Gencatan Senjata Dua Bulan, Kesempatan Tingkatkan Penyaluran Bantuan kepada Warga Yaman yang Kelaparan

27 April 2022, 09:35.
Seorang wanita menumpuk roti di sebuah toko roti di Taiz, Yaman, pada 10 Maret 2022. Foto: Abdulnasser Alseddik - Anadolu Agency

Seorang wanita menumpuk roti di sebuah toko roti di Taiz, Yaman, pada 10 Maret 2022. Foto: Abdulnasser Alseddik – Anadolu Agency

YAMAN (Middle East Monitor) – Gencatan senjata selama dua bulan telah memberi kesempatan bagi lembaga kemanusiaan untuk meningkatkan penyaluran bantuan kepada jutaan warga Yaman yang kelaparan.

Akan tetapi, kekurangan gizi yang melanda anak-anak Yaman diperkirakan akan tetap memburuk jika pertempuran berlanjut kembali dan dana bantuan kemanusiaan tidak bertambah, lapor Reuters.

“Manfaat dari minggu-minggu awal gencatan senjata sudah terasa signifikan,” kata Erin Hutchinson, Direktur Norwegian Refugee Council untuk Yaman.

Lembaga kemanusiaan tersebut mampu memberikan bantuan kepada 12.000 warga di sebuah kabupaten di Provinsi Hajjah, yang tidak terjangkau selama lebih dari tiga tahun sebelumnya.

Tujuh tahun lebih konflik telah menghancurkan perekonomian Yaman, membuat jutaan warga pergi mengungsi, mendongkrak harga pangan dan komoditas global di luar jangkauan kebanyakan orang.

“Puluhan juta orang di Yaman hidup dalam kondisi sangat kekurangan,” kata Richard Ragan dari World Food Programme (WFP), yang mencoba menyalurkan bantuan pangan setengah dari 30 juta warga Yaman sebagai satu program terbesarnya.

Terdapat 2,2 juta anak balita–termasuk 538.000 yang sudah mengalami kekurangan gizi parah–yang akan menderita kekurangan gizi akut tahun ini, menurut perkiraan PBB sebelum gencatan senjata.

“Kami hanya makan apa yang bisa kami dapatkan dari lembaga kemanusiaan. Gandum, kacang-kacangan, dan bahan-bahan pangan semacam itu,” kata seorang warga, Zahra Ahmed.

Zahra lantas menunjuk cucunya yang berumur satu tahun. Balita itu tidak mampu mereka bawa berobat ke ibu kota, meski telah mengalami kekurangan gizi parah.

Kelaparan dan malnutrisi semakin memburuk tahun ini, berdasarkan data PBB bulan Maret.

Diproyeksikan antara Juni sampai Desember mendatang, mereka yang tidak dapat memperoleh nutrisi dasar tersebut akan mencapai angka tertinggi baru, yakni sebanyak 19 juta orang, naik dari 17,4 juta saat ini.

‘Aku jarang makan’

Di Al-Mahra, Yaman timur, para Muslimah di kamp pengungsian membuat perapian untuk menggoreng bola adonan yang akan dimakan anak-anak.

“Kami orang dewasa, kami harus bersabar dan menahan lapar agar bisa memberi makan anak-anak,” kata ibu sepuluh anak, Fatima Qayed.

Dia mengatakan mereka hanya mendapatkan bantuan setahun sekali, yaitu ketika bulan Ramadhan. Mereka membeli makanan dengan mengumpulkan dan menjual kaleng plastik, sehingga hampir-hampir tak pernah menyantap daging lagi.

Karena tidak dapat membeli susu, akhirnya ibu empat anak, Seham Abdelhakim, memberi makan anak-anaknya yang masih kecil dengan gula dan air.

“Saat hamil saya hampir tidak makan, hanya teh dan roti. Setelah saya melahirkan, kondisi masih sama saja; kami tidak punya ayam atau apa pun. Saya hanya berdoa agar bisa memeluk anak saya setelah melahirkan,” kata Abdelhakim (36 tahun).

Utusan PBB untuk Yaman, Hans Grundberg, pekan ini mengatakan gencatan senjata dua bulan, yang dimulai bertepatan dengan datangnya bulan Ramadhan, telah berimbas terhadap berkurangnya kasus kekerasan korban sipil secara signifikan.

Gencatan senjata itu, pertama sejak tahun 2016, memungkinkan adanya impor bahan bakar ke daerah-daerah yang dikendalikan oleh milisi syiah Houthi yang bersekutu dengan Iran, diikuti dengan aktifnya kembali beberapa maskapai penerbangan komersial di Sana’a.

Gencatan senjata juga memungkinkan WFP dan mitra-mitranya untuk meningkatkan kerja kemanusiaan, kata Ragan dari WFP.

Ia menambahkan, operasi WFP sudah terlambat 60-75 hari dari jadwal yang ditentukan akibat eskalasi pertempuran sebelumnya di Yaman.

Jika gencatan senjata ini tidak membuat ekonomi Yaman bangkit kembali, maka sedikitnya 80 persen warga akan terus bergantung pada bantuan kemanusiaan.

Sejak bulan Januari, WFP telah mengurangi jatah bantuan untuk 8 juta dari 13 juta orang yang diberi makan setiap bulannya karena kekurangan dana. (Middle East Monitor)

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Serdadu Zionis Berulah di Al-Khalil: Culik Belasan Warga Palestina, termasuk Ayah dan Tiga Putranya
Serang Kamp Aqabat Jaber di Ariha, Serdadu Zionis Bunuh Pemuda Palestina »