Wartawan Foto Spanyol Singkap Kejahatan Rezim Assad kepada Dunia

7 April 2021, 19:07.
Seorang pria Suriah menangis saat membopong jenazah putranya di dekat Rumah Sakit Dar Al Shifa di Aleppo. Bocah itu dibunuh oleh serdadu rezim Suriah, 3 Oktober 2012. Foto: Arsip Manu Brabo / AP

Seorang pria Suriah menangis saat membopong jenazah putranya di dekat Rumah Sakit Dar Al Shifa di Aleppo. Bocah itu dibunuh oleh serdadu rezim Suriah, 3 Oktober 2012. Foto: Arsip Manu Brabo / AP

SURIAH (Aljazeera) Desember 2010, protes meletus di Tunisia, yang memicu unjuk rasa serupa di Timur Tengah dan Afrika Utara. Termasuk di Mesir, Libya, Yaman, dan Suriah.

Sepuluh tahun sejak awal Musim Semi Arab, fotografer yang mengabadikan tahun-tahun revolusi merefleksikan apa yang mereka lihat dan apa arti peristiwa saat itu bagi mereka.

Manu Brabo adalah jurnalis foto Spanyol, pemenang penghargaan yang meliput revolusi di Libya dan Suriah. Ia bercerita tentang sebuah foto yang diambilnya di Aleppo pada tahun 2012.

Saat itu, 3 Oktober 2012, merupakan tahun kedua perlawanan rakyat terhadap rezim zhalim Bashar al-Assad.

Rezim tersebut kian kehilangan kendali atas wilayah yang luas, karena beberapa kelompok bersenjata berjuang bersama di bawah bendera Tentara Pembebasan Suriah (FSA).

Pada masa itu, sebagian besar Aleppo berada di bawah kendali kelompok mujahidin (pemerintah menyebut mereka pemberontak, sedangkan rakyat menyebut mereka mujahidin).

Di lingkungan Saif al-Dawla yang dikuasai mujahidin, tiga wartawan – James Foley, Zack Baille, Antonio Pampliega – bersama saya, telah mengubah hunian tiga kamar tidur menjadi basis operasi kami selama bulan-bulan pertama berkobarnya pertempuran.

Bangunan itu juga menampung dua unit kelompok bersenjata yang berafiliasi dengan FSA yang beroperasi di zona tersebut, yang meliputi front Izaá, Amariya, Salahadeen, dan Saif al-Dawla.

Pagi itu, sekitar pukul 6 pagi, tiga anggota muda FSA datang ke apartemen kami. Mereka mengajak kami pergi.

Saya dan Antonio setuju untuk menemani kelompok kecil itu ke garis depan. Kami bergerak tangkas melewati puing-puing dan berlari melintasi setiap penyeberangan dalam perjalanan ke sana.

Kami perlu melakukan kontak dengan unit FSA lain yang tengah menghadapi sekelompok kecil serdadu rezim yang terperangkap di dalam sebuah gedung.

Sepanjang malam terjadi baku tembak, dan mereka tidak menyerah. Di pagi hari, mereka melancarkan serangan ke gedung, tanpa ragu-ragu. Mereka melontarkan bom molotov, granat, dan banyak tembakan senapan mesin. Akhirnya, gedung itu berhasil dibersihkan.

Antonio dan saya menangkap seluruh operasi dalam deretan gambar. Dan, meskipun masih pukul 10 pagi, saya menganggap bahwa hari itu adalah “hari yang baik” untuk pekerjaan saya.

Agenda selanjutnya adalah kembali ke apartemen, mengedit apa yang telah kami potret, dan memulai petualangan kecil harian kami untuk mencapai lokasi di mana para mujahidin telah mendirikan pusat media.

Di lokasi itu, kami dapat mengirimkan materi kami ke dunia luar; menggunakan layanan internet berkualitas buruk yang berhasil mereka dapatkan untuk kami.

Namun perlahan saya menyadari bahwa pekerjaan saya baru saja dimulai. Nantinya, di hari yang sama, saya akan mengambil foto di depan Rumah Sakit Dar Al Shifa.

Sungguh Berat Memotret Momen Duka

Malam sebelumnya, tiga rekan baru telah tiba di Aleppo: Favio Bucciarelli, Cesare Quinto, dan Maysun.

Saya menawarkan, dalam beberapa hal, menjadi pemandu mereka. Karena saya telah bekerja di dalam dan luar kota sejak akhir Agustus.

Ternyata, pemberhentian pertama dan satu-satunya adalah rumah sakit.

RS Dar Al Shifa adalah gedung berlantai lima yang lantai dasar dan ruang bawah tanahnya digunakan untuk merawat pasien. Lantai pertama dan kedua digunakan untuk staf.

Adapun lantai-lantai di atasnya telah dihancurkan oleh serangan udara yang tak terhitung jumlahnya.

Di rumah sakit, kami berupaya membangun hubungan yang baik dengan petugas kesehatan dan relawan setempat.

Rumah sakit selalu menjadi tempat yang tepat bagi jurnalis untuk memulai eksplorasi, terlepas dari konfliknya. Dan itu adalah tempat yang jauh lebih baik untuk memulai daripada berhenti.

Saya sedang berbincang dan minum teh dengan beberapa relawan di aula ketika seorang pria bertubuh tegap bergegas masuk membopong seorang anak, yang tampaknya berusia 11 tahun.

Dari reaksi staf, situasinya mengerikan: mereka langsung membuka jalan melalui deretan orang yang terluka yang membanjiri lorong utama rumah sakit setiap hari.

Dikelilingi oleh dokter dan perawat, keduanya memasuki ruang gawat darurat yang belum sempurna.

Pintu menutup di belakang mereka, dan suasana hening seketika.

Saya berdiri di sana, meraba-raba kesimpulan, dan mengatur rencana bagaimana saya akan mengambil kesempatan berfoto yang saya tahu akan datang dalam beberapa menit ke depan: seorang ayah yang perasaannya tercabik, perang telah merampas anaknya.

Pintu UGD pun terbuka. Duka yang tajam datang bersamanya – diiringi tangisan, jeritan kemarahan, dan sakit hati.

Putra pria itu telah meninggal. Dia berjalan gontai dengan air mata kesedihan dan ketidakberdayaan.

Dia membopong putranya dalam pelukannya – dengan cara yang sama seperti yang dia lakukan sebelumnya ketika membawanya ke tempat tidur UGD – melintasi aula menuju pintu depan, titik di mana dia terjatuh.

Tidak ada yang mendekatinya. Semua orang memberinya ruang; seolah-olah dengan berdiri terpisah, kita akan lebih menghargai rasa sakitnya.

Seolah semua orang tahu bahwa pada saat itu tidak ada pelipur lara yang bisa ditemukan, dan tidak ada pelukan yang akan menghibur.

Keempat fotografer di sana memotret dengan perasaan takut.

Sungguh tidak mudah mengarahkan lensa kamera saat ada rasa sakit yang begitu parah.

Pria itu tumbang, dengan tetap membopong jenazah putranya yang masih hangat, mencari ruang di jalan yang penuh dengan puing-puing.

Pemandangan tentang Kematian Seolah Biasa

Ini adalah gambaran langsung tangisan kepedihan. Saya memotret; pertama dengan lensa 24mm, lalu dengan lensa 50mm, lalu pergi.

Namun, sekuelnya ternyata lebih lama dan menyakitkan. Di jalan yang penuh dengan puing-puing, pria itu hilir mudik membopong jenazah sang anak, menunggu kendaraan yang akan membawa mereka pulang.

Dia duduk di trotoar, berderai air mata. Di sekelilingnya, orang-orang yang melintas, menatap sesaat, lalu melanjutkan berjalan dengan kepasrahan.

Mereka telah melihat pemandangan yang sama terlalu sering sebelumnya.

Kami, kelompok fotografer, melihat dari jauh – dalam diam, dengan jiwa yang kusut, mencoba berdamai dengan karya foto kami dan kontradiksi yang begitu menyakitkan.

Perjalanan kembali ke apartemen sungguh hening. Tidak ada yang berbicara di dalam mobil. Kami terpukul oleh tampilan rasa sakit yang luar biasa itu.

Dan sebagian – setidaknya bagi saya – sadar bahwa saya memiliki salah satu foto yang menceritakan kisah itu dengan baik.

Malam itu, berkat modem USB yang kami ambil dari salah satu serdadu rezim Assad yang ditangkap pagi itu, saya dapat mengirim satu set foto beresolusi sangat rendah ke editor saya.

Kenangan abadi, dan terbaik, yang diberikan foto ini kepada saya adalah banyaknya pesan dari berbagai orang yang telah melihatnya, kemudian berbicara kepada saya tentang rasa sakit dan empati.

Juga tentang keinginan mereka memeluk anak-anaknya lebih erat, serta lebih mencintai mereka.

Atau tergerak menjadi sadar dan aktif sehingga dalam beberapa hal, tidak seorang pun di dunia ini yang harus menjadi ayah di trotoar itu lagi.

Namun sayangnya, seiring berjalannya waktu, foto tersebut telah menjelma menjadi sebuah objek semata, terlepas dari makna dan realitanya. (Aljazeera)

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Imbas Penjajahan Berkepanjangan, Anak-anak Palestina Terkungkung dalam Kesulitan
Perempuan Palestina Berusia 73 Tahun Tewas Ditabrak Pemukim Ilegal ‘Israel’ »