Gencatan Senjata di Yaman Diperpanjang Dua Bulan, PBB: “Meski Rapuh, Penting untuk Bisa Bertahan”

18 June 2022, 19:52.
Seorang bocah perempuan Yaman di kamp pengungsian di Distrik Razih, Provinsi Saada, Yaman, pada 4 Februari 2020. Foto: Reuters

Seorang bocah perempuan Yaman di kamp pengungsian di Distrik Razih, Provinsi Saada, Yaman, pada 4 Februari 2020. Foto: Reuters

YAMAN (Middle East Eye) – Gencatan senjata selama dua bulan yang ditengahi PBB antara pemerintah Yaman dengan milisi syiah Houthi, yang mulai berlaku pada bulan Ramadhan kemarin, pada tanggal 2 Juni berhasil diperpanjang untuk dua bulan ke depan.

Hans Grundberg, utusan khusus PBB untuk Yaman, juga menyerukan kepada warga setempat untuk memanfaatkan momen berharga ini guna memperbaiki kondisi kehidupan di sana.

PBB menyebut dua bulan gencatan senjata di Yaman yang berhasil diperpanjang ini menunjukkan “perubahan nyata” pertama sejak konflik dimulai.

“Gencatan senjata tetap berlangsung dan ini mengejutkan banyak pengamat yang ada di sini. Dan saya harus mengatakan bahwa saya juga terkejut dengan komitmen yang telah ditunjukkan oleh pihak-pihak terkait, terlepas dari semua tantangannya,” kata Hans Grundberg di Yemen International Forum di Stockholm, yang diselenggarakan oleh Sanaa Centre for Strategic Studies dan Folke Bernadotte Academy.

“Kami tahu itu rapuh, memang, masih jauh dari sempurna, tetapi yang penting bisa tetap bertahan,” lanjutnya.

Di bawah gencatan senjata, penerbangan komersial dapat kembali dilakukan dari Bandara Sanaa ke Amman dan Kairo. Sementara kapal tanker minyak juga dapat berlabuh di pelabuhan Hodeidah yang dikuasai milisi Houthi dan menjadi jalur penting bagi kehidupan di Yaman.

“Ini adalah komitmen untuk semua warga Yaman. (Gencatan) ini memberikan penduduk Yaman perdamaian yang sangat dibutuhkan dan mengembalikan harapan bahwa perang ini bisa berakhir,” ucapnya.

Perang di Yaman meletus pada September 2014 ketika milisi syiah Houthi berhasil merebut ibu kota, Sanaa, dan memicu perang yang memaksa Presiden Abd-Rabbu Mansour Hadi untuk berlindung di Aden dan kemudian di Arab Saudi.

Kerajaan Saudi dan koalisinya melakukan intervensi pada Maret 2015, yang sejak saat itu telah melakukan lebih dari 22.000 serangan udara untuk memukul mundur Houthi.

Sayangnya, fasilitas-fasilitas non-militer ikut terkena, termasuk sekolah, pabrik dan rumah sakit, menurut Yemen Data Project.

Berdasar perkiraan PBB, sebanyak 377.000 orang terancam kehilangan nyawa pada akhir 2022 jika konflik terus berlanjut.

Diperkirakan empat juta warga Yaman telah mengungsi, dan 80 persen dari 29 juta orang di negara itu bergantung pada bantuan kemanusiaan untuk dapat bertahan hidup sehari-hari.

PBB telah menyatakan kondisi di Yaman sebagai “krisis kemanusiaan terparah di dunia”. (Middle East Eye)

 

 

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Gerombolan Pemukim Kolonial Serang Warga Palestina di Duma, Bayi Tiga Bulan Alami Cedera
Penjajah Zionis Kembali Lakukan Serangan Udara di Sejumlah Daerah di Gaza »