Berunjuk Rasa di Jenewa, Aktivis Uyghur yang Lolos dari Kamp Konsentrasi Desak PBB Ungkap Genosida Rezim Cina

28 April 2022, 06:23.

JENEWA (RFA) – Aktivis Uyghur yang berhasil menyelamatkan diri dari kamp konsentrasi Cina, Senin (25/4/2022),  memulai unjuk rasa selama seminggu di depan kompleks PBB di Jenewa.

Mereka menginginkan pertemuan dengan kepala HAM PBB dan mendesaknya untuk segera mengeluarkan laporan yang memerinci berbagai pelanggaran HAM terhadap etnis minoritas di Xinjiang.

Qelbinur Sidiq, Gulbahar Jelilova, Gulbahar Haitiwaji, dan Omir Bekali telah meminta agar bisa bertemu dengan Michelle Bachelet, Komisaris Tinggi PBB untuk HAM, yang bulan lalu mengumumkan bahwa dia telah mencapai kesepakatan dengan rezim Cina untuk melakukan kunjungan ke Xinjiang pada bulan Mei.

Para aktivis Uyghur mendesak Bachelet untuk merilis laporan HAM yang telah dijanjikan tersebut, sebelum dia mengunjungi Cina. Mereka juga menawarkan diri untuk menemani mantan presiden Chile dalam perjalanan tersebut.

“Saya akan dengan senang hati membawa mereka ke kamp dan penjara di Urumqi,” kata Gulbahar Jelilova, merujuk pada ibu kota Xinjiang.

“Jika kami tidak menemani mereka, Cina akan memainkan banyak tipu daya untuk menutupi fakta yang ada. Itu sebabnya kami meminta untuk diikutsertakan dalam perjalanan ini.”

Gulbahar Jelilova mengatakan dia bisa menunjukkan kepada tim PBB, lokasi di mana tawanan Uyghur dieksekusi, berikut rumah sakit yang mengambil organ dari mereka yang dieksekusi tersebut.

Jelilova mengatakan dia ditahan atas tuduhan “membantu upaya terorisme” saat dalam perjalanan bisnis ke Urumqi dan dimasukkan ke dalam tiga kamp konsentrasi yang berbeda selama 15 bulan, sejak Mei 2017.

Dia berhasil kembali ke Kazakhstan pada September 2018, berkat upaya dua anaknya di Kazakhstan yang meminta bantuan diplomatik dari pemerintah Kazakh.

Sejak saat itu Jelilova mengatakan kepada dunia bahwa dia telah menyaksikan berbagai kekejaman di dalam kamp, termasuk adanya penyiksaan dan juga kematian orang-orang yang tidak bersalah.

Para aktivis HAM terus menekan Bachelet untuk segera mengeluarkan laporan tentang pelanggaran HAM oleh rezim Cina yang menargetkan warga Uyghur dan komunitas Turki lainnya di Xinjiang, karena telah melewati waktu yang dijanjikan.

Sekira 1,8 juta Muslim Uyghur dan etnis minoritas lainnya ditahan di jaringan kamp konsentrasi yang masif dan dioperasikan oleh rezim komunis Cina dengan dalih mencegah ekstremisme beragama.

“Kami berharap dia (Bachelet) dapat mengungkapkan kebenaran kepada dunia setelah dia kembali,” kata Qelbinur Sidiq (52 tahun).

“Kita semua sepenuhnya sadar bahwa Cina adalah negara yang sangat licik dan penipu yang sangat ahli dalam membuat sandiwara dan pertunjukan palsu,” kata Gulbahar Haitiwaji.

“Yang paling mengkhawatirkan saya adalah… jika Michelle Bachelet tidak melihat genosida dan kekejaman yang sebenarnya terjadi, tetapi hanya bertemu dengan orang-orang dan panggung palsu yang dibuat oleh Cina,” katanya kepada RFA.

Haitiwaji ditangkap pada Januari 2017, saat pihak berwenang mulai gencar menahan warga Uyghur dan minoritas Muslim lainnya, dengan menuduh mereka melakukan “ekstremisme agama” maupun tuduhan palsu lainnya.

Dia kemudian menulis tentang kondisi kehidupannya yang brutal selama ditahan di dalam penjara, setelah dia dibebaskan dan kembali ke keluarganya di Prancis pada Agustus 2019.

“Jika dia tidak bisa melihat genosida dan kekejaman yang nyata di tanah air kami, lalu akhirnya melaporkan sesuatu yang tidak benar, maka Michelle Bachelet sama saja telah terlibat dalam keberlanjutan genosida Cina terhadap Uyghur,” kata Haitiwaji.

Langkah Solid Pertama

Omir Bekali, seorang warga Uyghur dari Kazakh yang disiksa oleh pihak berwenang selama sembilan bulan di tiga kamp konsentrasi Cina mengatakan, demonstrasi di luar markas besar PBB ini adalah “salah satu langkah solid pertama yang kami ambil untuk mengakhiri genosida yang masih terus berlangsung terhadap bangsa kami dan untuk membebaskan mereka lebih cepat.”

“Kami memutuskan untuk meluncurkan kampanye ini dengan harapan mendapat perhatian lebih dari lembaga dan media internasional,” jelasnya.

“Kami berniat untuk memperluasnya nanti sampai ke Uni Eropa. Kami pun berharap para korban di AS yang juga berhasil selamat dari kamp ikut mengadakan aksi serupa di depan kantor PBB [di New York].”

Pemerintah Amerika Serikat (AS) dan parlemen beberapa negara Barat telah menyatakan bahwa pelanggaran yang dilakukan pemerintah Cina di Xinjiang merupakan genosida dan kejahatan berat terhadap kemanusiaan.

Aksi para aktivis Uyghur di hari Senin itu merupakan respons atas cuitan Duta Besar AS untuk PBB, Linda Thomas-Greenfield pada 20 April bahwa Bachelet akan merilis laporan tentang kondisi HAM di Xinjiang, di mana sebelumnya dikatakan oleh Bachelet akan selesai pada September 2021.

Masih di hari Senin yang sama, United States Commission on International Religious Freedom (USCIRF) merilis laporan tahunannya, yang merekomendasikan 15 negara–termasuk Cina, Myanmar, Korea Utara dan Vietnam–agar ditetapkan oleh Departemen Luar Negeri AS sebagai “negara dengan perhatian khusus” karena pemerintah di sana terlibat maupun menoleransi “pelanggaran berat yang sistematis dan berkelanjutan” terhadap kebebasan beragama. (RFA)

 

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Serdadu Zionis Serang Warga Palestina di Kamp Pengungsian Jenin; Seorang Pemuda Tewas, Tiga Terluka
Desak Pembebasan Anak Palestina, Aktivis dan Keluarga Tawanan Gelar Unjuk Rasa di Depan Penjara Ofer »