Mengenang Nasihat Syaikh Abu Bakar Al-‘Awawidah (#1) – Kisah di Garis Depan Perjuangan Baitul Maqdis

8 April 2021, 17:58.
Syaikh Abu Bakr Al-’Awawida (kiri) dan Direktur Al-Sarraa Foundation (tengah) pada Ramadhan 1428 H (2007) mengunjungi Ustadz Arifin Ilham, yang waktu itu baru pulih dari operasi di lehernya. Foto: Sahabat Al-Aqsha

Syaikh Abu Bakr Al-’Awawida (kiri) dan Direktur Al-Sarraa Foundation (tengah) pada Ramadhan 1428 H (2007) mengunjungi Ustadz Arifin Ilham, yang waktu itu baru pulih dari operasi di lehernya. Foto: Sahabat Al-Aqsha

SAHABAT AL-AQSHA – 25 Sya’ban 1442 H / 7 April 2021, telah berpulang ke rahmatullah Syaikh Abu Bakar Al-‘Awawidah.

Beliau adalah sesepuh Perhimpunan ‘Ulama Palestina yang ikut mengarahkan pendirian Sahabat Al-Aqsha.

Berulang kali keluar masuk penjara zionis hingga matanya buta akibat dipukuli dan disetrum, tak membuat beliau mengurangi keteguhannya memberi penerangan ruhiyah dan ilmiyah kepada rakyat Palestina.

Semoga Allah merahmati beliau dengan rahmat-Nya yang luas. Membalas seluruh khidmahnya, jihadnya, dan jasanya untuk ummat Islam. Serta menempatkan beliau dalam kenikmatan dan keabadian surga-Nya.

Ramadhan tahun lalu, saat pandemi melanda bumi, Syaikh Abu Bakar Al-‘Awawidah berbagi cerita sekaligus memberi untaian nasihat, khususnya kepada ummat Islam di Indonesia.

Beberapa edisi kedepan, Sahabat Al-Aqsha mengajak pembaca sekalian untuk menyimak kembali mutiara hikmah yang beliau sampaikan. Semoga mencerahkan dan kian mengokohkan energi perjuangan.

======================

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam, shalawat dan salam kita haturkan kepada Imam para mujahid, sayyidul awwalin wal akhirin, baginda kita, pemimpin kita dan suri tauladan kita Nabi Muhammad Shallallaahu ‘alayhi wa sallam beserta para keluarga, sahabat, dan para pengikutnya yang diridhai hingga hari pembalasan.

Saudara-saudaraku di Indonesia, wahai rakyat Indonesia yang besar.

Assalaamu‘alaykum warahmatullaahi wabarakaatuh

Wahai saudara-saudaraku dan sahabat-sahabatku, saya telah mengunjungimu berulang kali; di Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, Solo, dan daerah-daerah lainnya.

Saya belum pernah mendapati rakyat yang mencintai Islam, mencintai Al-Quds, mencintai Al-Aqsha seperti cintanya rakyat Indonesia, Maa-syaa Allah.

Optimisme kalian terhadap urusan Palestina, terhadap urusan Al-Aqsha sangat istimewa, sangat berbeda.

Dan ini tidaklah mengherankan, tidak mengherankan sama sekali bagi rakyat Indonesia. Ini rakyat yang besar, rakyat yang cerdas, rakyat yang baik karakternya.

Saya katakan cerdas dan baik karakternya karena mereka telah memilih Islam dengan qana’ah (lapang dada).

Islam masuk (di Indonesia) tidak melalui para penakluk dan para pejuang, akan tetapi lewat para dai-dai yang menyeru kepada Allah.

Para dai-dai itu berjumpa dengan orang-orang cerdas lagi baik karakternya. Dan dari negeri yang besar ini telah masuk Islam rakyatnya berbondong-bondong.

Wahai saudaraku, ucapan terima kasih kami sampaikan dari rakyat Palestina dan ummat atas segala kebaikan.

Kami wahai saudaraku, di Baitul Maqdis menyuguhan acara/program, yaitu keluarga Baitul Maqdis (Al-Aqsha). Kami sampaikan kepada kalian bahwa di sana ada (saudara-saudara kita) yang berada di garis terdepan untuk ummat ini, yaitu di sisi-sisi Al-Aqsha, di halaman Al-Aqsha, di sekitar Al-Aqsha.

Kami mempertahankan agama ummat ini, mempertahankan aqidah ummat ini, mempertahankan kemuliaan ummat ini, mempertahankan kiblat pertama, Masjid Al-Aqsha, masjid yang diberkahi, yang mana ia adalah kiblat pertama kita.

Kita sebagai Muslim berkiblat pertama kali ke sana, ke Al-Aqsha. Dan ia juga masjid kedua sebagaimana dalam hadits shahih Al-Bukhari bahwasanya Masjid Al-Aqsha dibangun setelah Ka’bah setelah empat puluh hari atau empat puluh tahun, dan yang rajah (kuat) adalah empat puluh tahun.

Sebagaimana dikabarkan oleh Rasulullah Shallallaahu ‘alayhi wa sallam, bahwa ia adalah masjid kedua yang dibangun, dan masjid urutan ketiga yang disucikan, sebagaimana dalam hadits: “Janganlah engkau berkeinginan yang kuat untuk bepergian, kecuali ke tiga masjid: Masjidil Haram, Masjid Nabawi, dan Masjidil Aqsha”

Wahai saudaraku, masjid ini, masjid yang wajib bagi kita untuk mengunjunginya, sekarang berada di bawah penjajahan zionis. Orang bisa berkunjung ke Masjid Haram dan berkunjung ke Masjid Rasulullah untuk haji dan umrah, akan tetapi dilarang untuk berkunjung ke Masjidil Aqsha al Mubarak.

Oleh karena itu, harus bagi ummat bersikeras untuk mengunjungi Masjidil Aqsha dengan darah-darahnya, dengan hartanya, dengan ilmunya, dengan menginformasikannya, dan dengan segala kekuatannya yang memungkinkan, sampai Masjidil Aqsha merdeka.

Dan bagaimana caranya? Caranya yakni dengan mendukung mereka para mujahid, para murabith (penjaga) di halaman Al-Aqsha dan di sekitar Al-Aqsha, yaitu ikhwah kita semua di Gaza, yang mempertahankan kemuliaan dan kehormatan ummat ini dengan senjata.

Dan juga ikhwah kita di Tepi Barat, di Al-Quds yang sejak 48 tahun mereka telah berada di al-Aqsha. Dan lebih khusus penduduk Baitul Maqdis dan penduduk Al-Quds, merekalah yang mengepung para zionis.

Lantas apa yang kalian berikan kepada mereka wahai saudaraku? Karena apa saja yang kalian berikan untuk mendukung saudara-saudara kita di sana, akan dicatat –atas izin Allah– sebagai salah satu saham dari saham-saham jihad di jalan Allah.

Dan Rasulullah Shallallaahu ‘alayhi wa sallam mengabarkan kepada kita bahwa tidak boleh di antara kita meremehkan dari pemberiannya yang hanya sedirham.

Rasulullah bersabda dalam hadits yang shahih: “Satu dirham dapat mengalahkan seratus ribu dirham”. Maksudnya adalah satu dirham itu, meski dari seorang faqir yang tidak memiliki apa-apa kecuali dua dirham saja, ketika dia memberikan satu dirham itu, maka diterima di sisi Allah dibandingkan seratus ribu dirham yang diberikan oleh orang yang kaya, karena ketulusan dan keikhlasanlah yang menghiasinya.

Dan wajib bagi kita memperindah diri dengannya, karena itu yang dapat menyambungkan kita –atas izin Allah– dengan Al-Quds kita, dengan Al-Aqsha kita, dengan Palestina kita, dan ia yang mengangkat derajat-derajat kita di sisi Allah dan menjadikan kita orang-orang yang diterima oleh Rabb semesta alam.

Dan itu juga yang menjadikan ketinggian derajat kita bertambah di surga, sebagaimana dikabarkan Rasulullah Shallallaahu ‘alayhi wa sallam bahwa derajat yang dipersiapkan untuk para mujahid di jalan Allah ada seratus derajat, dan jarak antar derajat seperti langit dan bumi.

Lalu bagaimana kita menaikkan derajat kita? Bagaimana cara mendakinya? Yaitu, dengan berjihad dengan darah-darah kita. Dan inilah sekarang yang dilakukan oleh rakyat Palestina dan In-syaa Allah ummat seluruhnya bisa ikut juga dengan darah-darahnya seperti rakyat Palestina. Akan tetapi, bagi yang tidak bisa dengan darahnya, ia bisa ikut dengan hartanya.

Rasulullah Shallallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda: ”Barang siapa yang memberikan persiapan untuk peperangan di jalan Allah, maka sungguh telah dianggap berperang. Dan barang siapa yang berlaku sebagai pengganti orang yang berperang di dalam keluarganya dengan memberikan kebaikan (nafkah), maka dia dianggap juga ikut berperang”.

Artinya bahwa orang yang mendukung para mujahid, mendukung keluarga-keluarga mujahid, keluarga syuhada, keluarga jabhah, keluarga mujahid yang dipenjara, keluarga-keluarga murabith (penjaga) yang berada di al-Aqsha dan sekitarnya, semua dicatat sebagai amal bagi kalian.

Wahai rakyat Indonesia, di sana saudara-saudara kalian, di teras-teras ilmu, di pelataran-pelataran Masjidil Aqsha al-Mubarak, saudara kalian berdiri di depan perampok yang mengotori Masjid al-Aqsha setiap hari. Kita lihat mereka; bagaimana mereka berteriak-teriak di depan kaum zionis? Bagaimana mereka bertakbir di depan zionis? Bagaimana mereka mengusir zionis dari Masjidil Aqsha?

Saudara dan saudari kalian di sana, di halaman Masjidil Aqsha dan sekitarnya, melihat dan menunggu dukungan kalian, yang In-syaa Allah ALLAH menerima amalan kami dan kalian.

Yaa Allah tolonglah saudara-saudara kami di Palestina…

Yaa Allah tolonglah saudara-saudara kami di Masjidil Aqsha al-Mubarak…

Yaa Allah tolonglah saudara-saudara kami di sekitar Masjidil Aqsha al-Mubarak…

Yaa Allah tolonglah saudara kami di Gaza…

Yaa Allah tolonglah saudara-saudara kami para mujahid yang berada di jalanMu di semua tempat…

Yaa Allah tolonglah kami, tetapkan dan kuatkan kami di Indonesia dan di seluruh negeri Muslim…

Yaa Allah jauhkan dari kami penyakit dan wabah dan dari penguasaan musuh, yang mana tidak ada yang dapat menjauhkannya kecuali Engkau…

Yaa Allah jauhkan kami dari korona dan segala keburukan…

Yaa Allah tolonglah kami wahai Dzat yang Mahaperkasa dan Maha Penguasa…

Wa shallallaahu ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘alaa aalihi wasahbihi wasallam Walhamdulillaahi Robbil ‘aalamiin. (*)

Berita 1871 (8 April 2021).jpeg - poster

Link Video: Sahabat Al-Aqsha on Instagram: “Syaikh Abu Bakar Al-‘Awawidah (Anggota Senior Perhimpunan Ulama Palestina). . Beliau seorang ulama Palestina yang matanya buta akibat…”

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Lindungi Anak Palestina yang Dipukuli, Pemimpin Sebastia Diserang Pemukim Ilegal ‘Israel’
VIDEO – Dr Zakir Naik: Yang Terjadi di Xinjiang adalah Penyiksaan, Bukan “Pendidikan” »