Enam Tawanan Palestina Berhasil Lolos dari Penjara Gilboa

7 September 2021, 19:12.
Sumber: Middle East Monitor

Sumber: Middle East Monitor

BAITUL MAQDIS TERJAJAH (Safa.ps | Middle East Monitor) – Kemarin, Senin (6/9), pukul 4.00 waktu setempat, enam tawanan Palestina yang dijatuhi hukuman penjara seumur hidup berhasil melarikan diri dari penjara ketat di ‘Israel’, penjara Gilboa, yang terletak di dekat kota Bisan di Palestina terjajah.

Berdasarkan informasi yang diterima oleh kantor berita Safa, penjara ini disebut sebagai “benteng besi” karena ketat dan kuatnya sistem pengamanan di dalam penjara tersebut.

Media ‘Israel’ Haaretz memberitakan, enam tawanan tersebut berada di satu sel, dan mereka adalah: lima aktivis gerakan Jihad Islam, dan satu aktivis Brigade Syuhada Al-Aqsa.

Penjara Gilboa relatif baru. Terletak di Ghour Bisan, sebelah penjara Shata yang lama dan merupakan bagian darinya. Dibuka pada April 2004 dan terdiri dari lima bagian, di setiap bagian terdapat 15 kamar, dan masing-masing kamar menampung delapan tawanan.

Pada awal peresmiannya, 70 tawanan Palestina yang dianggap sebagai tawanan ‘inti’ yang tersebar di seluruh penjara ‘Israel’ dipindahkan ke penjara Gilboa sebagai bagian dari rencana penjajah ‘Israel’ untuk memisahkan mereka dari para tawanan yang lain. Dengan demikian, mereka dapat diawasi dengan super ketat secara terpisah. Menurut sumber-sumber di media ‘Israel’, penjara Gilboa adalah penjara paling dijaga dengan ketat di ‘Israel’. Penjara itu dibangun dan berada di bawah pengawasan para ahli dari Irlandia.

Singkatnya, penjara Gilboa adalah lapisan benteng yang dibangun dari beton dan baja, dikelilingi oleh tembok setinggi sembilan meter, dengan lapisan besi yang dipasang di atasnya, sebagai ganti dari kawat berduri yang biasanya digunakan di semua penjara.

Gilboa juga dilapisi dengan “elemen rahasia” yang telah ditanam di bawah lantai penjara sehingga sulit digali karena jika ada bagian dari beton yang menutupi lantai penjara lepas, maka warna lantai ruangan akan berubah menjadi warna lain yang menunjukkan adanya upaya penggalian lantai penjara.

Pukulan Telak

Mantan tawanan penjara ‘Israel’ Mahmoud Mardawi mengatakan, pelarian dari penjara Gilboa di Bisan, Palestina terjajah, pada Senin (6/9) pagi, mengingatkan kita pada pelarian besar pada tahun 1968, serta usaha melarikan diri 20 tahun yang lalu dari penjara yang sama.

Mardawi menganggap “operasi pelarian yang diberkahi” ini merupakan pukulan telak bagi sistem keamanan ‘Israel’ karena Direktorat Penjara ‘Israel’ dan berbagai instansi di bawahnya telah mengambil beberapa langkah untuk mencegah terjadinya pelarian semacam ini dengan menerapkan sistem keamanan  di penjara Gilboa sebagaimana berikut ini:

1- Melapisi lantai kamar dengan lapisan beton dengan kerangka besi yang sangat tahan lama.

2- Memasang besi cor baja dengan bahan kuat khusus di bagian jendela, yang memiliki sensor peringatan yang memperingatkan sipir ketika ada tawanan yang mencoba melarikan diri.

3- Dinding beton berlapis tebal.

4- Pagar bagian dalam sepanjang delapan meter dan dipasang kawat berduri di atasnya.

5- Anjing penjaga yang tersebar di sekitar dinding penjara yang meliputi seluruh area penjara.

6- Pagar tinggi dari kawat berduri.

7- Patroli ketat dan terus-menerus di sepanjang jalan sekitar penjara untuk memastikan keamanan penjara.

8- Menara tinggi tersebar di titik-titik terpisah yang menutupi penjara dari semua sisi sehingga dapat melakukan pengawasan secara ketat dengan mata telanjang dan kamera elektronik resolusi tinggi.

Mardawi menambahkan, aparat keamanan di penjara tersebut bertugas untuk mencegah kaburnya tawanan, bertanggung jawab memeriksa sistem keamanan ini dan memastikannya berjalan efektif, serta selalu melakukan pemeriksaan berkala sebagaimana berikut:

1- Pengecekan secara rutin area lantai, dinding dan jendela tiga kali sehari dengan alat khusus.

2- Pengawasan intensif di dalam kamar para tawanan penjara seumur hidup yang mungkin berpikir untuk melarikan diri. Prosedur keamanan ini dilaksanakan oleh bagian Intelijen di Direktorat Penjara.

3- Memberikan label khusus pada kartu penjara masing-masing tawanan yang mungkin berpikir untuk melarikan diri sehingga mereka bisa terus ditempatkan di bawah pengamatan dan pengawasan ketat. Mereka juga secara acak dipindahkan antarkamar, bagian, dan penjara yang berbeda.

4- Pemeriksaan ketat dengan berbagai prosedur dan alasan sepanjang waktu, seperti melucuti pakaian, pemeriksaan ponsel, penyemprotan dan sejenisnya, untuk mencegah dan menutup segala kemungkinan bagi tawanan untuk melarikan diri.

Kecerdasan Palestina Bungkam Kecerdasan ‘Israel’

Mardawi mengatakan, “Meskipun berada di bawah pengawasan sedemikian ketat, para pahlawan dapat menggali dengan alat sederhana tanpa suara dan membersihkan sisa-sisa galian terowongan tanpa jejak. Ini adalah kekalahan bagi kecerdasan ‘Israel’ dan kemenangan bagi kecerdasan Palestina.”

Dia juga menambahkan, “Pengalaman telah membuktikan, para tawanan Palestina terus mencoba melarikan diri, dan penjara-penjara ‘Israel’ menjadi saksi puluhan upaya, beberapa di antaranya berhasil, dan yang lain tertangkap saat berusaha melarikan diri. Pertemuan di garis depan ini tidak akan berhenti dan justru akan semakin menyala-nyala.”

Dia melanjutkan, “Operasi ini sangat menyakitkan bagi keamanan ‘Israel’, mengingatkan mereka pada pelarian dari penjara Ashkelon, yang digambarkan sebagai operasi Hollywood karena akurasinya, kecerdikan perencanaannya, dan keberanian mereka yang melakukannya.”

Siapa saja mereka?

1.Mahmud Abdullah ‘Aridhah (46) dari daerah Arraba barat daya Kota Jenin, kali pertama ditawan pada tahun 1992, kemudian dibebaskan pada tahun 1996.

Dia ditawan lagi pada September 1996 dan dijatuhi hukuman seumur hidup, setelah dituduh sebagai anggota sayap militer Jihad Islam dan melakukan serangan terhadap serdadu zionis.

2.Muhammad Qasim ‘Aridhah (39) dari daerah Arraba, ditangkap pada 7 Januari 2002, sebelum dibebaskan pada Maret tahun yang sama. Dia ditangkap kembali pada 16 Mei 2002 di Ramallah dan dihukum tiga kali penjara seumur hidup.

3.Ya’qub Mahmud Qadiri (39) dari desa Bir Al-Basha di barat laut Kota Jenin, diincar serdadu zionis sejak tahun 2000. Qadiri menentang pembantaian penjajah di kamp muhajirin Jenin tahun 2002.

Tanggal 18 Oktober 2003, dia ditawan dan dijatuhi dua hukuman seumur hidup. Tahun 2014, dia bersama dengan tawanan lainnya berusaha meloloskan diri dari Penjara Shatta, tetapi tidak berhasil.

4.Ayham Nayef (35) dari desa Kafr Dan dekat kota Jenin, diincar oleh serdadu zionis sejak tahun 2003. Dia ditawan pada 4 Juli 2006 dan dijatuhi dua hukuman seumur hidup.

5.Zakaria Zubaidi (46) dari kamp nuhajirin Jenin. Disekap sejak 2019. Ia adalah mantan komandan Brigade Syuhada Al-Aqsa. Pada tahun 2006, Zubaidi terpilih sebagai anggota Dewan Revolusi Fatah.

Dia ditawan oleh serdadu zionis di Ramallah pada 27 Februari 2019. Dia belum dihukum untuk kejahatan apa pun.

6.Munadhil Ya’qub Anfi’at (26) dari daerah Ya’bad dekat Kota Jenin, ditawan oleh serdadu zionis pada tahun 2006, kemudian dibebaskan pada tahun 2015.

Dia ditangkap kembali pada tahun 2016 dan tahun 2020. Ia dituduh menjadi anggota sayap bersenjata Jihad Islam dan terlibat dalam serangan terhadap serdadu zionis. Ia belum menerima vonis akhir. (Safa.ps | Middle East Monitor)

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Penjajah Zionis Desak Pemuda Baitul Maqdis Hancurkan Sebagian Rumahnya
Enam Tawanan Palestina Lolos, Penjajah Tutup Penjara Gilboa dan Dirikan 260 Pos Pemeriksaan »