Enam Bulan Terakhir, Lebih dari 600 Muhajirin Rohingya Ditangkap saat Berupaya Menuju Malaysia

15 June 2022, 19:10.
Angkatan Laut Thailand dan petugas penyelamat menawarkan makanan kepada Muhajirin Rohingya yang ditemukan terdampar di Pulau Koh Dong setelah ditinggalkan oleh penyelundup manusia dalam perjalanan menuju Malaysia, 4 Juni 2022. Foto: AFP/Royal Thai Navy

Angkatan Laut Thailand dan petugas penyelamat menawarkan makanan kepada Muhajirin Rohingya yang ditemukan terdampar di Pulau Koh Dong setelah ditinggalkan oleh penyelundup manusia dalam perjalanan menuju Malaysia, 4 Juni 2022. Foto: AFP/Royal Thai Navy

THAILAND (Benar News) – Lebih dari 600 Muhajirin Rohingya telah ditangkap selama enam bulan terakhir ketika mencoba menuju Malaysia, sebut Radio Free Asia (RFA).

Hal tersebut disebabkan oleh sulitnya mencari penghidupan dan makanan, baik di tanah airnya, Arakan (Rakhine, Myanmar), maupun di kamp pengungsian Bangladesh.

Kondisi itu membuat para Muhajirin nekad melakukan perjalanan yang berisiko dan mematikan tersebut.

Seorang Muslim Rohingya yang tinggal di Maungdaw–yang tidak mau disebutkan namanya atas alasan keamanan–mengatakan bahwa dia telah menjual semua barang miliknya agar bisa mengirim putrinya ke Malaysia. Akan tetapi, di dalam perjalanan dia ditangkap.

“Keluarga kami sepakat untuk menikahkan putri kami dengan seorang laki-laki yang ada di Malaysia,” sebutnya kepada RFA.

“Kami bertanya apakah dia mau membayar setengah dari biaya perjalanan. Dia menyanggupi, dan karena kami tidak memiliki 500.000 kyat (sekira 4 juta rupiah), akhirnya kami menjual tanah dan rumah kami beserta barang berharga lainnya untuk membayar perjalanan tersebut. Sekarang dia telah ditangkap. Kami kehilangan semuanya.”

Putrinya berada di atas kapal bersama 228 Muhajirin lainnya, sekira 17 mil barat laut dari Pulau Mayu dekat Sittwe, ketika mereka ditangkap oleh pihak berwenang Myanmar.

Lebih dari 100 Muhajirin Rohingya dijatuhi hukuman lima tahun penjara oleh Pengadilan Distrik Maungdaw pada 14 Desember 2021 dengan alasan melanggar undang-undang imigrasi. Sementara anak-anak di bawah umur dibebaskan.

Pada bulan itu, total 270 Muhajirin Rohingya ditangkap. Menyusul berikutnya, dua lusin Muhajirin ditahan pada bulan Januari, 135 orang pada Februari, 14 pada Maret, 35 pada April dan 124 lainnya pada bulan Mei. Seluruhnya mencapai 602 orang Muhajirin Rohingya.

Seorang warga Rohingya di Kyaukphyu mengatakan, mereka yang meninggalkan Rakhine memang berisiko ditangkap, bahkan mati di tengah jalan.

Akan tetapi, parahnya berbagai pembatasan dan larangan yang diberlakukan pihak berwenang Myanmar, membuat mereka merasa kehilangan opsi lain. Malaysia menjadi destinasi pilihan karena sebagian besar penduduknya beragama Islam.

“Semakin mudah bagi para penyelundup untuk mengeksploitasi kami,” tukasnya.

“Yang menjadi masalah saat ini di Rakhine adalah warga tidak diizinkan bepergian dengan leluasa. Ditambah, sangat sedikit kesempatan untuk mencari nafkah. Kami tidak bisa keluar karena kami tinggal di kamp pengungsian. Itu sebabnya orang sampai mengambil risiko. Mereka pikir mereka akan mendapat hidup layak jika bisa melakukan perjalanan tersebut.”

Para Muhajirin Rohingya yang berasal dari Maungdaw membayar jumlah yang sangat tinggi kepada para penyelundup. Sampai sekira 9 juta kyat (lebih dari 70 juta rupiah) yang harus dibayarkan secara bertahap selama perjalanan bertaruh nyawa tersebut.

Bahaya Besar Mengintai

Terlepas dari tingginya biaya, para Muhajirin Rohingya masih diharuskan menghadapi bahaya yang bisa segera terjadi dalam perjalanan mereka. Sering kali mereka hanya ditempatkan di atas perahu reyot dalam mengarungi laut yang ganas.

Pada tanggal 21 Mei, sedikitnya 25 Muhajirin Rohingya–dari sekira 90 penumpang–tewas tenggelam ketika perahu mereka terbalik dan karam di Teluk Bengal.

Lebih dari 20 orang berhasil diselamatkan, termasuk pelaku perdagangan manusia, keesokan harinya. Sementara puluhan Muhajirin lainnya masih belum ditemukan.

Tanggal 4 Juni, pihak berwenang Thailand menangkap 59 Muhajirin Rohingya dari Myanmar dan Bangladesh yang terdampar di Pulau Koh Taung, Provinsi Satun bagian selatan. Para pelaku penyelundupan menipu mereka dengan mengatakan bahwa mereka telah sampai di Malaysia.

Tin Hlaing, warga Rohingya dari desa Thekkebyin di kota Sittwe, yang menangani masalah perdagangan manusia, mengatakan bahwa beberapa Muhajirin Rohingya juga mengalami pelecehan oleh para penjahat tersebut selama dalam perjalanan.

“Beberapa anak terlihat dalam kondisi memprihatinkan [karena] para pedagang memukuli mereka, lalu mengirim videonya ke keluarganya untuk menuntut agar mereka segera membayar sisa 2 juta, 3 juta atau 5 juta kyat, jika mereka ingin putra-putri mereka hidup,” katanya.

“Orang tua mereka, yang juga tinggal di kamp pengungsian, tidak punya uang untuk membayar,” lanjutnya. “Apa yang mereka lakukan adalah menjual kamar mereka atau kupon jatah makan mereka. Akhirnya, mereka tidak punya tempat tinggal dan tidak mendapat makanan lagi. Mereka harus melakukan itu agar anak-anak mereka tetap hidup. Kami melihat tragedi setragis itu di sini.”

Aktivis bernama Nay San Lwin, salah satu pendiri Free Rohingya Coalition, mencatat bahwa terus bergelombangnya Muslim Rohingya yang mencoba menyelamatkan diri dari Myanmar adalah akibat dari pelanggaran atas hak-hak asasi mereka.

“Jika Anda dapat bekerja dan hidup bebas di daerah Anda, jika ada stabilitas dan kedamaian, tidak ada yang akan bermigrasi,” jelasnya.

“Di seluruh Myanmar, warga dapat bepergian dengan bebas melalui darat maupun laut, tetapi hanya Rohingya yang tidak diizinkan melakukannya. Bangsa Rohingya bahkan dilarang menggunakan jalur perairan di tanah kelahiran mereka sendiri.”

“Mereka tidak punya hak untuk hidup normal,” lanjutnya. “Perampasan hak-hak dasar, seperti hak atas kebebasan bergerak merupakan pelanggaran serius terhadap hak asasi manusia.”

Desakan untuk Dunia Internasional

Ratusan ribu etnis Rohingya ditempatkan di kamp pengungsian internal di kota-kota Sittwe, Pauktaw dan Kyaukphyu, menyusul kekerasan sektarian antara warga Muslim dan Buddha pada tahun 2012 dan 2013.

Pada tahun 2017, militer Myanmar melakukan operasi brutal pembersihan etnis di Rakhine yang memaksa lebih dari 740.000 warga Rohingya, terutama di kota-kota Buthidaung dan Maungdaw, menyelamatkan diri melintasi perbatasan ke Bangladesh, di mana sekarang mereka tinggal di kamp-kamp pengungsian yang penuh sesak karena kelebihan kapasitas.

Amerika Serikat pada bulan Maret telah menyatakan bahwa operasi militer Myanmar tersebut merupakan tindak kejahatan genosida.

Myanmar Ethnic Rohingya Human Rights Organization di Malaysia mengeluarkan seruan tertulis pada hari Senin (13/6/2022) kepada Dewan Hak Asasi Manusia PBB untuk segera menemukan solusi permanen atas penindasan berkepanjangan terhadap bangsa Rohingya ini.

“[Kami] mendesak untuk dilakukannya intervensi dan perdamaian yang sangat genting dari dunia luar untuk mengubah nasib bangsa kami,” kata organisasi tersebut.

“Kita tidak bisa lagi menunda-nunda tindakan tersebut karena itu hanya akan membuat lebih banyak warga Rohingya dan Myanmar kehilangan nyawa.”

Organisasi tersebut meminta para pemimpin dunia, Uni Eropa, OKI, ASEAN, dan negara-negara anggota PBB untuk mengajukan banding ke pertemuan Dewan Hak Asasi Manusia PBB yang berlangsung hingga 8 Juli, demi menemukan solusi atas krisis bangsa Rohingya. (Benar News)

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Jenazah Perempuan Suriah Ditemukan di Kamp Al-Hol, Terdapat Luka Tembak di Jasadnya
Komisi Urusan Tawanan: “Penjajah Zionis Tangkap 450 Anak Palestina Sejak Awal 2022” »