Dokumen yang Bocor Menguak Penindasan Sistematis dan Terorganisir Rezim Cina terhadap Warga Uyghur

3 July 2022, 11:10.
Sekretaris Partai Xinjiang Chen Quanguo (kiri) beranjak pergi saat Shohrat Zakir (kanan), kepala pemerintahan Xinjiang, bertepuk tangan pada akhir pertemuan delegasi Xinjiang di Kongres Nasional Rakyat di Beijing, 12 Maret 2019. Foto: AFP

Sekretaris Partai Xinjiang Chen Quanguo (kiri) beranjak pergi saat Shohrat Zakir (kanan), kepala pemerintahan Xinjiang, bertepuk tangan pada akhir pertemuan delegasi Xinjiang di Kongres Nasional Rakyat di Beijing, 12 Maret 2019. Foto: AFP

CINA (RFA) – Pidato-pidato rahasia para petinggi Partai Komunis Cina menyebutkan bahwa Uyghur dan etnis Muslim lainnya adalah “musuh” yang kebudayaannya harus dihapus agar Tiongkok dapat bertahan.

Ini adalah bukti baru yang mengejutkan dari genosida sistematis yang diluncurkan rezim komunis Cina untuk memaksa kelompok-kelompok minoritas agar mau berasimilasi.

Pidato tersebut adalah bagian dari kumpulan dokumen yang dikenal sebagai Arsip Polisi Xinjiang, dan berhasil terkuak lalu dirilis pada bulan Mei oleh peneliti Jerman Adrian Zenz, seorang ahli mengenai permasalahan di Xinjiang. Arsip itu sendiri berisi informasi tentang lebih dari 20.000 warga Uyghur yang ditahan rezim.

Pidato internal Partai Komunis dengan label “dokumen rahasia” itu menunjukkan bahwa rezim Cina secara hati-hati telah merencanakan apa yang dikatakan dunia internasional sebagai genosida dan kejahatan terhadap kemanusiaan.

Di antara yang dimaksud ialah pidato pada Mei 2017 oleh Chen Quanguo, sekretaris Partai Komunis Cina untuk wilayah Xinjiang periode Agustus 2016 hingga Desember 2021.

Ia mengatakan, tindakan keras pemerintah Tiongkok di Xinjiang bukanlah tindakan membasmi penjahat melainkan “perang pemusnahan” yang ditujukan terhadap warga Uyghur, bangsa yang ia sebut sebagai “musuh”.

Chen menggambarkan strategi “serangan keras” di Xinjiang ini adalah arahan langsung oleh Presiden China Xi Jinping, yang mencakup perintah untuk memenjarakan warga Uyghur.

Kelompok-kelompok hak asasi manusia telah mengeluarkan banyak sekali laporan yang kredibel dan terdokumentasi dengan baik tentang upaya pembersihan etnis Uyghur yang dilakukan rezim komunis Cina.

Di antaranya melalui penahanan sekira 1,8 juta warga Uyghur dan etnis minoritas Turki lainnya di Xinjiang, penerapan sistem pengawasan yang masif dan diskriminatif, pembatasan atas kebudayaan dan kebebasan beragama, serta berbagai sanksi kejam dengan penyiksaan, kekerasan seksual, maupun kerja paksa.

Chen juga mengatakan bahwa mereka yang dijatuhi hukuman kurang dari lima tahun penjara harus dimobilisasi untuk belajar hukum dan bahasa Mandarin. Lalu mereka dibebaskan hanya setelah mencapai tingkat kepatuhan yang memuaskan, tanpa peduli berapa tahun waktu yang dibutuhkan.

Lanjut Chen, etnis Uyghur adalah bangsa yang tidak dapat dipercaya dan berbahaya bagi Cina. Oleh karena itu, mereka harus dididik agar bisa berkomitmen untuk benar-benar terbebas dari sifat yang membahayakan, selepas mereka kembali ke masyarakat.

Akan tetapi, bagi mereka yang pandangannya kemungkinan tidak dapat diubah, di antaranya para imam Uyghur, harus ditahan atau dipenjara tanpa batasan waktu karena mereka memiliki potensi untuk menggerakkan komunitas Uyghur.

Petugas rezim Cina di Xinjiang menginterogasi seorang warga Uyghur di kamp 'pendidikan ulang' dalam foto tak bertanggal dari Arsip Polisi Xinjiang, yang dirilis oleh peneliti Jerman Adrian Zenz pada 24 Mei 2022. Foto: Adrian Zenz/Xinjiang Police Files

Petugas rezim Cina di Xinjiang menginterogasi seorang warga Uyghur di kamp ‘pendidikan ulang’ dalam foto tak bertanggal dari Arsip Polisi Xinjiang, yang dirilis oleh peneliti Jerman Adrian Zenz pada 24 Mei 2022. Foto: Adrian Zenz/Xinjiang Police Files

‘Diracuni oleh Terorisme, Kekerasan, dan Ekstremisme’

Orang-orang “berbahaya” yang disebutkan Chen Quanguo dalam pidatonya, mengacu pada warga Uyghur yang dianggap “diracuni oleh terorisme, kekerasan dan ekstremisme” maupun yang memiliki kontak dengan orang di luar Cina. Chen mengatakan, orang-orang seperti itulah yang menjadi sasaran dalam apa yang disebutnya “perang rakyat”.

Berdasarkan informasi dalam Arsip Polisi Xinjiang, berikut laporan penelitian lainnya serta dokumen yang bocor sebelumnya, menunjukkan bahwa apa yang disebut Chen sebagai racun di antaranya ialah kebudayaan Uyghur dan praktik Islam.

Pidato oleh Chen dan Zhao Kezhi, mantan Menteri Keamanan Publik Tiongkok, menyatakan bahwa ada jutaan warga Uyghur yang sudah “diracuni”.

Adrian Zenz, yang menerima Arsip Polisi Xinjiang dari sumber yang tidak disebutkan namanya, menegaskan bahwa pihak berwenang Cina menahan warga Uyghur bukan karena tindak kejahatan, melainkan karena hubungan sosial mereka.

“Lebih dari 2.800 orang yang kami temukan di Arsip Polisi Xinjiang ditahan karena jejaring sosial mereka, bukan karena kejahatan apa pun yang mereka lakukan,” katanya.

Ilshat Hassan Kokbore, wakil ketua komite eksekutif World Uyghur Congress, mengatakan bahwa penahanan etnis Uyghur yang dilakukan rezim Cina secara sewenang-wenang dan dalam skala besar, maupun apa yang disebut sebagai “perang rakyat”, sama saja artinya dengan secara terbuka menyatakan bahwa seluruh orang Uyghur adalah “musuh negara”.

Titik fokus lain dari pidato Chen adalah mengenai penguatan kendali pemerintah kepada keluarga-keluarga Uyghur. Pada akhir 2017, Partai Komunis Cina menugaskan kader-kader mereka untuk berkunjung dan tinggal di rumah-rumah warga Uyghur.

Mereka bisa beraktivitas bersama penduduk, bahkan dalam beberapa kasus sampai tidur di tempat tidur mereka, melalui program “Berpasangan dan Menjadi Keluarga”, untuk memantau langsung kehidupan warga Uyghur yang dikunjungi.

Chen mengatakan bahwa, “Dulu, di beberapa desa, para petugas kami takut akan dibunuh ketika memasuki rumah-rumah mereka untuk menjadi ‘kerabat’. Sekarang para petugas yang masuk menjadi ‘kerabat’ akan disambut oleh semua orang di meja makan.”

Anak-anak bermain di dekat layar yang menampilkan gambar Presiden Tiongkok, Xi Jinping dalam kunjungannya di Kashgar, Xinjiang, 1 Juni 2019. Foto: AFP.

Anak-anak bermain di dekat layar yang menampilkan gambar Presiden Tiongkok, Xi Jinping dalam kunjungannya di Kashgar, Xinjiang, 1 Juni 2019. Foto: AFP.

Menghilangkan Risiko di Masa Depan

Mengenai anak-anak Uyghur, Chen mengatakan bahwa 1 juta anak yang dididik di taman kanak-kanak “bilingual”, telah mempelajari “bahasa nasional” dengan sangat baik.

Hanya dalam beberapa bulan, anak-anak dapat menyanyikan lagu kebangsaan dalam bahasa Mandarin dan mencintai “tanah air agung”, ujar Chen.

“Hanya dengan cara ini kita dapat membuat generasi berikutnya sama-sama menginginkan stabilitas jangka panjang, mematuhi partai, dan berterima kasih kepada partai,” kata Chen, tanpa menyebutkan di mana orang tua anak-anak Uyghur itu berada.

Besarnya jumlah anak-anak Uyghur yang dididik paksa oleh Cina akan menghancurkan masyarakat Uyghur, sebut Kokbore.

Metode pendidikan rezim Cina didasari gagasan untuk “menghilangkan risiko di masa depan” sehingga pelatihan akan terus berlanjut sampai “bahaya” dapat dihilangkan, jelas Zenz.

Arsip Polisi Xinjiang juga berisi arahan Chen pada tanggal 18 Juni 2018 kepada para pejabat di tingkat kabupaten.

Pidato tersebut diikuti oleh kunjungan Menteri Keamanan Publik China saat itu, Zhao Kezhi, yang datang untuk memeriksa kamp “pendidikan ulang” sambil memberikan instruksi umum mengenai “proyek Xinjiang”.

Dalam pidatonya, Chen berulang kali merujuk pada “strategi Partai Komunis Tiongkok yang dipimpin Xi Jinping dalam mengatur Xinjiang.”

Dia mengatakan Zhao menyampaikan instruksi dan tuntutan Xi, bahwa “tugas paling penting dan utama di Xinjiang adalah untuk mencapai keharmonisan sosial dan stabilitas jangka panjang.”

Pemerintah Xinjiang harus memenuhi tuntutan yang diajukan Xi Jinping, berapa pun biayanya, tegas Chen, sambil menekankan bahwa situasi politik di kawasan tersebut adalah kunci untuk menyatukan seluruh negara.

Meningkatkan produk domestik bruto Xinjiang, atau menjadi “model” dalam pembangunan ekonomi, adalah prioritas sekunder dan tersier, kata Chen.

Menteri Keamanan Publik China, Zhao Kezhi, berdiri di depan bendera nasional sebelum rapat pleno KTT Dewan Kemanan Nasional di Beijing, 22 Mei 2018. Foto: AFP

Menteri Keamanan Publik China, Zhao Kezhi, berdiri di depan bendera nasional sebelum rapat pleno KTT Dewan Kemanan Nasional di Beijing, 22 Mei 2018. Foto: AFP

’10 Tugas’

Saat dalam kunjungan inspeksinya, Zhao menyatakan dalam pidatonya bahwa “10 Tugas” telah dilaksanakan dengan baik, yaitu “serangan keras” melawan “terorisme” yang diluncurkan pada Mei 2014, pemberantasan “ekstremisme”, serta pemutusan jalur dan sumber identitas Uyghur.

Selain itu, di antara “10 Tugas” yang disebutkan adalah penempatan pegawai negeri China di rumah-rumah warga Uyghur, mempopulerkan pendidikan bahasa nasional dari taman kanak-kanak sampai ke perguruan tinggi, transformasi melalui pendidikan, pembangunan sistem pengawasan massal, dan perluasan Bingtuan, yakni lembaga paramiliter milik negara yang bergerak di bidang ekonomi, hingga ke Xinjiang selatan.

Zhao menyatakan bahwa “harapan Sekretaris Jenderal Partai Komunis Cina, Xi Jinping, telah terpenuhi. Rencana lima tahun telah tercapai sepenuhnya.”

Mengulangi “kesimpulan penilaian” Zhao, Chen mengumumkan bahwa serangan keras terhadap Uyghur yang dimulai pada tahun 2013 telah menjadi “kemenangan” yang lengkap pada tahun 2018. Akan tetapi, dia menambahkan bahwa kalangan separatis di Xinjiang “masih provokatif.”

“Kita tidak bisa santai melihat kemenangan saat ini,” ucapnya.

“Perjuangan kita ini tidak akan pernah berhenti seperti yang diperkirakan para separatis. Beberapa separatis bersembunyi selama ‘serangan keras’ ini dan bermimpi untuk muncul kembali jika situasinya menjadi sedikit lebih lunak dari sebelumnya.”

“Pukulan keras kita ini tidak akan berhenti barang satu menit pun dari sekarang. Perjuangan kita yang telah dicapai selama lima tahun ini akan terus berlanjut dalam lima tahun ke depan.” (RFA)

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Ledakan Bom Mobil di Yaman Tewaskan Enam Orang, Beberapa Lainnya Luka Parah
Sejumlah Muslimah Rohingya Segera Berangkat ke Argentina, Bersaksi Dalam Sidang Genosida Myanmar »