Tak Merasa Bebas, Warga Uighur di Luar Negeri Sangat Khawatir Akan Kondisi Keluarganya di Xinjiang

24 January 2021, 09:27.
Foto: Anadolu Agency

Foto: Anadolu Agency

ANADOLU AGENCY – Setelah putrinya yang berusia lima tahun ditangkap oleh rezim China, Alimcan Turdiniyaz memutuskan untuk meninggalkan tanah airnya.

“Putri tertua saya baru berusia lima tahun ketika dia ditahan oleh rezim China pada musim panas 2012, karena dia menghadiri sekolah keagamaan,” katanya.

Dia merasa beruntung karena keluarganya bisa mendapatkan kembali gadis kecil itu dari rezim, meskipun dengan jalan suap.

Turdiniyaz (45 tahun), telah tinggal di Istanbul selama hampir delapan tahun bersama ketiga putri dan istrinya. Akan tetapi, hatinya begitu merindukan keluarga dan kerabatnya di Xinjiang, wilayah China barat, yang juga dikenal sebagai Turkestan Timur.

Wilayah ini adalah rumah bagi lebih dari 10 juta orang Uighur; kelompok Muslim Turki, yang membentuk sekitar 45% dari populasi Xinjiang. Orang-orang Uighur telah lama menjadi korban diskriminasi budaya, agama, dan ekonomi rezim komunis China.

Hampir 100 orang berkumpul secara damai di luar Konsulat China di Istanbul pada 22 Desember. Mereka melakukan protes selama 18 hari dengan tuntutan untuk mengetahui kesejahteraan keluarga mereka, yang belum pernah mereka dengar sejak 2017.

“Kakak laki-laki saya, kakak perempuan saya dan suaminya bersama dua anak mereka, menantu kakak perempuan saya, serta seorang teman saya berada di kamp konsentrasi China,” kata Turdiniyaz.

Dia mengatakan, aparat rezim China mengunjungi semua rumah keluarga Uighur di Xinjiang pada tahun 2016. Mereka menyarankan orang Uighur untuk mendapatkan paspor dan mengunjungi keluarga mereka di luar negeri.

“Ternyata itu jebakan. Setiap orang yang pergi ke luar negeri pada tahun itu dan seterusnya sekarang berada di kamp-kamp, atau di tempat lain yang tidak kami ketahui,” katanya.

Beberapa bahkan ditempatkan di pabrik China untuk menjalani kerja paksa.

“Kakak saya Nurmemet; dia berpendidikan dan bisnisnya sendiri ada di China. Dia tidak membutuhkan pemerintah untuk memberinya pekerjaan atau pendidikan. Akan tetapi, kami kemudian mengetahui bahwa dia ditangkap gara-gara jenggotnya.”

Kakak Turdiniyaz, Helime, bersama suaminya Osman Rozi serta dua anak mereka dibawa ke kamp. Sementara adik laki-lakinya Elzat Ali tidak ditemukan.

Bekerja sebagai pengusaha di Turki, Turdiniyaz menjalankan perdagangan antara Tiongkok dan Turki hingga 2017.

“Adik saya Elzat adalah akuntan untuk bisnis saya dari 2013 hingga 2017. Pada 2017, dia pulang ke rumah setelah kami mengetahui bahwa ibu kami sakit. Begitu dia mendarat di China, dia dibawa, tetapi kami tidak tahu apakah dia ada di kamp atau penjara, atau di tempat lain,” katanya sambil menangis.

Ia pun memohon bantuan untuk mencari tahu tentang kondisi keluarganya di China.

“Saya bahkan tidak dapat menelepon mereka, karena saya tak ingin membuat kerabat saya yang tersisa mendapat masalah. Saya mengetahui kematian ibu saya sendiri dari orang lain. Saya tidak tahu apakah saudara laki-laki dan perempuan saya, atau kerabat lainnya sudah meninggal atau masih hidup.”

Tak Bisa Berkomunikasi dengan Keluarga

Seorang ibu dua anak, Amine Vahit (39 tahun), tiba di Turki pada Maret 2015 bersama putra-putranya. Seperti Turdiniyaz, dia juga mengimpor dan mengekspor barang ke dan dari China hingga 2017.

Dunianya hancur ketika suatu pagi dia tidak dapat menjangkau anggota keluarganya. Menggunakan aplikasi pesan WeChat yang berbasis di China untuk berkomunikasi, Vahit menyebut dia tidak dapat lagi menggunakannya karena semua orang yang dia kenal menghapus aplikasi itu dari ponsel mereka dan tidak berkomunikasi dengan siapa pun di luar negeri.

“Pada Juli 2016, kakak laki-laki saya dibawa oleh rezim China. Saat itu saudara perempuan saya memberi tahu melalui WeChat. Akan tetapi, tak lama setelah kakak laki-laki saya, kakak perempuan saya dan kakak laki-laki saya yang lain juga ditangkap dan ditahan,” kata Vahit.

Menyinggung kunjungan terakhirnya ke Xinjiang, Vahit mengatakan kepulangannya ke Turki adalah keajaiban.

“Saya harus pergi karena saya punya bisnis di sana, dan rumah saya ingin saya jual. Ternyata tidak dapat dilakukan,” tambahnya.

Kakak perempuan Vahit awalnya dibawa ke kamp pada tahun 2016. Setelah ditahan di sana selama tiga bulan, ia kemudian dibebaskan karena kondisi kesehatannya yang memburuk.

“Saya diam-diam menemui saudara perempuan saya di rumah sakit. Dia meminta saya segera meninggalkan negara itu sebelum aparat rezim menangkap saya juga. Setelah itu saya kemas semuanya dalam satu malam dan berangkat dengan penerbangan pertama ke Turki,” ujarnya.

Kakak perempuannya menggambarkan suasana kamp sebagai “mimpi buruk”; di mana wanita berusia 16 hingga lebih dari 70 tahun ditawan.

“Setiap pagi mereka dipaksa lari selama satu jam, termasuk perempuan lanjut usia yang bahkan tidak bisa berjalan. Beberapa kehilangan nyawa karena kondisi sulit di kamp.”

“Roti di pagi hari, sup di sore hari, dan roti di malam hari hanya diberikan sebagai makanan dengan satu syarat. Seseorang berlutut dan berterima kasih kepada rezim komunis China demi mendapatkan makanan yang tidak mencukupi,” katanya.

Wanita di kamp diperlakukan secara buruk. Mereka dipaksa untuk mengingat kembali kehidupan sebelumnya di kampung halaman mereka dan ‘bertobat’ seolah-olah itu adalah dosa.

Kakaknya kemudian dibawa ke kamp lagi pada tahun 2017. Sejak saat itu, Vahit tidak tahu apa yang terjadi pada kakaknya atau kedua saudara laki-lakinya.

Penyiksaan dan Sterilisasi Paksa

China secara luas dikecam karena telah menyekap orang-orang Uighur di kamp-kamp konsentrasi. Bahan ada laporan tentang sterilisasi paksa terhadap wanita Uighur.

Kebijakan Beijing di Xinjiang telah menuai kecaman luas dari kelompok-kelompok HAM, termasuk Amnesty International dan Human Rights Watch, yang menuduh China telah mengasingkan 12 juta orang Uighur di China, yang sebagian besar adalah Muslim.

Mirzahmet Ilyasoglu (39 tahun), telah tinggal di Turki sejak 2007 dan kemudian menjadi warga negara Turki. Berharap dapat memenuhi aspirasi almarhum ayahnya, Ilyasoglu menerima gelar sarjana di China dan mendapatkan gelar pascasarjana di Turki.

Ilyasoglu mengundang saudara laki-laki dan ibunya untuk mengunjungi Turki pada tahun 2014; di mana mereka mengunjungi tempat wisata di Istanbul dan melihat warna kehidupan lain di balik tembok tak terlihat di sekitar Xinjiang.

Namun perjalanan itu ternyata menjadi mimpi buruk bagi keluarga Ilyasoglu. Saudaranya, Helememet Ilyas, ditangkap oleh otoritas Tiongkok pada tahun 2017 gara-gara perjalanannya ke Turki.

“Kami diberitahu bahwa kamp adalah sekolah kerja, jadi saya diam selama tiga tahun. Akan tetapi, ketika kami tidak mendengar kabar dari keluarga kami selama tiga tahun, apakah mereka hidup atau mati, maka kami menyadari ini jauh dari sekolah,” kata Ilyasoglu sambil menangis.

“Diam terhadap Penindasan adalah Tanda Setuju”

Dia kemudian mengetahui bahwa saudara iparnya Abdurrehman Kuerwanjiangin juga dibawa ke kamp bersama dengan empat teman Ilyasoglu lainnya.

“Saya tidak dipenjara, tetapi saya merasa seperti yang mereka rasakan. Melalui kamp-kamp ini, China melakukan kejahatan. Tidak ada definisi lain,” ujarnya.

“Meskipun rezim selalu mengklaim bahwa wilayah Xinjiang adalah bagian dari China, mereka tidak pernah memandang orang-orang yang berada di sana sebagai warga negaranya sendiri,” ujarnya.

Hampir 8 juta orang dari populasi Muslim di Xinjiang telah ditahan di jaringan kamp-kamp konsentrasi yang terus meluas, menurut Turdiniyaz.

Turdiniyaz, Vahit dan Ilyasoglu secara terpisah mendesak komunitas internasional, negara-negara dunia dan organisasi kemanusiaan untuk berbicara atas ketidakadilan dan perlakuan tidak manusiawi oleh pemerintah Cina terhadap kelompok Muslim Turki.

“Diam terhadap penindasan hanyalah cara untuk menyetujuinya,” kata Ilyasoglu.

Kejahatan terhadap Kemanusiaan

Meskipun Ilyasoglu menyambut baik laporan tahunan Komisi Eksekutif Kongres AS untuk China (CECC) tahun 2020, dia mengatakan itu adalah pernyataan yang terlambat.

“China telah melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan dan kemungkinan genosida terhadap Uighur dan komunitas minoritas Muslim lainnya di provinsi Xinjiang barat,” kata CECC baru-baru ini.

Rezim China dengan sengaja bekerja untuk menghancurkan Uighur dan keluarga minoritas lainnya, budaya, serta kepatuhan terhadap agama.

“Selain bukti baru dari kebijakan sistematis dan meluas dari sterilisasi paksa dan penindasan terhadap Uighur dan populasi minoritas lainnya, ada setengah juta anak usia sekolah menengah dan dasar, dengan banyak di antaranya secara sengaja dipisahkan dari keluarga mereka,” menurut CECC.

“Semua tren ini harus dipertimbangkan ketika menentukan apakah rezim komunis China bertanggung jawab atas kejahatan kekejaman – termasuk genosida – terhadap Uighur, Kazakh, dan etnis minoritas lainnya di China,” tulis CECC dalam laporannya.

Tinggal di Turki sejak 2009, Medine Nazimi, 37, juga merasa hancur, khawatir, dan takut akan adik perempuannya yang berusia 34 tahun, Mevlude Hilal.

Nazimi, yang juga memperoleh kewarganegaraan Turki, mengatakan dia tidak tahu tentang kondisi saudara perempuannya selama lebih dari dua tahun.

Hilal, yang tinggal dan belajar di Turki dan memiliki kewarganegaraan Turki, awalnya disekap rezim China pada 2017, tetapi dibebaskan pada 2019. Tak lama setelah dibebaskan, dia terpaksa meninggalkan putrinya yang berusia hampir dua tahun dan dibawa lagi ke kamp pada tahun 2019.

Sejak saat itu mereka tidak tahu apa yang terjadi padanya. Putri Hilal sekarang berusia empat tahun dan tidak mengenal ibunya.

Nazimi kehilangan ibunya pada tahun 2019 tak lama setelah saudara perempuannya ditahan.

Nazimi memohon kepada pemerintah Turki dan Kementerian Luar Negeri untuk mencari tahu tentang Hilal dan membawanya kembali bersama putrinya ke Turki, karena mereka adalah warga negara itu.

“Meskipun hidup di negara bebas, saya tidak merasa bebas. Ketika hari-hari berlalu tanpa mengetahui tentang Hilal, saya tak merasa bebas,” ungkapnya.

Laporan Human Rights Watch 2018 memerinci operasi China tentang penahanan sewenang-wenang massal, penyiksaan, indoktrinasi politik paksa, dan pengawasan massal terhadap Muslim Xinjiang. (Anadolu Agency)

 

 

 

 

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Pemukim Ilegal ‘Israel’ Serukan Pembunuhan Para Sopir Palestina
Mahkamah Internasional Diperkirakan Bakal Tunda Putusan Akhir soal Genosida di Myanmar »