Muhajirin Rohingya di Kamp Pengungsian Bangladesh Hadapi Kesewenangan Aparat dan Kekerasan Kelompok Bersenjata

16 November 2021, 07:45.
Foto: Arsip Munir Uz Zaman/AFP

Foto: Arsip Munir Uz Zaman/AFP

(ALJAZEERA) – Muhajirin Rohingya di kamp pengungsian Bangladesh terjebak di antara kesewenangan polisi dan kekerasan kelompok bersenjata Arakan Rohingya Salvation Army (ARSA).

Dilaporkan Aljazeera, Jumat (12/11/2021), kepolisian Bangladesh mulai melancarkan operasi besar setelah terjadi pembunuhan kepada Mohibullah, seorang aktivis Rohingya terkemuka.

Mohibullah ditembak mati dari jarak dekat oleh orang-orang bersenjata di kantornya di kamp Kutupalong pada akhir bulan September.

Setelah pembunuhan Mohibullah, Menteri Luar Negeri Bangladesh AK Abdul Momen berjanji untuk mengambil “tindakan tegas” terhadap para penyerang, dengan mengatakan, “tidak ada yang akan selamat”.

Lebih dari 170 tersangka telah ditangkap sejauh ini sebagai bagian dari tindakan keras tersebut.

Sayangnya, para Muhajirin Rohingya mengatakan operasi besar atas pembunuhan Mohibullah ini menjadi dalih bagi pasukan Bangladesh untuk berlaku sewenang-wenang.

Pasukan Bangladesh diduga telah melakukan pemerasan, penyiksaan, bahkan sampai pelecehan seksual.

Ahmed (nama samaran) mengatakan bahwa ia melihat pasukan keamanan Bangladesh memaksa seorang Muslimah Rohingya membuka niqabnya.

Pada kejadian yang lain, ia mengaku mendengar seorang Muslimah menjerit di pos pemeriksaan.

“Ketika saya bertanya kepadanya, ia mengatakan bahwa polisi di sana menyentuh bagian privasinya dengan alasan pemeriksaan.”

Ahmed juga menjelaskan, prosedur pengamanan yang ditingkatkan setelah kematian Mohibullah membuat hampir setiap Muhajirin Rohingya di kamp seolah menjadi tersangka.

“Sembilan puluh sembilan persen Muhajirin (di kamp) bukan orang jahat, tetapi mereka memperlakukan kami seolah kami semua sama,” ujarnya.

Hussein, Muhajirin lain menyebutkan, setidaknya terjadi delapan kali insiden pemerasan oleh pasukan keamanan Bangladesh.

Mulai dari 700 taka Bangladesh (sekira Rp114.000) hingga 2.000 taka (sekira 3,3 juta rupiah), diduga keluar dari kantong para Muhajirin untuk mendapatkan ponsel mereka kembali yang disita aparat Bangladesh.

Hussein juga diinterogasi tentang nomor-nomor telepon di dalam daftar kontaknya.

“Mereka akan memeriksa WhatsApp, Facebook, email, messenger kami. Jika mereka menemukan kontak yang asing, mereka menuduh kami menjual informasi dan bekerja dengan teroris. Jika tidak memberikan uang, mereka akan membawa kami ke kantor polisi. Mereka memperlakukan kami lebih rendah dari binatang,” keluhnya.

Hussein juga mengatakan pos-pos pemeriksaan di kamp itu mengingatkannya kembali terhadap pemerintahan militer Myanmar yang brutal.

“Polisi tidak memiliki rasa kemanusiaan ataupun belas kasihan. Ketika ada seseorang yang membutuhkan bantuan, mereka pasti meminta uang imbalan,” ujarnya.

Mohibullah, 46 tahun, adalah mantan guru ilmu pengetahuan alam yang menjadi pimpinan Arakan Rohingya Society for Peace and Human Rights.

LSM tersebut ia bentuk untuk mendokumentasikan serangan brutal militer Myanmar yang menyebabkan 750.000 lebih warga Rohingya melarikan diri ke Bangladesh pada bulan Agustus 2017.

Penduduk setempat mengatakan jalan tanpa kekerasan yang ditempuh Mohibullah untuk memperjuangkan hak bangsanya, bertentangan dengan pendekatan yang disebarkan oleh kelompok ARSA.

Kecintaan para Muhajirin Rohingya kepada Mohibullah, yang kemudian menjadikannya sebagai pimpinan mereka, membuat anggota ARSA geram hingga berujung pada insiden pembunuhannya.

Direktur Human Rights Watch (HRW) wilayah Asia Selatan Meenakshi Ganguly mengatakan bahwa kematian Mohibullah akan merugikan perjuangan etnis Rohingya.

“Komunitas Rohingya membutuhkan kepemimpinan masyarakat sipil untuk menyuarakan hak-hak mereka. Mohibullah sebelumnya telah berbicara di hadapan PBB di Jenewa dan telah melakukan perjalanan ke AS. Ini adalah sebuah kehilangan yang menyedihkan bagi para Muhajirin (Rohingya). Mereka kehilangan suara yang begitu didengar (di dunia internasional),” terangnya kepada Aljazeera. (Aljazeera)

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Gunakan Teror dan Kekerasan, Penjajah Rampas Ribuan Hektare Tanah di Tepi Barat
Tiga Warga Sipil Tewas Ditembak di Provinsi Hasaka Suriah »