma Party (NUP) Sudan, yang dipimpin Sadiqal-Mahdi, menyatakan menolak normalisasi dengan ‘Israel’.

NUP memperingatkan bahwa pihaknya akan menarik dukungan dari rezim transisi, yang mengambil alih kekuasaan tahun lalu; setelah Omar al-Bashir digulingkan oleh tentara.

Langkah normalisasi itu mendapat penentangan dan kecaman luas dari rakyat Sudan sendiri, serta sejumlah negara Muslim.

Kekuatan Konsensus Nasional (NCF), yang merupakan bagian dari Kekuatan untuk Kebebasan dan Perubahan (FFC), Jum’at, menyatakan menolak normalisasi hubungan dengan penjajah ‘Israel’, dan mengancam akan membentuk front rakyat yang luas untuk menolak normalisasi.

Kekuatan konsensus termasuk Partai Komunis, Partai Baath, Partai Nasserist, dan Partai United Unionist.

Mereka memperingatkan Perdana Menteri Sudan bahwa rezim transisi tidak memiliki mandat untuk mengambil keputusan tersebut.

NCF mengatakan bahwa rezim transisi telah melanggar dokumen konstitusional dan menentang “Tiga Tidak”, dalam mendukung hak-hak sah rakyat Palestina.

Pernyataan itu mengacu pada Resolusi Khartoum yang diadopsi dalam pertemuan Arab pada Agustus 1967 yang dikenal sebagai “Tiga Tidak”; Tidak ada perdamaian dengan ‘Israel’, tidak ada pengakuan atas ‘Israel’, tidak ada negosiasi dengan ‘Israel’.

Mereka meminta rezim untuk membekukan langkah apapun untuk normalisasi dengan ‘Israel’.

“Rakyat kami akan mematuhi posisi historis mereka dan bekerja melalui front yang luas untuk menolak normalisasi serta mendukung rakyat Palestina untuk mendapatkan hak-hak penuh mereka yang sah,” tegas NCF.

Kecaman dari Palestina

Pada hari yang sama, berbagai kelompok Palestina di Jalur Gaza dan Tepi Barat kompak bersuara mengecam keputusan rezim Sudan menormalisasi hubungan dengan zionis ‘Israel’.

Rezim baru Sudan telah mengikuti jejak UEA dan Bahrain, yang dinilai mengkhianati perjuangan Palestina melawan penjajah ‘Israel’.

Pejabat senior Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) Wasel Abu Youssef mengatakan langkah rezim Sudan merupakan tikaman baru di belakang rakyat Palestina dan pengkhianatan terhadap perjuangan Palestina. Juga menciderai inisiatif perdamaian Arab.

Meskipun demikian, langkah pengkhianatan rezim Sudan tidak akan menggoyahkan keyakinan rakyat Palestina dalam melanjutkan perjuangan mereka.

Hazem Qassem, juru bicara Hamas di Gaza, menyatakan bahwa normalisasi hubungan antara Sudan dan penjajah ‘Israel’ adalah dosa politik, serta merugikan rakyat Palestina dan perjuangan panjangnya.

Gerakan Jihad Islam mengatakan bahwa rezim Sudan kini berlari menuju ‘Israel’ dan membayar sejumlah besar uang untuk memuaskan Amerika; dengan mengorbankan orang-orang miskin dan para muhajirin Sudan. (Sudan Tribune | Anadolu | Xinhua | Parstoday)

 

 

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Dewan Fatwa Palestina: “Pihak yang Menormalisasi Hubungan dengan ‘Israel’ Tidak Diterima di Masjid Al-Aqsha”
Lebih dari 100 Serdadu Zionis Serang Kafr Qaddum, Sejumlah Warga Terluka »