Pembantaian di Tadamon: Bagaimana Dua Akademisi Memburu Penjahat Perang Suriah (#1)

30 April 2022, 17:41.
Foto: The Guardian

Foto: The Guardian

Seorang anggota milisi pemula rezim Assad diam-diam menonton video yang berisi pembunuhan brutal terhadap 41 orang. Setelah itu, dia menyadari bahwa dia harus menyebarkan gambar-gambar mengerikan itu pada dunia luar.

(THE GUARDIAN) – PADA suatu pagi di musim semi tiga tahun lalu, seorang rekrutan baru milisi Suriah yang loyal diberi sebuah laptop milik salah satu sayap keamanan Bashar al-Assad yang paling ditakuti.

Dia kemudian membuka layar dan dengan penasaran memutar file video; sebuah langkah berani mengingat konsekuensinya jika ada yang memergoki dia sedang mengintip file yang seharusnya tidak dia buka.

Rekaman itu pada awalnya tidak stabil, sebelum ditutup dengan gambar lubang yang baru digali di tanah di antara dua bangunan yang dipenuhi peluru.

Seorang perwira intelijen yang ia kenal terlihat berlutut di dekat tepi lubang dengan seragam militer dan mengenakan topi memancing. Ia mengacungkan senapan serbu dan meneriakkan perintah.

Milisi pemula itu membeku ketakutan saat adegan itu berlangsung: seorang pria yang ditutup matanya dituntun dengan sikunya dan disuruh berlari menuju lubang besar yang ada di depannya tanpa ia ketahui.

Dia juga tidak mengantisipasi dentuman peluru ke tubuhnya yang menyambar saat dia jatuh ke tumpukan manusia yang tewas di lubang tersebut.

Satu demi satu, lebih banyak tahanan yang tidak curiga mengikuti; beberapa diberitahu bahwa mereka melarikan diri dari penembak jitu terdekat, yang lain diejek dan dilecehkan di saat-saat terakhir kehidupan mereka.

Banyak yang tampaknya percaya bahwa mereka sedang dibawa ke tempat yang lebih aman oleh orang-orang yang sebenarnya adalah pembunuh.

Setidaknya 41 orang dibantai di pinggiran Damaskus, Tadamon, medan pertempuran yang pada saat itu dalam konflik antara pemimpin Suriah dan kelompok mujahidin.

Di lubang yang menjadi saksi bisu pembataian itu, para pembunuh menuangkan bahan bakar dan menyalakannya. Mereka tertawa lepas ketika mereka merasa berhasil menutupi kejahatan perang; yang dilakukan hanya beberapa mil dari kursi kekuasaan diktator Suriah. Video tersebut diberi stempel tanggal 16 April 2013.

Kegusaran yang teramat sangat melanda milisi pemula tersebut. Ia langsung memutuskan bahwa rekaman itu perlu dilihat di tempat lain. Keputusan itu telah membawanya, tiga tahun kemudian, dari salah satu momen tergelap dalam sejarah Suriah ke tempat yang relatif aman di Eropa.

Perjalanan tersebut pula yang menyatukan milisi pemula itu dengan sepasang akademisi yang telah menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk mencoba menyelamatkannya; sembari mengidentifikasi orang yang mengarahkan pembantaian, dan membujuk si milisi muda untuk mengakui perannya.

Ini adalah kisah kejahatan perang, yang dilakukan salah satu gerombolan paling terkenal rezim Suriah, yakni Cabang 227 dari Dinas Intelijen Militer Negara.

Berbagai upaya berliku dilakukan untuk menguak fakta ini. Termasuk bagaimana dua peneliti di Amsterdam menipu salah satu petugas keamanan paling terkenal di Suriah melalui akun alter dan merayunya untuk membocorkan rahasia jahat perang Assad.

Keduanya telah menyoroti kejahatan yang sebelumnya diyakini telah dilakukan secara luas oleh rezim Assad pada puncak Perang Suriah; tetapi selalu disangkal bahkan dituduhkan pada kelompok jihadis.

Sembilan tahun kemudian, ketika perang berkecamuk di Ukraina, buku pedoman teror negara terhadap penduduk sipil yang dilatih di Suriah digunakan kembali oleh pasukan Rusia. Teror yang dimaksud ialah ketika apa yang disebut sebagai “Operasi Militer Khusus Vladimir Putin” berubah menjadi pendudukan brutal di bagian timur negara itu.

Unit intelijen militer di sana telah berada di garis depan kebiadaban, menanamkan ketakutan ke dalam masyarakat melalui penahanan massal dan pembunuhan yang menjadi ciri upaya brutal Assad untuk merebut kembali kekuasaan.

Dilatih oleh perwira Soviet dan Stasi pada 1960-an, “Badan Keamanan Suriah” belajar dengan baik terkait “seni intimidasi”. Ketakutan adalah cara paling mematikan untuk mempertahankan kekuasaan, dan rezim menggunakan segala cara yang tersedia untuk menanamkannya.

Dalam kasus ini, para korban yang dibantai bukanlah kelompok jihadis, tetapi warga sipil yang tidak berpihak pada salah satu pihak dan telah menerima perlindungan Assad.

Pembantaian mereka secara luas terlihat di Tadamon sebagai pesan ke seluruh pinggiran kota: “jangan pernah mempertimbangkan untuk menentang rezim Assad.” (bersambung – THE GUARDIAN)

Foto: The Guardian

Foto: The Guardian

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Sejumlah Orang Bersenjata Bantai Tujuh Warga Suriah di Pinggiran Utara Deir Ez-Zour
Pembantaian di Tadamon: Bagaimana Dua Akademisi Memburu Penjahat Perang Suriah (#2) »