Perawatan Persalinan Terbatas, Perempuan Hamil di Yaman Hadapi Situasi Sangat Berbahaya

17 June 2022, 10:22.
Seorang wanita hamil di kamp pengungsian internal di Provinsi Aden, Yaman. Karena pemotongan dana, UNFPA–penyedia layanan kesehatan reproduksi terkemuka di negara ini–harus mengurangi program bantuannya sebesar 25 persen untuk tahun ini. Dari 1,3 juta wanita yang akan melahirkan pada tahun 2022, diperkirakan 195.000 di antaranya akan mengalami komplikasi yang membutuhkan bantuan medis untuk menyelamatkan nyawa mereka. (UNFPA Yaman)

Seorang wanita hamil di kamp pengungsian internal di Provinsi Aden, Yaman. Karena pemotongan dana, UNFPA–penyedia layanan kesehatan reproduksi terkemuka di negara ini–harus mengurangi program bantuannya sebesar 25 persen untuk tahun ini. Dari 1,3 juta wanita yang akan melahirkan pada tahun 2022, diperkirakan 195.000 di antaranya akan mengalami komplikasi yang membutuhkan bantuan medis untuk menyelamatkan nyawa mereka. (UNFPA Yaman)

YAMAN (UNFPA) – Seorang wanita dari kamp pengungsian internal bernama Hamsa* jelang persalinannya tiba di Klinik Ibu dan Anak di Maifa’a, Provinsi Hadramout, yang dikenal menyediakan layanan kebidanan gratis, hanya untuk menemukan bahwa para petugas medis telah pergi dan layanan persalinan tutup.

Raisa* yang tengah bersiap melahirkan anak pertamanya, berhasil sampai ke Puskesmas Al Dhabr di Provinsi Amran, namun pintunya terkunci. Fasilitas kesehatan tersebut belum bisa lagi beroperasi karena kekurangan petugas.

Jam demi jam berlalu saat rasa sakitnya semakin meningkat, namun keluarganya sudah tidak mampu membayar transportasi ke rumah sakit lain.

Ketika Amat* dilarikan ke Rumah Sakit Al Khabt di Provinsi Taizz dalam kondisi kritis, dia juga mendapati bahwa perawatan kebidanan di sana telah berhenti, sedangkan rumah sakit terdekat yang dapat menyelamatkan nyawanya beserta bayinya berjarak beberapa jam perjalanan.

Harga Mahal yang Harus Dibayar Para Wanita Hamil

Di Maifa’a, Hamsa terpaksa mencari bantuan dari dukun beranak di dekat rumah. Sayangnya dukun berandak tersebut tidak menyadari bahwa dia membutuhkan operasi caesar.

Ketika akhirnya Hamsa mengeluarkan banyak darah, ia harus dibawa ke rumah sakit terdekat di Kota Al Mukalla yang berjarak 130 kilometer. Di sana tim medis berhasil menyelamatkan nyawa Hamsa, namun tidak dengan bayi perempuannya yang baru lahir.

Puskesmas Al Dhabr, tempat Raisa berusaha mendapatkan perawatan, telah menyediakan layanan kesehatan reproduksi gratis sejak 2018. Klinik ini dapat menerima hingga 30 kasus sehari.

Akan tetapi, setelah mereka mulai mengenakan biaya untuk layanan dan obat-obatan (di mana harganya tidak terjangkau untuk sebagian besar warga Yaman), klinik itu hanya menangani dua pasien sehari.

Hingga akhirnya klinik tersebut berhenti beroperasi karena kekurangan bahan bakar, yang dapat secara tiba-tiba memutus aliran listrik di tengah operasi.

Raisa kemudian pergi ke bidan, yang mengatakan bahwa kondisi kritisnya harus dirawat ke rumah sakit. Tanpa ada uang lagi untuk transportasi, dia hanya bisa pergi ke bidan kedua, yang juga mengatakan bahwa dia membutuhkan perawatan darurat.

Raisa, yang masih berusia 32 tahun, akhirnya meninggal sebelum mencapai rumah sakit; sementara bayi perempuan di dalam kandungannya berhasil diselamatkan.

Sistem Kesehatan yang Hancur

Hanya setengah dari seluruh rumah sakit di Yaman yang tetap berfungsi, dan hanya satu dari lima di antaranya yang menyediakan layanan kesehatan bagi ibu dan anak.

Sembilan belas dari 22 provinsi di negara itu hanya memiliki enam tempat tidur bersalin bagi setiap 10.000 orang; setengah dari apa yang dijadikan standar oleh WHO.

Selain itu, diperkirakan 42,4 persen atau hampir separuh populasi Yaman tinggal dengan jarak lebih dari satu jam perjalanan dari rumah sakit umum terdekat yang masih beroperasi.

Seorang wanita Yaman meninggal setiap dua jam saat melahirkan, dengan penyebab yang hampir seluruhnya dapat dicegah melalui penanganan medis standar.

Diperkirakan ada 8,1 juta wanita dan anak perempuan usia subur yang memerlukan bantuan untuk mendapat layanan kesehatan reproduksi, termasuk perawatan antenatal, layanan persalinan yang aman, perawatan pasca kelahiran, dan keluarga berencana.

Di antara mereka ada 1,3 juta wanita yang akan melahirkan pada tahun 2022, di mana 195.000 orang di antaranya diperkirakan mengalami komplikasi yang memerlukan bantuan medis untuk menyelamatkan nyawa mereka

Bantuan yang Tak Kunjung Datang

Para dokter di Rumah Sakit Al Khabt merujuk Amat ke Rumah Sakit Kota Al Mahweet yang jaraknya tiga jam perjalanan, di mana keluarganya mengetahui bahwa di sana pun tidak tersedia layanan yang Amat butuhkan, termasuk bank darah.

“Dalam perjalanan, saya pingsan,” kenangnya.

Suaminya panik ketika bibirnya membiru. “Saat saya menyentuhnya, saya merasa mereka akan berpisah dengan saya,” ucapnya.

Rumah sakit terbesar di provinsi tersebut, Al Jumhori di Kota Al Mahwit, yang berjarak dua setengah jam perjalanan menjadi kesempatan terakhir bagi Amat yang tidak sadarkan diri dan nyaris tidak bernapas.

Setelah hampir enam jam perjalanan karena infrastruktur jalan yang buruk, ibu dan bayi dalam kandungannya tersebut akhirnya berhasil selamat.

“Sederhana saja,” kata bidan Afrah, yang membantu persalinan Amat. “Ketika layanan-layanan kembali tersedia, kita bisa menyelamatkan banyak nyawa.” (UNFPA)

*Nama diubah untuk privasi dan perlindungan

 

 

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Jajaki Jalin Hubungan, Penjajah Zionis ‘Israel’ Bidik Arab Saudi dan Indonesia
Penjajah Zionis Bunuh Tiga Warga Palestina di Jenin, Mobil Dibombardir Peluru »