Sentimen Anti-Rohingya Kian Menguat di India, Muhajirin Makin Terhimpit

18 February 2021, 19:47.
Foto: Shaikh Azizur Rahman/VOA

Foto: Shaikh Azizur Rahman/VOA

INDIA (VOA News) – Muhajirin Rohingya yang berada di India bersembunyi di tengah ketakutan bahwa pemerintah akan menangkap mereka karena memasuki India secara ilegal.

Bulan lalu, aparat India telah menangkap banyak Muhajirin Rohingya dan memenjarakan mereka. Hal itu memicu kepanikan di antara Muhajirin Rohingya lain; yang menyelamatkan diri dari kekejaman Myanmar dan kini mengungsi di India.

“Ratusan orang Rohingya sudah tinggal di Bengal Barat selama beberapa tahun ini. Namun, hampir semuanya menghilang bulan lalu setelah beberapa warga Rohingya ditangkap di negara bagian itu. Banyak yang bersembunyi di negara-negara bagian India lainnya. Sebagian lagi pergi ke Bangladesh,” ujar seorang Muhajirin Rohingya, Nizam Uddin.

Bulan lalu, ia bersama ibunya, istri, dan tiga anaknya memutuskan untuk menyeberang ke Bangladesh setelah sebelumnya mengungsi selama tiga tahun di Bengal Barat, India.

Ia mengatakan, “Jika keluarga saya ditangkap, aparat India akan memenjarakan kami, lalu memaksa kami kembali ke Myanmar. Sementara Myanmar masih sangat tidak aman untuk warga Rohingya. Kami tidak mau kembali ke neraka itu. Saya sangat takut ditangkap. Jadi saya memilih melarikan diri dari India.”

Tak Banyak Pilihan Bagi Warga Rohingya

Demi menyelamatkan diri dari kebengisan dan kekerasan di Myanmar, etnis minoritas Rohingya selama puluhan tahun telah berupaya mencari suaka. Sebagian besar ke Bangladesh, selebihnya negara-negara tetangga lain.

Di India, diperkirakan terdapat 40.000 Muhajirin Rohingya pada tahun lalu.

Akibat tidak diakui sebagai warga negara oleh Myanmar, mereka tak bisa masuk ke negara lain secara legal. Terlebih India yang bukan merupakan negara anggota Konvensi PBB 1951 tentang Kepengungsian, memperlakukan setiap Muhajirin Rohingya yang datang sebagai imigran ilegal.

Diperkirakan 300-500 Muhajirin Rohingya berada di dalam tahanan karenanya.

Jan Mohammad, seorang Muhajirin yang sampai awal Januari kemarin masih tinggal di sekitar kota Kolkata, India bagian timur, mengatakan bahwa pamannya beserta dua Muhajirin Rohingya lain ditangkap ketika bepergian menggunakan kereta bulan lalu.

Awalnya, polisi India meminta paman dan dua kerabatnya untuk menunjukkan paspor Myanmar. Namun, sebagaimana Muhajirin Rohingya lain, mereka tidak memilikinya. Polisi langsung menangkap lalu memenjarakan mereka hingga saat ini.

Hussain Ahmad, seorang aktivis Rohingya mengatakan, “Polisi India meminta dokumen legal dari para Muhajirin yang sedang dalam pelarian, demi keselamatan hidupnya. Bagaimana bisa masyarakat Rohingya yang tak diakui sebagai warga negara di tanah airnya sendiri ini membuat paspor Myanmar maupun visa India?”

Sentimen Anti-Rohingya Menyeruak

Sentimen anti-Rohingya kian berkembang sejak partai nasionalis Hindu Bharatiya Janata Party (BJP) memenangi pemilu India tahun 2014.

Selama beberapa tahun terakhir, BJP didukung berbagai organisasi Hindu terus melancarkan tekanan untuk mengusir para Muhajirin Rohingya dari India.

Meenakshi Ganguly, Direktur Human Rights Watch (HRW) wilayah Asia Selatan mengutarakan, “India paham sepenuhnya bahwa Rohingya adalah komunitas yang paling dipersekusi di dunia. Hampir satu juta orang mengungsi ke Bangladesh. Sebagian kecil yang berada di India membutuhkan perlindungan agar tidak mengalami persekusi lagi. Hal ini merupakan tanggung jawab pemerintah India, yang juga tertuang dalam konvensi kepengungsian.”

“Demi kepentingan politik, kami menemukan bahwa etnis Rohingya diincar karena secara garis besar pemerintah nasionalis Hindu tersebut memang bertujuan untuk mempersekusi semua Muslim, termasuk para pengungsi Rohingya,” lanjutnya.

Aktivis HAM asal Bangladesh, Pinaki Bhattacharya berkomentar, “Pada tahun 2019, India mengamandemen UU Kewarganegaraannya dengan tujuan agar bisa memberikan status kewarganegaraan bagi etnis minoritas ‘non-Muslim’ yang dipersekusi di negara-negara tetangga.”

Lalu, “Meski India berbatasan langsung dengan Myanmar, nyatanya mereka tidak menawarkan bantuan kepada etnis minoritas Rohingya. Padahal mereka jelas-jelas mengalami persekusi hingga genosida di negerinya.”

“India sedang menyaksikan upaya besar kelompok sayap kanan Hindu yang ingin mengubah India menjadi Hindu Rashtra atau Negara Hindu. Pengungsi Rohingya dikejar-kejar di India tak lain karena mereka Muslim.” (VOA News)

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Klaim Demi “Keamanan”, Penjajah Zionis Gencarkan Pemasangan Kamera Pengintai
Serdadu Amerika Serikat Bangun Pangkalan Kedua di Provinsi Hasakah »