Jangan Jatuhkan Diri ke Dalam Kebinasaan karena Meninggalkan Jihad Harta dan Jiwa

27 November 2020, 18:04.
Hanya sebagai ilustrasi. Sumber foto: muslim.or.id

Hanya sebagai ilustrasi. Sumber foto: muslim.or.id

*Dipetik dari Karya Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Quran Al-Karim

(SAHABAT AL-AQSHA) – Allah Subhaanahu wa Ta’ala memerintahkan kepada manusia untuk membelanjakan harta di jalan Allah dalam rangka meniti semua jalan taqarrub (mendekatkan diri kepada Allah) dan taat kepada-Nya.

Khususnya membelanjakan harta untuk memerangi musuh, kemudian mengalokasikannya buat sarana dan bekal yang memperkuat kaum muslim dalam menghadapi musuh-musuh mereka.

Melalui ayat 195 Surat Al-Baqarah, Allah memberitakan kepada mereka bahwa jika hal ini ditinggalkan, maka akan berakibat kepada kehancuran dan kebinasaan bagi orang yang tidak mau membelanjakan hartanya untuk tujuan tersebut.

Kemudian Allah mengiringinya dengan perintah berbuat ihsan, dan ihsan adalah derajat ketaatan yang paling tinggi.

Tafsir Surat Al-Baqarah ayat 195, yang artinya;

Dan belanjakanlah (harta benda kalian) di jalan Allah, dan janganlah kalian menjatuhkan diri kalian sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik” (QS Al-Baqarah ayat 195).

Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ishaq, telah menceritakan kepada kami An-Nadr, telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dari Sulaiman, bahwa ia pernah mendengar Abu Wail mengatakan dari Hudzaifah sehubungan dengan firman-Nya, yang artinya: “Dan belanjakanlah (harta kalian) di jalan Allah, dan janganlah kalian menjatuhkan diri kalian sendiri ke dalam kebinasaan”. (Al-Baqarah: 195) Bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan masalah infaq.

Hal yang sama telah diriwayatkan pula oleh Ibnu Abu Hatim, dari Al-Hasan ibnu Muhammad ibnus Sabbah, dari Abu Mu’awiyah, dari Al-A’masy.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, hal yang semisal telah diriwayatkan pula dari Ibnu Abbas, Mujahid, Ikrimah, Sa’id ibnu Jubair, Atha’, Ad-Dhahhak, Al-Hasan, Qatadah, As-Saddi, dan Muqatil ibnu Hayyan.

Al-Laits ibnu Sa’d meriwayatkan dari Yazid ibnu Abu Habib, dari Aslam Abu Imran yang menceritakan bahwa seorang lelaki dari kalangan Muhajirin ketika di Qustantiniyah (Konstantinopel) maju sendirian melabrak barisan musuh hingga dapat menerobosnya (lalu kembali lagi), sedangkan bersama kami ada Abu Ayyub Al-Ansari. Maka orang-orang mengatakan, “Dia telah menjerumuskan dirinya sendiri ke dalam kebinasaan.”

Maka Abu Ayyub menjawab, “Kami lebih mengetahui tentang ayat ini, sesungguhnya ia diturunkan berkenaan dengan kami. Kami selalu menemani Rasulullah Shallallaahu ‘alayhi wa sallam dan kami ikut bersamanya dalam semua peperangan, dan kami bantu Beliau dengan segala kemampuan kami. Setelah Islam menyebar dan menang, maka kami orang-orang Ansar berkumpul. Lalu kami mengatakan;

“Sesungguhnya Allah telah memuliakan kita karena kita menjadi sahabat Nabi Shallallaahu ‘alayhi wa sallam dan menolongnya hingga Islam tersebar dan para pemeluknya menjadi golongan mayoritas. Kita lebih mementingkan Nabi Shallallaahu ‘alayhi wa sallam daripada keluarga, harta benda, dan anak-anak kita. Setelah perang tiada lagi, lalu kami kembali kepada keluarga dan anak-anak kami serta kami tinggal bersama mereka. Lalu turunlah firman-Nya, yang artinya: “Dan belanjakanlah (harta benda kalian) di jalan Allah, dan janganlah kalian menjatuhkan diri kalian sendiri ke dalam kebinasaan” (Al-Baqarah: 195). Maka kebinasaan itu terjadi bila kami bermukim mengurusi keluarga dan harta benda. Sedangkan jihad kami tinggalkan.”

Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Daud, Turmuzi, Nasai, dan Abdu ibnu Humaid di dalam kitab tafsirnya; dan Ibnu Abu Hatim, Ibnu Jarir, Ibnu Murdawaih serta Al-Hafiz Abu Ya’la di dalam kitab musnadnya; Ibnu Hibban di dalam kitab sahihnya, dan Imam Hakim di dalam kitab mustadraknya.

Semuanya meriwayatkan hadis ini melalui Yazid ibnu Abu Habib dengan lafaz seperti yang disebutkan di atas. Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini hasan, sahih, garib. Imam Hakim mengatakan hadits ini shahih menurut persyaratan Bukhari dan Muslim, tetapi keduanya tidak meriwayatkannya.

Menurut lafaz yang ada pada Imam Abu Dawud, dari Aslam Abu Imran, “ketika kami berada di Konstantinopel, pemimpin penduduk Mesir adalah ‘Uqbah ibnu ‘Amir, dan dari negeri Syam dipegang oleh Fudhalah ibnu Ubaid.Maka keluarlah dari kota Konstantinopel sepasukan yang berjumlah sangat besar dari pasukan Romawi menuju Madinah; kami pun menyusun barisan pertahanan untuk menghadapi mereka.”

“Kemudian ada seorang lelaki dari pasukan kaum muslim maju menerjang barisan pasukan Romawi, hingga sempat memorak-porandakannya, dan masuk ke tengah barisan musuh, setelah itu ia kembali lagi ke barisan kami. Melihat peristiwa tersebut pasukan kaum muslim berteriak seraya mengucapkan, “Subhanallah, dia menjatuhkan dirinya ke dalam kebinasaan!”

“Maka Abu Ayyub menjawab: Hai manusia, sesungguhnya kalian benar-benar menakwilkan ayat ini bukan dengan takwil yang semestinya. Sesungguhnya ayat ini hanya diturunkan berkenaan dengan kami, orang-orang Ansar. Sesungguhnya kami setelah Allah memenangkan agama-Nya dan banyak yang mendukungnya, maka kami berkata di antara sesama kami, “Alangkah baiknya sekarang kita kembali kepada harta benda kita dan memperbaikinya,” maka Allah menurunkan ayat ini”.

Abu Bakar ibnu Iyasy meriwayatkan dari Abu Ishaq As-Subai’i yang menceritakan bahwa ada seorang lelaki bertanya kepada Al-Barra ibnu Azib, “Jika aku maju sendirian menerjang musuh, lalu mereka membunuhku, apakah berarti aku menjerumuskan diriku ke dalam kebinasaan?” Al-Bara’ menjawab, “Tidak, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman kepada Rasul-Nya, yang artinya:

Maka berperanglah kalian pada jalan Allah, tidaklah kamu dibebani melainkan dengan kewajiban kamu sendiri” (An-Nisa: 84).

Sesungguhnya ayat ini (yakni Al-Baqarah ayat 195) hanyalah berkenaan dengan masalah infaq.

Ibnu Murdawaih meriwayatkannya pula, dan Imam Hakim telah mengetengahkannya di dalam kitab Mustadrak melalui hadis Israil, dari Abu Ishaq; dan Imam Hakim mengatakan bahwa hadits ini shahih menurut persyaratan Bukhari dan Muslim, tetapi keduanya tidak meriwayatkannya.

Diriwayatkan juga oleh ats-Tsauri dan Qais ibnur Rabi’, dari Abu Ishaq, dari Al-Barra. Kemudian Al-Barra menuturkan hadis ini,dan sesudah firman-Nya, yang artinya: “Tidaklah kamu dibebani melainkan dengan kewajiban kamu sendiri”. (An-Nisa: 84). Ia mengatakan, “Kebinasaan yang sesungguhnya ialah bila seorang lelaki melakukan suatu dosa, sedangkan ia tidak bertobat darinya. Maka dialah orang yang menjatuhkan dirinya ke dalam kebinasaan.”

Atha’ ibnus Saib meriwayatkan dari Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan takwil firman-Nya, yang artinya: “Dan belanjakanlah (harta benda kalian) di jalan Allah, dan janganlah kalian menjatuhkan diri kalian sendiri ke dalam kebinasaan”. (Al-Baqarah: 195).

Ibnu Abbas mengatakan bahwa ayat ini bukan berkenaan dengan masalah perang, melainkan berkenaan dengan masalah membelanjakan harta, yaitu bila kamu genggamkan tanganmu, tidak mau membelanjakan harta di jalan Allah, maka dikatakan, “Janganlah kalian menjatuhkan diri kalian ke dalam kebinasaan”. (SAHABAT AL-AQSHA)

Referensi: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, halaman 628 sampai 631

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Sempat Bentrok di Qabatiya, Serdadu Culik Belasan Warga Palestina di Tepi Barat
Bayi yang Terluka Akibat Ledakan Bom Mobil di Aleppo Akhirnya Meninggal »