Hepatitis Menyebar Cepat di Kamp Pengungsian, Langkah Penanganan Kian Dibutuhkan

2 August 2022, 09:44.
Sumber foto: Anadolu Agency

Foto: Anadolu Agency

BANGLADESH (Anadolu Agency) – Kepanikan meningkat di kalangan Muhajirin Rohingya di Bangladesh, setelah laporan mengkhawatirkan muncul mengenai penyebaran hepatitis di kamp pengungsian Cox’s Bazar yang kumuh dan kelebihan kapasitas tersebut.

“Kami sangat prihatin karena banyak dari kami menderita hepatitis dan penyakit kulit lainnya, dan kami khawatir semua penyakit menular akan cepat menyebar di kamp karena kondisi lingkungan yang penuh sesak,” kata Mohammad Abdur Rahim, seorang Muhajirin Rohingya di kamp Kutupalang, kepada Anadolu Agency.

Seperlima dari Muhajirin Rohingya dewasa yang tinggal di 34 kamp pengungsian Cox’s Bazar, telah terinfeksi virus hepatitis C, menurut sebuah penelitian baru-baru ini.

National Liver Foundation of Bangladesh (NLFB) melakukan penelitian berjudul “High Prevalence of Hepatitis B and C Virus Infections Among Rohingya Refugees in Bangladesh: A Growing Concern for the Refugees and the Host Communities”, yang diterbitkan pada Januari 2022 oleh American Association for the Study of Liver Diseases.

Hepatitis adalah jenis peradangan hati, dan lima virus hepatitis utama adalah A, B, C, D, dan E.

Dr. Md. Atiar Rahman, asisten profesor di fakultas Pediatric Gastroenterology and Nutrition dari Bangabandhu Sheikh Mujib Medical University, mengatakan bahwa hepatitis C ditularkan terutama melalui hubungan seksual maupun penggunaan jarum suntik yang sama untuk banyak orang.

“Sangat susah menjaga aturan higienis dengan baik di kamp-kamp pengungsian Rohingya sepanjang waktu. Mereka yang kondisinya membutuhkan itu, bahkan tidak mengetahui adanya penyakit semacam ini, dan mereka tidak terlalu memerhatikan aturan penggunaan jarum suntik selama tes darah maupun perawatan medis lainnya,” jelas Rahman.

Wanita mudah tertular melalui suaminya, sedangkan bayi yang baru lahir dapat ikut terinfeksi melalui ibunya yang juga mengidap, tambahnya.

“Karena banyak pernikahan dilakukan tanpa pemeriksaan kesehatan, cepatnya pertumbuhan populasi di lingkungan yang tidak higienis dengan fasilitas kesehatan yang terbatas, dan berbagi jarum suntik yang sama untuk inokulasi, semua itu berkontribusi pada penyebaran penyakit di kalangan mereka yang tak memiliki kewarganegaraan tersebut,” jelasnya.

Dr. Ambia Parveen, seorang dokter medis terkemuka dan salah satu pendiri Rohingya Medics Organization, mengatakan bahwa poin pentingnya adalah memastikan tersedianya fasilitas kesehatan bagi sebanyak mungkin Muhajirin Rohingya di kamp pengungsian.

“Banyak negara telah berhasil mencegah infeksi hepatitis C melalui berbagai pendekatan. Namun sayangnya, situasi di komunitas kami, khususnya di kamp-kamp pengungsian Rohingya, sangat kritis karena kurangnya fasilitas diagnostik dan medis,” ujar Parveen, yang juga Kepala European Rohingya Council.

Dia mengamati bahwa mereka yang hidup di bawah garis kemiskinan menderita berbagai masalah fisik dan mental, dan mereka jarang melakukan tes hepatitis, termasuk para wanita hamil.

Memperberat Kesulitan 

Rahim, yang dulunya seorang guru sekolah sebelum menyelamatkan diri dari pembantaian brutal militer Myanmar pada Agustus 2017, menggambarkan bahwa hasil penelitian itu sangat mengkhawatirkan mereka.

“Lingkungan kamp yang sangat padat ini sangat cocok untuk penyebaran cepat penyakit menular,” katanya.

Laporan itu memang telah diterbitkan lebih dari enam bulan yang lalu, namun mereka belum melihat kemajuan yang signifikan dalam masalah ini.

Mohammad Ziaur Rahman, seorang guru di sebuah fasilitas belajar Muhajirin Rohingya di kamp mengatakan bahwa setelah mendengar laporan ini, mereka melewati setiap hari dengan rasa cemas.

“Di saat kami sudah frustrasi dengan ketidakpastian akan repatriasi damai dengan pemenuhan hak kewarganegaraan dan jaminan keamanan, laporan yang mengkhawatirkan seperti itu telah meningkatkan penderitaan kami,” kata Rahman.

Dia menambahkan bahwa jumlah bayi yang lahir terus bertambah di kamp yang sudah penuh sesak tersebut.

“Kami bertemu secara acak, dan beberapa keluarga terpaksa berbagi satu kamar mandi yang sama sehingga memperburuk kondisi yang sudah berat ini.” (Anadolu Agency)

 

 

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Serdadu Penjajah Zionis Tangkap Belasan Pelajar Palestina di Baitul Maqdis
20 Suku di Irak Menyatakan Dukungan dan Pembelaan terhadap Perjuangan Palestina »