Pembantaian di Tadamon: Bagaimana Dua Akademisi Memburu Penjahat Perang Suriah (#2)

1 May 2022, 18:49.
Foto: The Guardian

Foto: The Guardian

(THE GUARDIAN) – Dalam perjalanan menyebarkan video pembantaian di Tadamon, kali pertama dilakukan kepada aktivis oposisi di Prancis.

Kemudian milisi pemula itu menyerahkan video kepada dua akademisi, Annsar Shahhoud dan Prof Ugur Umit Ungor, dari Pusat Holocaust dan Genosida Universitas Amsterdam.

Pada prosesnya, milisi pemula yang menyebarkan video tersebut harus mengatasi rasa takut akan ditangkap dan kemungkinan dibunuh, serta potensi diusir dari keluarganya – anggota terkemuka sekte Alawi Assad yang memegang tuas kekuasaan utama di Suriah.

Dia akhirnya akan menyadari bahwa ketika ratusan orang di seluruh dunia bekerja untuk membawa Assad ke pengadilan atas kejahatan perang, video itu akan menjadi bukti yang menonjol.

Akan tetapi, pertama-tama, Annsar dan Ugur perlu menemukan pria bertopi memancing, dan mereka beralih ke satu-satunya hal yang mereka yakini dapat membantu: alter ego.

Annsar sudah vokal dan mengkritik Assad sejak pecahnya kekerasan di Suriah. Keluarganya adalah anggota komunitas yang sebagian besar mempertahankan hubungan baik dengan Assad.

Akan tetapi, konflik dan keruntuhan ekonomi membuat aliansi menjadi tegang. Annsar semakin bertekad untuk meminta pertanggungjawaban Assad, tidak peduli dengan konsekuensi pribadi yang harus dihadapi.

Dia berpindah ke Beirut pada 2013, kemudian ke Amsterdam dua tahun kemudian, di mana dia bertemu Prof Ugur pada 2016.

Keduanya saling mendorong untuk mengungkap fakta yang mereka yakini sebagai genosida yang dilakukan di Suriah.

Menyatukan kisah para penyintas dan keluarga mereka adalah salah satu cara untuk melakukannya. Berbicara dengan para pelaku pembantaian adalah hal lain yang dapat dilakukan, namun melanggar kode omertà rezim adalah tugas yang dianggap hampir mustahil.

Akan tetapi, Annsar punya rencana: dia memutuskan untuk beralih ke internet, dan menemukan jalan masuk mendekati pejabat keamanan rezim dengan berpura-pura menjadi perempuan muda yang sepenuhnya mendukung langkah dan tujuan mereka.

“Masalahnya adalah rezim Assad sangat sulit untuk dipelajari. Anda tidak hanya sekadar berjalan ke Damaskus, melambaikan tangan, berkata dengan baik, ‘Hei, saya seorang sosiolog dari Amsterdam dan saya ingin mengajukan beberapa pertanyaan,’” kata Ugur, di salah satu ruang Pusat Holocaust dan Genosida.

“Kami sampai pada kesimpulan bahwa sebenarnya kami membutuhkan karakter–dan karakter itu harus seorang perempuan muda Alawi.”

Annsar memastikan bahwa mata-mata dan perwira militer Suriah cenderung menggunakan Facebook. Meskipun kehidupan kerja mereka tertutup, mereka cenderung tidak menjadikan pengaturan pada media sosial mereka; private.

Dia memutuskan untuk menggunakan nama samaran, “Anna Sh”. Dia kemudian mengubah berandanya menjadi “ruang penghargaan” untuk Assad dan keluarganya, lalu mulai mencoba merekrut teman-temannya.

Siang dan malam selama dua tahun berikutnya, dia menjelajahi Facebook mencari terduga tersangka atau pelaku. Ketika dia menemukannya, dia memberi tahu mereka bahwa dia adalah seorang peneliti yang mempelajari rezim Suriah untuk tesisnya. Akhirnya, dia bisa melakukannya dengan baik.

Dia mempelajari kondisi rezim saat itu. Bersama dengan Ugur, ia membuat lelucon dan pokok pembicaraan yang dapat membantu melakukan pendekatan.

Kemudian, Anna Sh dikenal di antara dinas keamanan sebagai sosok yang pengertian–dan bahkan menjadi “bahu untuk menangis” alias tempat curhat.

“Mereka perlu berbicara dengan seseorang, mereka merasa perlu berbagi pengalaman mereka,” kata Ugur.

“Kami berbagi beberapa cerita dengan mereka. Kami mendengarkan semua cerita, tidak hanya fokus pada kejahatan mereka. Beberapa dari orang-orang ini terikat pada Anna. Dan beberapa dari mereka mulai menelepon di tengah malam,” lanjut Ugur.

Dua tahun berikutnya, Annsar hidup dan menghembuskan persona barunya. Kadang-kadang dia mundur dari karakter buatannya ketika dia telah masuk jauh ke dalam pikiran mangsanya dan terkadang bisa memahami mereka pada tingkat manusia awam yang melampaui batas klinis dari penelitiannya.

Akan tetapi, upaya “kembali ke kenyataan” biasanya dilakukan secara tiba-tiba. Banyak dari mereka yang dia ajak bicara telah menjadi bagian aktif dari mesin pembunuh massal. Yang lain bersedia menjadi bagian dari kelompok rahasia yang membantu mereka.

Akibatnya, kesehatannya menurun begitu pula kehidupan sosial dan kewarasannya, namun hasilnya terlihat. Jika dia bisa menemukan pria bersenjata di video itu, dia bisa mulai membawa keadilan bagi keluarga orang-orang yang dia (pria bersenjata) bunuh.

Dan, mungkin, dia bisa memulai apa yang sedikit orang lain lakukan di dalam kekerasan selama satu dekade: yaitu memulai proses yang secara tak terbantahkan menghubungkan negara Suriah dengan banyaknya jenis kekejaman terburuk dalam perang.

Pada Maret 2021, terobosan itu akhirnya hadir. Akun Facebook Anna Sh saat itu telah meraup kepercayaan lebih dari 500 pejabat rezim yang paling setia.

Termasuk seseorang yang menyebut dirinya Amgd Youssuf. Dia sangat mirip dengan pria bersenjata dengan topi memancing, yang selama ini dia cari dengan susah payah.

Setelah momen itu, Annsar, atau Anna Sh menerima konfirmasi dari sumber di dalam Tadamon bahwa pelaku pembunuhan adalah seorang mayor di cabang 227 dari dinas intelijen militer Suriah. (Bersambung / THE GUARDIAN)

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Pembantaian di Tadamon: Bagaimana Dua Akademisi Memburu Penjahat Perang Suriah (#1)
Qatar dan Kuwait Kecam Serangan dan Kekerasan Berulang Penjajah ‘Israel’ di Masjidil Aqsha »