Warga Yaman Sambut Gembira Gencatan Senjata saat Ramadhan, Ranjau Darat Masih Jadi Ancaman

15 April 2022, 14:58.
Sumber: Al-Araby

Sumber: Al-Araby

YAMAN (Al-Araby) – Bagi warga Yaman, Ramadhan terasa berbeda tahun ini. Untuk kali pertama sejak perang dimulai tujuh tahun lalu, munculnya bulan sabit pertanda datangnya bulan suci ini bertepatan dengan dimulainya gencatan senjata kemanusiaan di sana.

Selama tujuh tahun sebelumnya, suasana istimewa Ramadhan dan segala tradisi yang mengiringi praktis tidak ada. Situasi didominasi oleh rasa takut, sampai shalat tarawih pun tenggelam oleh ledakan bom di seluruh negeri yang terus bergejolak.

Warga Yaman sangat berharap bisa menghabiskan Ramadhan kedelapan mereka sejak perang dimulai secara berbeda, mengembalikan tradisi serta kualitas spiritual bulan suci yang hampir lenyap dari kehidupan mereka.

Pembukaan Jalur Penyeberangan

Gencatan perang selama 60 hari sejak malam pertama Ramadhan bukan satu-satunya kabar baik yang dibawa bulan suci kepada 30 juta orang Yaman.

PBB mengumumkan bahwa langkah-langkah mendesak akan segera dilakukan untuk mengurangi parahnya krisis kemanusiaan di sana. Di antaranya adalah pembukaan sebagian pelabuhan udara, laut dan darat.

Perjanjian gencatan senjata, yang diawasi oleh utusan khusus PBB di Yaman, Hans Grundberg, akan memungkinkan warga yang membutuhkan perawatan medis di Sanaa dan wilayah Yaman utara untuk melakukan perjalanan ke Mesir maupun Yordania.

Di Taiz, Yaman barat daya, gencatan senjata juga mendesak agar jalan utama kota juga dibuka (setelah ditutup oleh Houthi sejak Agustus 2015).

Pembukaan tersebut akan memungkinkan warga melakukan perjalanan dari barat ke timur kota dalam waktu kurang dari setengah jam.

Kondisi tersebut merupakan hal normal sebelum ditutupnya jalan, yang kemudian memaksa warga untuk mengambil jalur gunung yang berbahaya dan bisa berlangsung hingga lima jam.

Pedagang manisan menjual produk mereka selama Ramadhan di sebuah pasar pada tanggal 9 April 2022 di Sanaa, Yaman. Gencatan senjata kali ini membuat tradisi-tradisi selama bulan suci di sana dapat kembali dilakukan. [Mohammed Hamoud/Getty]

Pedagang manisan menjual produk mereka selama Ramadhan di sebuah pasar pada tanggal 9 April 2022 di Sanaa, Yaman. Gencatan senjata kali ini membuat tradisi-tradisi selama bulan suci di sana dapat kembali dilakukan. [Mohammed Hamoud/Getty]

Penduduk Sanaa dan wilayah Yaman utara juga akan menyaksikan ditariknya pembatasan akses masuk kapal bahan bakar ke pelabuhan Hodeida.

Diharapkan hal tersebut akan meringankan krisis bahan bakar parah yang berkecamuk sejak awal tahun ini, memperburuk kondisi kehidupan warga Yaman ke tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Bantuan saat Gencatan Senjata

Masyarakat Yaman gembira menyambut deklarasi gencatan senjata. Rasa optimistis bahwa masa depan yang lebih baik terbentang di hadapan mata mereka.

Di sejumlah kota, terutama Taiz, masyarakat merayakan gencatan senjata; baik yang muda maupun yang tua.

Mohammed al-Adini, seorang insinyur dari Taiz mengatakan: “Ramadhan benar-benar telah membawa berkah bagi kita. Sangat baik perang di Yaman bisa berhenti hari ini. Kami berharap tahap selanjutnya merupakan salah satu upaya nyata untuk menciptakan solusi komprehensif atas semua yang kami derita.”

Ia melanjutkan, untuk mengurangi krisis, perlu adanya pemulihan ekonomi agar mata uang Yaman kembali menguat dan daya beli warga bisa bertambah.

Tradisi Ramadhan Kembali Lagi

Kunjungan antara keluarga dan kerabat adalah salah satu ritual Ramadhan paling menonjol yang terhapus oleh perang selama beberapa tahun terakhir, khususnya di kota-kota yang diperebutkan, seperti halnya di Taiz.

Blokade yang diberlakukan oleh Houthi di pelintasan timur, barat dan utara membuat mereka yang tinggal di Taiz, tidak dapat berkunjung ke kerabat mereka di daerah lain.

Segera setelah pembukaan jalur penyeberangan di Taiz diumumkan, warga mulai mengatur rencana untuk mengunjungi kerabatnya.

Salah satunya seorang pedagang bernama Muhammad Haddad yang berencana untuk pulang ke rumah ibunya di Desa Shar’ab.

“Blokade menghalangi saya bepergian ke kampung halaman saya karena situasi keamanan, dan ibu saya pasti tidak kuat menempuh perjalanan lima jam lewat jalur gunung. Akan tetapi, sekarang akan lebih mudah, perjalanan aman dan tidak akan lebih dari satu jam.”

Akan tetapi, masih ada kendala. Seorang pejabat keamanan (yang tidak ingin disebutkan namanya) menjelaskan, “Pelintasan timur dan barat telah terkotori dengan ranjau darat yang ditanam oleh Houthi. Jadi, pencabutan blokade akan menjadi tantangan serius bagi komite bersama yang bertugas mencabut blokade dalam beberapa hari mendatang.”

Dia menambahkan: “Kami berharap mereka yang menanam ranjau masih memiliki peta yang menunjukkan di mana ranjau tersebut berada. Jika daerah ini tidak sepenuhnya aman dari ranjau darat dan alat peledak, nyawa para pelancong akan dalam bahaya.”

Wartawan Ahmad Zeid mengatakan, “Kami benar-benar berharap bahwa perang akan berakhir secara permanen, karena rakyat tidak dapat menghadapi lagi babak baru konflik ini.” (Al-Araby)

 

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Serdadu Zionis Kosongkan Masjdil Aqsha, Puluhan Jamaah Muslim Ditangkap dan Terluka
#RamadhanGarisDepan 1443 – Peluang Emas Menjadi Wali Asuh Yatim Syuhada Garis Depan »