AS Bakal Masukkan Houthi ke Daftar Teroris, Save The Children: “Rakyat Yaman Makin Sulit Dapat Bantuan”

12 January 2021, 19:13.
Foto: Mike Pompeo (dw.com)

Foto: Mike Pompeo (dw.com)

WASHINGTON (Middle East Monitor) – Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Mike Pompeo mengumumkan bahwa rezim AS akan memasukkan milisi syiah Houthi Yaman, yang dikenal sebagai Ansarallah, ke dalam daftar kelompok teroris asing.

“Saya juga bermaksud menggolongkan tiga pemimpin Ansarallah, Abdul Malik al-Houthi, Abd al-Khaliq Badr al-Din al-Houthi, dan Abdullah Yahya al Hakim, sebagai teroris global,” kata Pomeo.

Departemen Luar Negeri akan menyampaikan kepada Kongres tentang rencana itu, meskipun mereka masih dapat memblokir keputusan itu sehari sebelum pelantikan Presiden AS terpilih Joe Biden pada 20 Januari.

Pada November lalu, dilaporkan bahwa Donald Trump berencana memasukkan milisi syiah Houthi ke dalam daftar kelompok teroris.

“Penunjukan itu dimaksudkan untuk meminta pertanggungjawaban Ansarallah atas tindakan terornya, termasuk serangan lintas batas yang mengancam penduduk sipil, infrastruktur, dan pelayaran komersial,” klaim Pompeo.

Pompeo ingin mempercepat langkah itu, menurut seorang sumber diplomatik, sebagai bagian dari “kebijakan bumi hangus” ketika rezim bersiap untuk memberi jalan bagi pemerintahan Demokrat yang akan datang.

Milisi syiah Houthi memainkan bagian integral dalam pemerintahan de-facto yang berbasis di ibu kota Yaman, Sanaa, yang mengendalikan sebagian besar wilayah berpenduduk padat di negara itu.

Kelompok-kelompok kemanusiaan sebelumnya telah memperingatkan agar tidak memberi label milisi syiah Houthi sebagai organisasi teroris.

Alasannya, hal itu akan semakin menghambat bantuan; terutama di tengah meningkatnya risiko kelaparan akibat perang hampir enam tahun dan blokade yang dilancarkan oleh koalisi pimpinan Saudi.

Save the Children memperingatkan bahwa pelabelan itu akan secara langsung mengancam pasokan makanan, bahan bakar, dan obat-obatan yang menyelamatkan nyawa.

“Lembaga kemanusiaan telah memperingatkan selama berminggu-minggu bahwa konsekuensi dari keputusan ini dapat menjadi bencana besar bagi anak-anak yang tak terhitung jumlahnya dan keluarga mereka di Yaman,” kata Janti Soeripto, Presiden dan CEO Save the Children.

Sejumlah mantan diplomat AS dan pejabat Departemen Luar Negeri juga telah menyatakan keberatan atas tindakan tersebut.

Dalam sebuah surat yang dikirim ke Pompeo, 20 mantan pejabat senior – termasuk setiap mantan duta besar AS untuk Yaman – meminta pemerintahan Trump untuk membatalkan rencana itu.

“Kami tidak bersimpati terhadap gerakan Houthi, kami juga tidak memaafkan tindakannya. Meski begitu, kami tidak percaya bahwa gerakan Houthi memenuhi definisi Organisasi Teroris Asing. Kami juga tidak percaya bahwa pelabelan itu akan memajukan kepentingan AS,” kata mereka. (Middle East Monitor)

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Serdadu Zionis Tutup Desa Al-Mughayyir Lima Hari Berturut-turut
Penjajah ‘Israel’ Bersekongkol Muluskan Pembangunan 850 Unit Rumah di Permukiman Ilegal, Tepi Barat »