Muhajirin Rohingya: “Puluhan Kamp di Cox’s Bazar Jadi Sarang Kelompok Kriminal Bersenjata ARSA”

23 November 2021, 06:42.
Foto: The Daily Star

Foto: The Daily Star

BANGLADESH (The Daily Star) – Sekira 34 kamp pengungsian di Cox’s Bazar telah menjadi sarang bagi kelompok kriminal bersenjata Arakan Rohingya Solidarity Army (ARSA), sebut para Muhajirin Rohingya.

Noor Mohammad, satu di antara Muhajirin, mengatakan bahwa ARSA mengontrol semuanya. Mulai dari penyelundupan narkotika, perampokan, hingga perampasan barang-barang bantuan.

Cengkeraman ARSA semakin kuat setelah terjadi pembunuhan terhadap tokoh besar Rohingya di kamp, Mohib Ullah, beserta enam Muhajirin lain di bulan Oktober.

“Tidak ada lagi yang berani menentang ARSA sekarang,” tambahnya.

Habib Ullah, saudara Mohib Ullah menjelaskan, “ARSA memiliki banyak operasi kriminal di kamp. Mereka berkuasa penuh di malam hari. Para Muhajirin Rohingya tahu siapa saja mereka, namun tak berani mengungkapkannya.”

Meski begitu, pemerintah dan aparat setempat bersikeras bahwa tidak ada keberadaan ARSA di kamp, melainkan hanya kelompok kriminal yang mengaku sebagai ARSA untuk mengintimadasi para Muhajirin Rohingya.

“Sama sekali tidak ada tanda-tanda keberadaan ARSA di dalam kamp. Itu hanyalah kabar bohong,” sebut komandan Naimul Haque dari kepolisian Bangladesh yang bertanggung jawab di sana.

Mantan sekretaris urusan luar negeri, Touhid Hossain meyakini bahwa salah satu alasan kenapa pemerintah bersikukuh tak mau mengakui adanya ARSA di kamp pengungsian adalah demi kelancaran upaya repatriasi.

“Sejauh yang saya ketahui, Myanmar beralasan bahwa ada banyak teroris di antara Muhajirin Rohingya sehingga mereka tidak mau menerima kepulangan para Muhajirin tersebut. Oleh karena itu, Bangladesh terus menyatakan tidak ada ARSA di kamp,” jelasnya.

Selain untuk unjuk kekuatan, para Muhajirin Rohingya juga meyakini bahwa ARSA membunuh Mohib Ullah dan enam orang lainnya agar dilibatkan dalam perundingan tentang repatriasi tersebut.

Halangi Proses Repatriasi

Prof Shahab Enam Khan dari Departemen Hubungan Internasional Universitas Jahangirnagar mengatakan bahwa ARSA dibiayai oleh pihak luar yang berusaha menghalang-halangi proses repatriasi.

Beberapa Muhajirin Rohingya (yang meminta dirahasiakan identitasnya) juga menyebutkan bahwa ada banyak agen Myanmar di ARSA. Mereka menerima bayaran secara berkala dari militer Myanmar.

“Situasinya sangat menakutkan sampai-sampai kami tidak berani mengatakan bahwa kami ingin pulang ke tanah air kami,” sebut salah seorang pemimpin Rohingya.

“Mereka yang terus menyuarakan repatriasi akan dibunuh,” lanjutnya.

Para pemimpin yang menentang ARSA, seperti Mohib Ullah, Arif Ullah, Abdur Rahim, Noor Alam, Hamid Ullah, dan sekira 50 tokoh lainnya telah dibunuh sejak tahun 2017.

Anggota keluarga mereka juga bersembunyi dan tak mau membuka diri karena takut menjadi incaran.

“ARSA adalah organisasi teroris yang dibuat pemerintah Myanmar. Mereka yang memulai drama kejam yang memaksa satu juta warga Rohingya menyelamatkan diri ke Bangladesh,” sebut seorang Muhajirin di kamp Balukhali.

Ia melanjutkan, “Lalu sekarang, mereka mencoba menghalang-halangi proses repatriasi.” (The Daily Star)

 

 

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Pemukim Ilegal Zionis Serang Sejumlah Wilayah di Tepi Barat dan Baitul Maqdis
SNHR: Satu Dekade Kekejaman Rezim Assad, 29.661 Anak Tewas di Suriah »