Ratusan Muhajirin Rohingya di Jammu dan Kashmir Bakal Dideportasi ke Myanmar

8 March 2021, 18:50.
Gambar diambil pada 5 Oktober 2018. Foto: Reuters/Mukesh Gupta

Gambar diambil pada 5 Oktober 2018. Foto: Reuters/Mukesh Gupta

INDIA (Reuters) – Kepolisian India menahan lebih dari 150 Muhajirin Rohingya yang ditemukan tinggal di wilayah utara Jammu dan Kashmir.

Proses mendeportasi mereka kembali ke Myanmar pun telah dimulai, sebut dua pejabat India pada Ahad (7/3/2021).

Ratusan Muhajirin Rohingya dimasukkan ke pusat penampungan sementara di Penjara Hira Nagar, setelah aparat melakukan tes biometrik dan serangkaian tes lainnya untuk memverifikasi identitas ratusan orang di Jammu dan Kashmir.

“Operasi itu adalah bagian dari latihan untuk mengidentifikasi warga asing yang tinggal di Jammu tanpa dokumen yang semestinya,” sebut salah satu dari dua pejabat yang menolak disebutkan namanya.

“Kami telah memulai proses deportasi para pengungsi ini,” lanjut pejabat itu.

Para Muhajirin Rohingya yang berlindung di Jammu mengatakan bahwa mereka merasa cemas dengan penahanan dan ancaman deportasi tersebut.

“Kami akan pulang ketika perdamaian telah kembali ke negara kami,” kata Sufeera, Muhajirin Rohingya yang paman beserta saudara laki-lakinya ikut dikirim ke pusat penampungan, meninggalkannya sendirian bersama anak-anaknya.

Muhajir lainnya, Sadiq (48 tahun) yang anggota keluarganya kemarin juga tertangkap mengatakan, “Kami diberitahu bahwa kami akan dideportasi.”

Pemerintahan Perdana Menteri India, Narendra Modi, mencabut status khusus Jammu dan Kashmir pada bulan Agustus 2019.

Kedua wilayah tersebut sekarang dikelola langsung dari ibu kota India, New Delhi.

Pemerintah nasionalis Hindu tersebut juga menganggap Muslim Rohingya sebagai imigran ilegal dan ancaman terhadap keamanan dalam negeri.

Mereka memerintahkan agar ribuan Muhajirin Rohingya di India – yang mencari perlindungan itu – ditangkap dan dipulangkan ke Myanmar.

Muslim Rohingya merupakan etnis minoritas di Myanmar. Puluhan tahun mereka dipersekusi oleh militer dan rezim Myanmar.

Hingga puncaknya pada tahun 2017, ratusan ribu warga Rohingya terpaksa menyelamatkan diri ke negeri-negeri tetangga akibat operasi genosida militer Myanmar.

Ditambah, awal Februari kemarin, militer berdarah dingin tersebut berkuasa kembali setelah melakukan kudeta. Menyebabkan Muhajirin Rohingya semakin takut untuk pulang ke tanah airnya. (Reuters)

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Brigade Al-Qassam Bentuk Tim Khusus Selidiki Kematian Tiga Nelayan Palestina
Tandai Peringatan Isra Mi’raj, Syaikh Ikrimah Sabri Dorong Jamaah Muslim Tingkatan Kehadiran di Al-Aqsha »