Muhajirin Uyghur Temukan Keluarga dan Teman yang Hilang di Bocoran Arsip Polisi Xinjiang

17 June 2022, 21:56.

(VoA News) – Sebuah misteri akhirnya terpecahkan bagi Anwar, seorang Muhajirin Uyghur di Amerika, yang meminta agar nama belakangnya disembunyikan demi keamanannya.

Anwar mengatakan dia sudah tidak mampu menghubungi keluarganya di Xinjiang selama lima tahun ini.

Kemudian, dia melihat foto sepupunya ada di dalam arsip Polisi Xinjiang, yakni dokumen dan foto-foto yang bocor dari dalam Cina dan dirilis ke publik bulan lalu oleh Victims of Communism Memorial Foundation beserta media.

“Saya hanya bisa berharap dan berdoa memohon yang terbaik saat saya duduk melihat setiap gambar File Polisi Xinjiang yang bocor,” kata Anwar.

Arzugul Abdurehim, sepupu Anwar

Arzugul Abdurehim, sepupu Anwar

Setelah menghabiskan berjam-jam menelisir foto yang tak terhitung jumlahnya, Anwar akhirnya menemukan wajah salah seorang keluarganya. Arzugul Abdurehim, sepupunya, sekarang berusia 42 tahun, berada di antara file tersebut.

“Rasa marah, frustrasi, putus asa, dan sedih meluap dalam diri saya ketika melihat foto sepupu saya; saya tahu dia diborgol,” kata Anwar.

“Kami tumbuh bersama, dan bagi saya, dia adalah adik perempuan saya. Dia hanya seorang ibu Uyghur pada umumnya, yang merawat anak-anaknya dan berusaha memberi mereka yang terbaik.”

Sepupu Anwar tersebut berusia 39 tahun ketika dia ditangkap pada tahun 2018, menurut arsip Polisi Xinjiang.

Anwar mengatakan, dia yakin “kejahatan utama” sepupunya yang menjadi alasan penangkapan adalah “identitasnya bahwa dia adalah Uyghur”.

“Foto-foto ini hanya berasal dari tahun 2018. Sementara genosida kian memburuk sejak saat itu. Saya berharap keluarga dan orang-orang yang saya cintai masih hidup,” kata Anwar.

Metyar Ghopur, teman sekelas Sultan

Metyar Ghopur, teman sekelas Sultan

Mehmet Ali Sultan, seorang Muhajirin Uyghur yang dinaturalisasi dan telah tinggal di Amerika Serikat sejak 2011, juga membuka setiap foto dari arsip polisi Xinjiang untuk menemukan orang dari kampung halamannya di daerah Konasheher.

Dia menemukan mantan teman sekelasnya di sekolah menengah, Metyar Ghopur, yang ditahan pada tahun 2017 oleh aparat rezim komunis Cina.

“Jika bukan karena file yang bocor ini, saya tidak akan bisa mengetahui penahanan sewenang-wenang yang dialami teman sekelas saya,” sebut Sultan.

“Saya menyaring pencarian saya hanya kepada orang-orang yang berusia di atas 30 tahun, begitu melihat wajah yang sudah tidak saya temui selama lebih dari satu dekade ini, saya segera mengenalinya,” kata Sultan.

“Ketika saya mengenali wajahnya, saya langsung gemetaran dan hampir tidak bisa menahan air mata saya,” ungkap Sultan.

Bukti Kejahatan Genosida

Foto Ghopur dan Abdurehim adalah dua dari ribuan foto yang berhasil diambil dari kantor polisi dan pusat penahanan di Xinjiang. Di dalamnya terdapat foto lebih dari 2.800 tahanan. Data yang bocor ini disebut oleh Victims of Communism Memorial Foundation sebagai “kebocoran terbesar dan yang paling signifikan” sejauh ini.

Tahanan Uyghur termuda dalam file itu adalah gadis 14 tahun (usia ketika dia ditahan) dan yang tertua, 73 tahun.

Selain foto, data yang bocor termasuk dokumen dan pidato terkait penahanan massal Muslim Uyghur oleh rezim Cina, yang dibocorkan ke salah satu peneliti yayasan bernama Adrian Zenz.

Yayasan tersebut mengatakan bahwa informasi yang terdapat dalam arsip polisi Xinjiang telah diautentikasi dan ditinjau oleh tim peneliti dan jurnalis investigasi.

“Orang yang tiba-tiba menghubungi penulis untuk memberikan file, bertindak atas inisiatif pribadi, tanpa melampirkan syarat dan ketentuan untuk dipublikasi, dan ingin tetap anonim demi menjaga keamanan dirinya,” jelas Victims of Communism Memorial Foundation melalui situsnya.

Arsip polisi Xinjiang tersebut mengungkapkan pidato rahasia oleh para pejabat senior rezim komunis Cina, juga dokumen internal kepolisian tentang sistem penjagaan kamp penahanan.

Salah satu aturan dasarnya ialah jika “siswa” (sebutan bagi para tahanan) mencoba melarikan diri, lakukan tembakan peringatan dan “tembak (mereka) mati” jika mereka tidak mau mematuhi peringatan tersebut, menurut dokumen internal polisi yang bocor tersebut.

The Victims of Communism Memorial Foundation mengatakan bahwa File Polisi Xinjiang memberikan gambaran mendalam mengenai skala operasi rahasia Beijing di wilayah Xinjiang.

“Ini adalah cache dokumen yang belum pernah ada sebelumnya, didapat langsung dari server komputer polisi Xinjiang,” ucap Andrew Bremberg, presiden Victims of Communism Memorial Foundation dan mantan Duta Besar AS untuk PBB di Jenewa.

Beberapa negara Barat dan kelompok hak asasi manusia telah menyatakan bahwa Cina terbukti melakukan genosida dan kejahatan atas kemanusiaan terhadap bangsa Uyghur dan kelompok etnis Turki lainnya di Xinjiang. (VoA News)

 

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Penjajah Zionis Bunuh Tiga Warga Palestina di Jenin, Mobil Dibombardir Peluru
HRW: “Dalam Satu Dekade, Rezim Myanmar Tahan Lebih dari 135.000 Muslim Rohingya” »