Imbas Penjajahan Berkepanjangan, Anak-anak Palestina Terkungkung dalam Kesulitan

6 April 2021, 20:08.
Foto: Ali Jadallah - Anadolu Agency

Foto: Ali Jadallah – Anadolu Agency

PALESTINA (Middle East Monitor) – Hilir mudik di jalan-jalan Kota Gaza, Palestina, Ahmed (12 tahun) mencoba meyakinkan orang-orang yang ditemui untuk membeli masker yang dijualnya; sebagai upaya memenuhi kebutuhan.

Juragannya meminta Ahmed kembali sebelum matahari terbenam, atau Ahmed muda berisiko dipukuli, lapor Anadolu.

Ahmed hanyalah satu dari ratusan anak Palestina yang berjibaku dalam berbagai bentuk pekerjaan; imbas kemiskinan ekstrem yang disebabkan rentetan kezhaliman penjajah zionis ‘Israel’.

Hari Anak Palestina diperingati setiap 5 April. Saat momen itu tiba, kondisi anak-anak Palestina terus memburuk di tengah merebaknya wabah Covid-19.

Anak-anak Putus Sekolah

Guna mengekang penyebaran wabah, sekolah di seluruh dunia beralih ke pendidikan daring.

Bagi Rami Al-Khatib (8 tahun), opsi ini tak dapat diakses, meskipun otoritas Palestina meminta sekolah untuk menggunakan e-learning.

Keluarganya yang miskin tidak dapat menyediakan piranti yang diperlukan untuk pendidikan daring.

“Kami tidak mampu membeli paket internet dan laptop atau ponsel untuk Rami,” kata ibunya, Doa’a, kepada Anadolu Agency.

Dalam situasi ini, si kecil Rami telah tercerabut dari dunia pendidikan yang dibutuhkannya.

Berbicara kepada Anadolu Agency, Basim Abu Jeri, seorang peneliti di Pusat HAM Al-Mezan, mengatakan 34,83% siswa di Palestina tidak dapat mengikuti kelas virtual karena keluarganya tidak memiliki perangkat pendukung atau akses ke internet.

Pendidikan jarak jauh tidak menjamin kesetaraan dalam akses pendidikan. Sangat banyak keluarga yang hampir tidak mampu menyediakan kebutuhan dasar bagi anak-anaknya.

Kurangnya akses ke pendidikan dapat meningkatkan angka putus sekolah, bahkan memaksa anak-anak melakukan tindakan berbahaya. Seperti memasuki wilayah Palestina yang dicaplok ‘Israel’.

Al-Mezan mencatat bahwa 71,4% dari anak-anak yang ditangkap saat menyeberang ke wilayah Palestina yang dicaplok ‘Israel’ berstatus putus sekolah.

Peneliti Hussein Hammad, yang juga bekerja dengan Al-Mezan, menyebut penjajah ‘Israel’ telah merongrong peluang anak-anak Palestina untuk mengakses hak-hak mereka.

Terutama yang berkaitan dengan mobilitas, perawatan medis, dan keselamatan.

“Penjajah ‘Israel’ terus melanggar hak-hak anak, baik di Gaza atau Tepi Barat, melalui penangkapan, penyiksaan fisik atau psikologis, atau membatasi pergerakan mereka,” kata Hammad,

Anak-anak yang sakit di Gaza diblokir untuk mendapatkan perawatan yang lebih baik di rumah sakit di Tepi Barat atau wilayah Palestina yang dicaplok ‘Israel’.

Penolakan penjajah atas permintaan rujukan pasien kerap menyebabkan kematian.

Hammad menegaskan bahwa penjajah telah menghambat implementasi Konvensi Hak Anak yang diatur oleh hukum internasional.

Dalam sebuah laporan pada hari Minggu, Masyarakat Tawanan Palestina (PPS) mengatakan penjajah ‘Israel’ telah menangkap 230 anak Palestina sejak awal 2020.

Defense for Children International (DCI) cabang Palestina mengatakan bahwa 85% anak-anak yang ditangkap tahun lalu mengalami kekerasan fisik, sementara 27 anak ditempatkan di dalam sel isolasi.

DCI mengungkapkan, sembilan anak telah tewas di Tepi Barat dan Jalur Gaza pada tahun 2020.

Kemiskinan Akut

Hammad menggambarkan tahun 2020 sebagai tahun yang sangat berat bagi anak-anak Palestina; karena implikasi pandemi, kemiskinan akut, dan kezhaliman penjajah.

Menurut Hammad, sekolah yang terlalu padat meningkatkan kemungkinan penularan virus pada anak-anak.

Dia berpendapat bahwa pandemi telah memperburuk kemiskinan di wilayah Palestina, yang mendorong banyak anak untuk bekerja maupun mengemis.

“Fenomena ini sama dengan kejahatan terhadap anak-anak. Jelas dilarang berdasarkan hukum HAM internasional,” kata Hammad.

Aziza al-Kahlout, Juru Bicara Kementerian Pembangunan Sosial, memperkirakan terdapat 400 pengemis anak di jalan-jalan Gaza; yang dipicu kemiskinan maupun perceraian.

Ia menyebut kondisi sulit di Gaza telah menyebabkan peningkatan angka perceraian dan pengungsian anak-anak.

Untuk memperbaiki kondisi anak-anak di Palestina, Al-Kahlout mengungkapkan rencana kementeriannya untuk meluncurkan program nasional perlindungan sosial yang bertujuan memberikan manfaat bagi lebih dari 195.000 anak di bawah usia 18 tahun.

Biro Pusat Statistik Palestina mengestimasi, pada tahun 2020, hampir setengah dari penduduk Palestina di Gaza dan Tepi Barat berusia di bawah 18 tahun.

Lebih dari dua juta warga Palestina yang tinggal di Gaza terus menderita kondisi ekonomi yang memburuk akibat blokade ‘Israel’ yang diberlakukan sejak 2006. (Middle East Monitor)

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Serdadu Zionis Culik Tokoh Hamas dan Dua Mantan Tawanan Palestina di Bayt Lahm
Wartawan Foto Spanyol Singkap Kejahatan Rezim Assad kepada Dunia »