Pembantaian di Tadamon: Bagaimana Dua Akademisi Memburu Penjahat Perang Suriah (#3)

17 May 2022, 19:52.
Akun Facebook Anna Sh, yang digunakan dua peneliti, Annsar Shahhoud dan Prof. Ugur Umit Ungor, dari Pusat Holocaust dan Genosida Universitas Amsterdam, untuk mengulik keterangan dari sejumlah petugas dan pejabat rezim Suriah. (The Guardian)

Akun Facebook Anna Sh, yang digunakan dua peneliti, Annsar Shahhoud dan Prof. Ugur Umit Ungor, dari Pusat Holocaust dan Genosida Universitas Amsterdam, untuk mengulik keterangan dari sejumlah petugas dan pejabat rezim Suriah. (The Guardian)

“Perasaan lega itu tak terlukiskan. Dia adalah seorang pemegang kunci atas semua itu. Dan sekarang saya hanya perlu membuatnya berbicara.”

Annsar ingat betul saat dia menekan tombol kirim permintaan pertemanannya, dan kegembiraan yang dia rasakan saat targetnya menyambutnya.

Setelah sekian lama, umpannya telah disambut. Sekarang dia perlu menariknya masuk. Panggilan pertama cepat berlalu; Amjad curiga dan mengakhiri panggilan dengan cepat.

Akan tetapi, sesuatu dalam percakapan awal itu telah membangkitkan rasa ingin tahunya. Pemburu telah menjadi target yang diburu.

Apakah itu sensasi (perasaan) berbicara dengan seorang wanita asing, keingintahuan untuk menginterogasi seseorang yang berani mendekatinya, atau sesuatu yang lain?

Bagaimanapun, ketika Amjad melakukan panggilan video tiga bulan kemudian, Annsar menekan tombol rekam, dan “Anna Sh”, si karakter buatan yang seolah-olah merupakan pendukung sejati rezim Suriah, menjawab panggilan tersebut.

Anna Sh melakukan semua yang dia bisa untuk mengulik keterangan Amjad; menyeringai malu-malu, cekikikan, dan tunduk padanya saat dia membumbuinya dengan pertanyaan, semua disampaikan sesuai kemauannya. Perlahan-lahan wajah bekunya mulai mengendur, dan Anna menang. Dia bertanya padanya tentang Tadamon.

Kemudian dia mengajukan pertanyaan yang mengubah suasana dari seluruh percakapan: “Bagaimana rasanya kelaparan, tidak tidur, berkelahi, membunuh–takut pada orang tuamu, pada orang-orangmu. Ini adalah tanggung jawab besar–Anda memikul banyak hal di pundak Anda.”

Amjad duduk kembali di kursinya, seolah mengakui bahwa seseorang akhirnya memahami bebannya. Sejak saat itu, dia berada di kursi interogasi.

Pembicaraan itu bukan lagi miliknya. Anna memiliki jawaban untuk setiap balasannya; membangunnya, membuatnya nyaman, dan membusungkan egonya. Dia seolah telah menjadi terapis baginya, papan suara, wanita tepercaya yang bisa mengetahui pikirannya, tanpa menghakimi.

“Saya tidak menyangkal bahwa saya senang berbicara dengannya,” kata Annsar. “Jadi, saya tersenyum. Karena wow, Anda berbicara dengannya. Akan tetapi, untuk mengetahui kisah mereka, kita perlu meyakinkan mereka bahwa kita hanyalah peneliti. Jadi, mereka terbuka. Ini bukan hasil dari satu wawancara–ini adalah hasil dari penyamaran selama empat tahun.

“Lambat laun, saya belajar untuk memisahkan diri. Saya menciptakan gadis ini (karakter buatan) yang benar-benar mengagumi perbuatan mereka. Itu sulit. Setelah Anda menutup laptop, Anda merasa situasi seperti itu adalah hal yang berat, tetapi itu diperlukan. Dan saya ingin melihatnya sebagai manusia,” lanjut Annsar.

Sepanjang musim panas tahun lalu, Annsar dan alter egonya (Anna Sh), dengan Ugur yang sering duduk di luar layar, mencoba membujuk Amjad untuk berbicara. Masuk ke dalam kepala seorang pembunuh adalah satu hal, tetapi mengumpulkan informasi nyata tentang mengapa dia melakukannya dan mengekstraksi pengakuan adalah hal lain.

Mereka menelusuri profil Facebooknya untuk mencari petunjuk, dan menemukan foto seorang adik laki-laki, dan puisi yang ditulis Amjad setelah kematiannya pada awal 2013, tiga bulan sebelum pembantaian Tadamon.

Anna terus mengganggunya untuk panggilan lain, tetapi dia tetap sulit dipahami. Kemudian pada suatu malam di bulan Juni, Messenger Facebook-nya menyala. Itu adalah Amjad. Inilah kesempatannya untuk mengulik keterangan darinya.

Amjad kali ini lebih santai, mengenakan singlet dengan mungkin satu atau dua minuman di mejanya. Lantai itu sekarang miliknya, atau begitulah pikirnya, dan dia mulai dengan obrolan ringan, mencoba lebih dekat dengan Anna.

Anna Sh memanfaatkan momennya dan bertanya tentang saudara laki-laki Amjad, pembunuh serta penegak hukum yang dia takuti, hingga dia mulai menangis.

Anna beralih ke mode Melfi saat dia mengatakan kepadanya bahwa dia harus tetap di militer, meskipun ada risiko yang besar. “Kamu melakukan apa yang perlu kamu lakukan,” katanya.

Dan kemudian datang pengakuan nyata pertama Amjad. “Aku banyak membunuh,” katanya. “Aku membalas dendam.”

Seakan menyadari betapa pentingnya momen itu, Amjad menutup pembicaraan dan mengakhiri panggilan.

Selama beberapa bulan berikutnya dia sulit ditemukan, hanya menanggapi obrolan dan menanyakan kapan Anna kembali ke Suriah.

Amjad kemudian mulai berperan sebagai “pacar virtual” yang pencemburu; menanyakan dengan siapa Anna, apakah dia minum, dan di mana dia berada.

Annsar, sementara itu, mulai merasa bahwa alter egonya telah mencapai batas kekuatannya, dan Anna Sh perlu istirahat, sama seperti dia.

Karakter buatan tersebut telah berbicara dengan hingga 200 pejabat rezim, beberapa dari mereka adalah pelaku langsung dalam pembunuhan, dan yang lain bagian dari komunitas yang telah membantu dan mendukung upaya Assad yang semakin brutal untuk mempertahankan kekuasaan.

Mereka pun mulai berbicara di antara mereka sendiri tentang wanita misterius di semua kotak masuk mereka.

Akhir tahun lalu, setelah Annsar berbicara dengan seorang wanita yang menuduh Amjad menyerangnya, dia sudah muak. Semua empati dengan pelaku ini mulai meresap ke dalam jiwanya. Dan juga sebagai karakter di kehidupannya.

“Annsar juga layak untuk hidup,” katanya. “Lalu pertanyaannya adalah, di mana Annsar? Siapa Annsar sekarang? Hilang dalam penelitian? Anna mampu berpura-pura dalam hidup dan sebagai seorang Alawi, berpura-pura selama berjam-jam di sini di Amsterdam. Dan saya pikir Anna melangkah sejauh ini, itu bukan hanya identitas digital. Di mana orang asli dalam semua ini? Di manakah lokasi Annsar? Jadi, saya memutuskan untuk mengeksekusi Anna.”

Pada suatu pagi yang dingin di bulan Januari tahun ini, Ugur dan Annsar mengemas sebuah kotak kecil dengan cetakan profil Facebook Anna, pedang yang digunakan sebagai simbol oleh rezim Assad, dan beberapa pernak-pernik dan pergi ke cagar alam di luar Amsterdam.

Di sana, mereka menggali lubang dan mengubur karakter itu, dengan seorang pejalan kaki yang terkejut, satu-satunya orang lain yang menjadi saksi kematian detektif digital yang tubuhnya akan membuat mata-mata benar-benar bangga.

Sudah waktunya bagi kedua peneliti untuk mulai fokus pada materi yang telah mereka kumpulkan dan belum dapat mereka proses sembari terlalu tenggelam dalam karakter yang baru saja mereka kubur di hutan dengan keheningan satu menit.

“Saya selalu menertawakan dia,” kenang Annsar. “Kami selalu mengingat Anna.” Akan tetapi, ada satu hal lagi yang perlu mereka lakukan; menghadapi Amjad dengan apa yang mereka ketahui tentang dia.

“Karena sampai kapan mau pacaran dengan petugas mukhabarat,” tanya Ugur. “Saya pikir momen di mana dia membuka diri tentang saudaranya, dan bahwa dia melakukan balas dendam, itu sedekat yang Anda bisa dapatkan dalam konteks khusus ini.”

Melalui Messenger Facebook, Anssar, kali ini menggunakan identitas aslinya, bukan “Anna Sh”, mengirimkan video berdurasi 14 detik kepada Amjad.

“Pertanyaan pertama saya adalah: ‘Apakah itu Anda dalam video?’ Saya berkata: ‘Ya, itu Anda.’ Amjad pun menjawab: ‘Ya, ini saya. Akan tetapi, apa yang diceritakan video ini? Tidak ada apa-apa. Saya hanya menangkap seseorang, dan itu tugas saya.’”

Menyadari konsekuensi dari apa yang baru saja ditunjukkan kepadanya, Amjad kemudian mencerca anggota Front Pertahanan Nasional, milisi yang merupakan anggota pemula yang membocorkan video itu. Dia menggambarkan mereka sebagai preman dan pembunuh, serta mengatakan dia tidak seperti mereka.

Kemudian dalih itu berhenti, dan Amjad dengan menantang menerima apa yang telah dia lakukan. “Saya bangga dengan apa yang saya lakukan,” tulisnya dalam sebuah pesan, sebelum mengancam akan membunuh Anssar dan keluarganya.

Baik Annsar maupun Ugur tidak menanggapi Amjad sejak Februari dan telah memblokirnya dari akun media sosial mereka.

Akan tetapi, dia telah mencoba untuk menghubungi beberapa kali. Dia jelas gugup tentang apa yang ada di hadapannya dan kemungkinan selanjutnya.

Penuntutan kejahatan perang di Jerman telah mulai mematahkan perisai impunitas yang telah menyelimuti rezim Assad di Suriah. Akan tetapi, sidang pengadilan tersebut tidak mengandung banyak bukti yang sama seperti yang digambarkan dalam video pembantaian Tadamon.

Akan tetapi, sebelum cerita ini diceritakan, satu orang harus menyelamatkan diri–orang yang membocorkan video itu ke seorang teman di Prancis, dan kemudian ke Ugur dan Annsar. Beberapa waktu dalam enam bulan terakhir, dia memulai perjalanan berbahayanya. (The Guardian – bersambung)

Berita 3148 (17 Mei 2022) - 2

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Syaikh Raed Salah: Serangan saat Prosesi Pemakaman Wartawati Al-Jazeera Buktikan Kebodohan Zionis
Banyak Kehilangan dan Kehancuran, Gencatan Senjata Bangkitkan Harapan Warga Yaman »