Pengacara: “Ditawan di Sel Isolasi Sejak 15 Agustus, Syaikh Raed Salah Tak Goyah Didera Tekanan dan Penindasan”

22 February 2021, 21:07.
Foto: Yassine Gaidi - Anadolu Agency

Foto: Yassine Gaidi – Anadolu Agency

PALESTINA (Middle East Monitor) – Pemimpin Gerakan Islam di wilayah Palestina yang dijajah ‘Israel’, Syaikh Raed Salah, telah ditawan di sel isolasi sejak 15 Agustus 2020.

Arabi21.com melaporkan, Ahad (21/2/2021), pengacaranya, Khalid Zabarqeh, mengatakan bahwa Syaikh Raed Salah menghadapi perlakuan yang kejam dan kondisi yang sulit di penjara ‘Israel’ di Gurun Negev.

Aktivis hak asasi manusia Palestina itu “divonis menjalani hukuman 17 bulan” di sel kecil yang terisolasi. Dia hanya diizinkan keluar sel selama satu jam dalam sehari.

Zabarqeh menyebut sel isolasi sebagai bentuk penyiksaan bagi tawanan di penjara ‘Israel’.

Ia menegaskan, penangkapan seseorang karena pandangan politik atau agama mereka adalah ilegal dan merupakan pelanggaran terhadap konvensi dan hukum HAM internasional.

Penyiksaan juga merupakan tindakan ilegal.

Pengacara Syaikh Salah hanya diizinkan untuk menemuinya sebulan sekali, sementara kunjungan keluarga telah dihentikan dengan dalih pandemi.

Selain itu, sipir zionis juga mencegah Syaikh Salah bertemu dengan tawanan politik Palestina lainnya atau berbicara dengan mereka.

Pengacaranya menyebut penjajah ‘Israel’ terus menekan Syaikh Salah untuk berhenti membela Masjid Al-Aqsha dan melawan pelanggaran yang dilakukan oleh penjajah.

Dia menekankan bahwa Syaikh Salah tetap berpegang teguh pada prinsip dan haknya, serta tidak terpengaruh oleh penindasan dan tekanan penjajah ‘Israel’ terhadapnya. Syaikh Salah menghabiskan waktunya dengan membaca, menulis, dan menggambar. (Middle East Monitor)

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Sembilan Malam Beruntun, Warga Palestina di Timur Tubas Meringkuk Tanpa Atap Dalam Suhu Beku
Ratusan Ribu Muhajirin di Bawah Garis Kemiskinan Ekstrem, UNRWA Didesak Batalkan Pemotongan Layanan »