Peserta Konferensi Internasional PBB Bersepakat Tetap Teguh Temukan Solusi untuk Krisis Rohingya

26 October 2020, 20:06.
Foto: Rohingya Vision

Foto: Rohingya Vision

(APP | UNHCR) – Konferensi virtual yang diinisiasi PBB untuk menggalang dana bantuan bagi etnis Rohingya telah selesai dilaksanakan pada hari Kamis (22/10/2020).

Dana sebesar $600 juta berhasil dikumpulkan, menambah $635 juta lebih yang telah dikeluarkan untuk program penanganan krisis Rohingya selama tahun 2020 ini.

UNHCR, Uni Eropa, Inggris, dan Amerika Serikat selaku penyelenggara bersama menyatakan dalam penutupan konferensi tersebut bahwa krisis yang dialami warga Rohingya tidak boleh dikesampingkan.

“Kami akan terus bekerja sama untuk menjaga kepedulian internasional terhadap krisis Rohingya, serta untuk berpindah dari pemenuhan kebutuhan mendesak yang sifatnya jangka pendek menjadi lebih berkesinambungan dan teratur lagi.”

Di samping itu, dalam konferensi tersebut juga disampaikan, “Bisa kembalinya warga Rohingya -baik itu yang mengungsi di luar maupun di dalam negeri- ke daerah asalnya di Myanmar secara aman, terhormat, berkelanjutan, dan tanpa paksaan; adalah solusi komprehensif yang kami upayakan bersama warga Rohingya juga.”

Selain dengan cara dihentikannya konflik bersenjata di tanah air Rohingya, Myanmar juga didesak untuk menyelesaikan akar permasalahan atas terjadinya kekerasan dan pengungsian.

“Termasuk memberikan akses kewarganegaraan berikut kebebasan bepergian kepada etnis Rohingya. Myanmar harus memberikan keadilan kepada para korban dan menjamin bahwa semua pelaku kejahatan atas kemanusiaan ini benar-benar diadili.”

Saat ini ada sekira 860.000 Muhajirin Rohingya yang mengungsi di Cox’s Bazar, Bangladesh. Sementara 600.000 lainnya masih berada di Arakan (Rakhine), di mana mereka menghadapi diskriminasi, kekerasan, serta perampasan atas hak-hak asasinya.

Sedangkan Malaysia, India, Indonesia, dan beberapa negara lain secara keseluruhan juga menampung sekira 150.000 Muhajirin Rohingya.

Untuk bisa memberikan bantuan jangka panjang kepada Muhajirin Rohingya, konferensi tersebut juga menggarisbawahi pentingnya dukungan kepada negara yang menjadi tempat bernaung mereka.

Karena hal tersebut dapat membantu secara efektif program penanganan yang dicanangkan pemerintah setempat, sekaligus memaksimalkan sumber daya yang terbatas agar memberi manfaat, baik kepada warga lokal dan tentunya kepada para muhajirin.

Direktur Eksekutif UNICEF, Henrietta Fore meminta agar warga Rohingya yang masih berada di Myanmar dan mengalami kesusahan jangan dilupakan.

“Mereka masih menghadapi kejamnya diskriminasi, kekerasan, serta konflik bersenjata yang terus menerus terjadi setiap harinya. Konflik tersebut harus segera diakhiri agar anak-anak bisa pergi ke sekolah dan bermain, begitu pula para pengungsi bisa kembali ke rumahnya dengan aman.”

Meski diterpa ujian berat sedemikian rupa, ternyata para Muhajirin Rohingya tetap menunjukkan sikap mulia.

Kepala Urusan Kemanusiaan PBB, Mark Lowcock menyatakan apresiasinya terhadap Muhajirin Rohingya yang ikut berkontribusi dalam program-program di kamp pengungsian.

“Mereka menjadi relawan kesehatan, membagikan masker dan turut andil melindungi komunitasnya dari pandemi,” jelas Lowcock. (APP | UNHCR)

 

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Lebih dari 100 Serdadu Zionis Serang Kafr Qaddum, Sejumlah Warga Terluka
Gambia Serahkan Materi Gugatan atas Genosida Myanmar ke Mahkamah Internasional »