Solidaritas terhadap Khalil Awawda dan Ra’ed Rayan, Puluhan Tawanan Palestina Memulai Aksi Mogok Makan

24 July 2022, 18:59.
Khalil Awawda dan Ra'ed Rayan. Foto: Palinfo

Khalil Awawda dan Ra’ed Rayan. Foto: Palinfo

PALESTINA (Palinfo | IMEMC) – Puluhan tawanan Palestina memulai aksi mogok makan, Sabtu (23/7/2022), sebagai bentuk solidaritas terhadap dua tawanan, Khalil Awawda dan Ra’ed Rayan.

Awawda dan Rayan telah melakukan aksi mogok makan lebih dari 100 hari sebagai protes atas penahanan administratif mereka.

Masyarakat Tawanan Palestina (PPS) mengatakan sekelompok tawanan lain dari Jihad Islam dan Front Popular akan bergabung dalam aksi mogok makan mulai 24 Juli 2022.

Para tawanan memutuskan untuk melakukan mogok makan massal setelah semua upaya untuk menuntut pembebasan Awawda dan Rayan gagal.

PPS mengatakan, kondisi kesehatan Awawda dan Rayan mencapai tahap kritis akibat mogok makan yang berkepanjangan.

Dijerat Berulang Kali

Ra’ed Rayan (28 tahun), yang berasal dari Beit Duqqu, sebelah barat Baitul Maqdis, telah melakukan aksi mogok makan selama 108 hari.

Rayan diculik pada 3 November 2021, dan dijatuhi hukuman penahanan administratif empat bulan. Dia kembali dijerat dengan perintah penahanan administratif selama enam bulan.

Rayan merupakan mantan tawanan politik yang menghabiskan 21 bulan di bawah perintah penahanan administratif yang sama, tanpa dakwaan atau proses peradilan.

Sedangkan Khalil Awawda (40 tahun), yang berasal dari daerah Ethna, Kota Al-Khalil, telah melakukan mogok makan selama 111 hari.

Aksinya sempat berakhir setelah mencapai kesepakatan lisan untuk pembebasannya, sebelum penjajah zionis mengingkarinya.

Yang terjadi justru penjajah menambah masa penahanan administratifnya selama empat bulan, ini mendorongnya untuk kembali melakukan aksi pemogokan.

Khalil Awawda, yang saat ini berada di pusat medis zionis Assaf Harofeh, diculik pada 27 Desember 2021.

Sejak saat itu, ia ditawan di bawah perintah penahanan administratif yang berulang kali diperbarui.

Penjajah ‘Israel’ menahan 640 warga Palestina di bawah perintah penahanan administratif, secara sewenang-wenang; tanpa dakwaan atau proses peradilan. Mereka termasuk di antara 4.600 tawanan yang disekap zionis.

Aksi Boikot Berlanjut

Para tawanan administratif di penjara-penjara penjajah juga terus memboikot “pengadilan” negara palsu ‘Israel’.

Aksi boikot mereka memasuki hari ke-189; menuntut pembebasan atau setidaknya menghadapi proses peradilan.

Penjajah zionis menerbitkan lebih dari 54.000 perintah penahanan administratif sejak menduduki wilayah Palestina pada tahun 1967.

Ketika penjajah menjerat warga Palestina dengan perintah penahanan administratif dan terus memperbaruinya selama berbulan-bulan, mereka mengklaim memiliki “arsip rahasia” yang tidak dapat diakses oleh tawanan maupun pengacara mereka.

Perintah penahanan administratif biasanya diperbarui selama tiga, empat, enam, atau delapan bulan sekaligus, bahkan terkadang satu tahun. (Palinfo | IMEMC)

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Ditikam Berkali-kali oleh Pemukim Ilegal Zionis, Kondisi Pemuda Palestina Kritis
Penjajah Zionis Gempur Nablus: Dua Pemuda Palestina Gugur, Belasan Terluka »