Deportasi Warga Rohingya dari Jammu Picu Kepanikan, Sejumlah Muhajirin Pilih Kembali ke Bangladesh

12 May 2022, 15:08.
Anak-anak Muhajirin Rohingya di kamp pengungsian Haryana, India. (Irfan Hadi K)

Anak-anak Muhajirin Rohingya di kamp pengungsian Haryana, India. (Irfan Hadi K)

INDIA (Maktoob Media) – Pada tanggal 5 Mei, berita mengenai deportasi Jafar Alam, salah seorang Muhajirin Rohingya, menyebar ke seluruh komunitas Muhajirin yang tinggal di Jammu.

Sebelumnya pada 17 April, Alam telah ditahan aparat India di penjara Hiranagar Jammu.

“Keluarganya diberitahu bahwa ada beberapa masalah teknis dalam bukti verifikasi pengungsi dan dia akan segera dibebaskan,” kata Ali Johar, salah satu pendiri Rohingya Human Rights Initiative, sebuah organisasi yang mendokumentasikan dan menyoroti pelanggaran HAM terhadap Muslim Rohingya di India.

Akan tetapi, ternyata dua minggu setelah penahanan tersebut, India justru mendeportasi Alam, yang telah memiliki kartu identitas kepengungsian dari UNHCR, ke Myanmar.

Hal ini kemudian memicu kekhawatiran dan kepanikan di antara para Muhajirin Rohingya di India, khususnya yang berada di Jammu.

Setelah dideportasi, istri Alam dan keenam anaknya kian terhimpit kesulitan. Alam yang seorang pekerja serabutan adalah satu-satunya penopang hidup keluarga.

“Dia telah diserahkan ke polisi Myanmar. Sekarang prosedurnya adalah dia akan dikarantina selama sekitar sepuluh hari dan kemudian dia akan dibawa ke tahanan,” jelas Johar.

Sebelumnya, seorang wanita Rohingya berusia 37 tahun, yang juga sama-sama pemegang kartu UNHCR, dideportasi ke Myanmar setelah selama satu tahun ditahan di dalam penjara Hiranagar. Sementara suami dan tiga anaknya yang masih kecil, tetap berada di Jammu.

Padahal kata Johar, “Sama sekali sudah tidak ada seorang pun yang tersisa di desa asalnya, dan dia telah ditahan untuk saat ini.”

Sebagian Muhajirin Rohingya di Jammu sudah mulai menyelamatkan diri ke kota lain maupun kembali ke kamp pengungsian di Bangladesh.

Selama beberapa bulan terakhir, menurut Johar, sekira 218 Muhajirin telah ditahan aparat India, menyebabkan sebagian besar terpisah dari keluarganya.

“Mereka secara acak menahan enam hingga tujuh pengungsi dari kamp yang berbeda, seperti yang mereka lakukan terhadap Jaffar,” kata Johar.

Fazal Abdali, seorang pengacara independen yang telah bekerja untuk membantu pengungsi selama sekira satu dekade terakhir, mengatakan para pengungsi yang memiliki kartu UNHCR dilindungi oleh hukum internasional dan konstitusi India; meskipun negara itu sendiri tidak memiliki hukum yang mengatur kepengungsian.

“Orang-orang ini tetap harus dilindungi karena konstitusi sangat jelas mengatakan hak hidup setiap orang harus dilindungi. Jadi, ketika Anda mendeportasi seseorang kembali ke negara yang mereka melarikan diri darinya, di mana hak untuk hidup tersebut?” tanya Abdali.

“Nyawa mereka dalam bahaya dan ini merupakan pelanggaran terhadap konstitusi,” tegasnya.

Meenakshi Ganguly, Direktur Human Rights Watch untuk wilayah Asia Selatan, mengatakan hak-hak para pengungsi dilindungi di bawah prinsip universal non-refoulment.

“Artinya, tidak semestinya seseorang dikembalikan ke tempat di mana mereka rawan menghadapi risiko pelanggaran HAM yang serius,” sebut Ganguly.

“Sejak Februari 2021, militer (yang melakukan genosida terhadap etnis Rohingya) telah merebut kekuasaan melalui kudeta. Mengembalikan para pengungsi (Rohingya) ke Myanmar sama artinya dengan menempatkan mereka kepada ancaman besar sekaligus melanggar kewajiban internasional India,” tukasnya.

“PBB harus menyampaikan keprihatinan kepada pihak berwenang India tentang deportasi Rohingya ke Myanmar.” (Maktoob Media)

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Korban Tewas dan Luka Menurun Selama Gencatan Senjata di Yaman, Ledakan Ranjau Darat Masih Mengancam Warga
Polisi Bangladesh Pukuli Sejumlah Muhajirin Rohingya, Termasuk Muslimah Lansia »