Terbukti Perkuat Genosida, Lembaga HAM Desak Facebook Tutup Akun Militer Myanmar

10 January 2021, 18:17.
Serdadu Myanmar berpatroli di sebuah desa di Maungdaw yang terletak di Negara Bagian Rakhine, Oktober 2016 (AFP)

Serdadu Myanmar berpatroli di sebuah desa di Maungdaw yang terletak di Negara Bagian Rakhine, Oktober 2016 (AFP)

(Dhaka Tribune) – Setelah akun Donald Trump ditutup oleh Facebook karena telah memicu kekerasan, lembaga HAM Burma Campaign UK kembali mendesak Facebook untuk melakukan hal yang sama kepada militer Myanmar.

Burma Campaign UK menegaskan bahwa Facebook harus berhenti membiarkan militer Myanmar merekrut anggota-anggota baru melalui media sosialnya.

“Donald Trump ditutup (akunnya) karena memicu aksi kekerasan, namun militer Myanmar yang setiap hari berlaku sewenang-wenang kepada masyarakat sipil dibiarkan begitu saja menggunakan Facebook untuk merekrut anggota baru,” sebut Mark Farmaner, Direktur Burma Campaign UK.

Lanjutnya, Facebook juga semestinya tidak mengizinkan militer Myanmar untuk mempromosikan bisnisnya melalui Facebook; di mana keuntungan yang diperoleh digunakan untuk membiayai genosida, kejahatan perang, dan pelanggaran atas HAM.

Facebook terus menuai kecaman akibat gagal menghentikan merebaknya ujaran-ujaran kebencian terhadap Rohingya dan etnis minoritas lain di Myanmar, yang kemudian berimbas terjadinya aksi kekerasan oleh kelompok mayoritas.

Facebook mengklaim telah menutup sebagian akun petinggi militer Myanmar, termasuk Min Aung Hlaing, kepala militer.

Namun nyatanya, masih banyak akun dan laman militer yang aktif, bahkan mendapat tanda centang biru sebagai akun resmi di media sosial tersebut.

Burma Campaign UK telah berulang kali meminta Facebook agar memastikan bahwa laman-laman tersebut tidak digunakan untuk rekruitmen, namun tidak ada jawaban.

Militer Myanmar mempunyai pengaruh besar di perekonomian dalam negeri. Mulai dari perusahaan teh, bir, semen, sampai ke jaringan seluler, dimiliki oleh mereka.

Ada puluhan laman Facebook atas perusahaan-perusahaan tersebut, yang setiap hari mempromosikan bermacam produknya.

Facebook masih menutup mata dan berdiam diri, meski sebuah laporan PBB menjelaskan secara detail bagaimana perusahaan-perusahaan yang dimiliki Myanmar turut andil membiayai kejahatan yang terjadi di negara Asia Tenggara tersebut.

“Facebook memiliki standar ganda. Jika kalian memicu tindak kekerasan di Amerika, kalian akan diblokir dari Facebook. Akan tetapi, jika kalian merekrut orang banyak untuk melakukan aksi kejahatan di Burma, kalian bahkan masih bisa mendapat tanda centang biru dari Facebook,” tegas Farmaner. (Dhaka Tribune)

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« VIDEO – Dua Warga Terluka Saat Serdadu Zionis Bubarkan Unjuk Rasa di Kafr Qaddoum
Puluhan Muhajirin Suriah yang Terdampar Diselamatkan di Lepas Pantai Albania »