Bersuara Lantang, Penyair Muda Rohingnya Ungkap Kondisi Riil Bangsanya pada Dunia

7 September 2022, 04:27.
Muhajirin Rohingya berbelanja sayur dan kebutuhan lainnya di sebuah area pasar di kamp pengungsi Kutupalong di Ukhia pada 7 Agustus 2022. Foto: Munir Uz Zaman, AFP

Muhajirin Rohingya berbelanja sayur dan kebutuhan lainnya di sebuah area pasar di kamp pengungsi Kutupalong di Ukhia pada 7 Agustus 2022. Foto: Munir Uz Zaman, AFP

KANADA (France24) – Mayyu Ali adalah salah satu dari 700.000 lebih Muhajirin Rohingya yang harus menyelamatkan diri dari Myanmar pada akhir 2017, menyusul operasi genosida yang dilakukan militer Myanmar. Lima tahun kemudian, penyair berusia 31 tahun itu terus menyuarakan keadilan bagi bangsanya melalui tulisan-tulisannya.

Satu tahun yang lalu, pada September 2021, Mayyu Ali berjalan melewati pintu flat barunya di Ontario, Kanada, bersama istri dan putrinya yang masih kecil. Ini menjadi perubahan baginya, dari cobaan panjang di tanah air, hingga menghabiskan empat tahun di kamp pengungsian terbesar di dunia, Cox’s Bazar di Bangladesh.

Atas izin Allah Ta’ala, dia akan masuk ke universitas di sana untuk belajar sastra pada tanggal 6 September, lima tahun sejak dia meninggalkan Myanmar–sebagaimana 700.000 lebih Muhajirin Rohingya lainnya–untuk melarikan diri dari persekusi tentara.

Sejak remaja, ia sudah bermimpi menjadi juru bicara bagi bangsanya dan menceritakan kebenarannya. Dia telah menerbitkan belasan puisi, termasuk sebuah otobiografi dalam bahasa Prancis, “L’Effacement” (Éditions Grasset), yang dia tulis bersama dengan jurnalis Emilie Lopes dan dirilis belum lama ini.

“Diskriminasi, pelarian, kekerasan… Saya telah melihat dan mengalami segalanya. Adalah tugas saya untuk memberi tahu dunia tentang hal itu,” tukas Ali kepada FRANCE 24.

 “Bagi Rezim Burma, Keberadaan Saya Tidak Dianggap” 

Ali lahir pada tahun 1991 di Maungdaw, Arakan (sekarang bernama Rakhine), sebuah wilayah di Myanmar bagian barat. Ali adalah putra seorang nelayan dan anak bungsu dari enam bersaudara. Ia mengenang, masa kecilnya yang menyenangkan banyak dihabiskan dengan mandi di sungai maupun bermain dengan teman-temannya yang beragama Buddha dan Hindu.

“Akan tetapi, kegembiraan segera berubah menjadi ketakutan,” lanjutnya.

Sejak undang-undang kewarganegaraan 1982, etnis minoritas Rohingya, yang sebagian besar Muslim, tidak lagi memiliki kewarganegaraan, karena Myanmar menganggap mereka sebagai imigran gelap dari Bangladesh. Status ini telah mengakibatkan mereka menjadi sasaran tentara dan ekstremis agama Buddha.

“Suatu hari, ketika saya berusia sekitar 10 tahun, militer menggerebek rumah semua warga Rohingya di lingkungan saya. Termasuk rumah saya,” katanya.

“Mereka membawa pistol di tangan mereka, itu sangat menakutkan. Saat itulah saya tersadar: saya mengetahui bahwa mereka tidak melakukan hal yang sama ke rumah teman-teman saya yang beragama Buddha atau Hindu, (di situ) saya menyadari bahwa kami telah didiskriminasi.”

Pada tahun-tahun berikutnya, deretan panjang ketidakadilan yang dihadapi oleh keluarga dan teman-temannya masih belum kunjung tuntas.

“Kakak saya dipukuli lalu dijebloskan ke penjara karena dituduh tidak membayar pajak atas rumahnya, tanah kakek saya disita. Orang-orang di sekitar saya dilarang bekerja tanpa alasan,” sebutnya.

Pada 2010, Ali dilarang belajar bahasa Inggris di perguruan tinggi karena identitasnya sebagai Rohingya. Diperkenalkan pada puisi oleh guru bahasa Inggris sekolah menengahnya, ia lalu mengembangkan hasrat sastranya. Remaja yang selama ini menulis secara sembunyi-sembunyi dan sekadar untuk hobi, mulai menggarap karyanya lebih serius.

“Awalnya, saya banyak menulis tentang alam, persahabatan, keluarga…”, jelasnya, “dan kemudian, sedikit demi sedikit, saya mengerti bahwa menulis bisa menjadi gerakan perlawanan. Saya orang Rohingya. Bagi pemerintah Burma, keberadaan saya tidak dianggap. Saya adalah manusia tanpa kewarganegaraan, tak memiliki hak. Akan tetapi, ketika saya menulis, saya dapat menunjukkan keberadaan saya dan juga bangsa saya.”

Saat pelecehan terhadap etnis Rohingya meningkat pada tahun 2012, pemuda ini mengambil tantangan untuk menerbitkan karya-karyanya, yang ia tulis dalam bahasa Inggris dan Burma. Beberapa bulan kemudian, salah satu puisinya muncul di majalah sastra Burma berbahasa Inggris.

“Saya merasakannya seperti terlahir kembali. Tiba-tiba, saya menjadi orang yang dikenal melalui nama saya.”

Akan tetapi, tahun 2012 juga menjadi titik awal kesengsaraan yang lebih dalam. Ia berkata, selama ini “Warga Rohingya selalu didiskriminasi, tetapi sekarang tujuan pihak berwenang adalah untuk memberantas kami.”

Dia ingat betul bagaimana kerusuhan, kekerasan, dan kebakaran yang terjadi, mana desa yang pertama hancur dan siapa orang pertama yang melarikan diri ke negara tetangga Bangladesh.

Akan tetapi, dia memutuskan untuk tetap bertahan dan terlibat dengan lembaga sosial, terutama Action Against Hunger, guna membantu bangsanya.

Koleksi Karya 

Segalanya berubah pada malam 25 Agustus 2017.

“Saya tinggal di Maungdaw pada saat itu, yang berjarak dua jam perjalanan bus dari rumah orang tua saya. Saya sedang tidur ketika ibu saya menelepon,” lanjutnya, “sambil menangis di telepon, dia menjelaskan kepada saya bahwa militer telah membakar desa. Semuanya hancur.”

Pada hari-hari berikutnya, dia menyaksikan apa yang dia sebut sebagai “pembersihan etnis”. “Ada asap di mana-mana, peluru beterbangan, teriakan bersautan, para perempuan diperkosa,” kisahya, dengan suara penuh emosi.

Sebagaimana ratusan ribu warga Rohingya lainnya, Ali dan keluarganya melarikan diri ke negara tetangga Bangladesh. Mereka harus menyeberangi sungai dan berjalan kaki selama tiga hari.

“Kami harus berenang di antara mayat-mayat di sungai tempat saya bermain sewaktu kecil,” kenangnya. Bahkan sampai saat ini, setiap 25 Agustus, Rohingya selalu memperingati hari-hari kelam itu.

Meski menjadi pengungsi di Cox’s Bazar, Ali terus menuliskan karyanya. Syair-syairnya mulai mengambil sudut pandang lain, karena dia juga ingin mengingat semua yang dia alami. Melalui kerjanya dengan organisasi kemanusiaan dan jurnalis, dia mengumpulkan ratusan kesaksian atas tragedi besar kemanusiaan itu.

“Saya menulis semuanya di buku catatan. Gadis-gadis kecil diperkosa, dibunuh, kejahatan, kelaparan, kondisi sanitasi yang buruk,” ucapnya. “Dan saya berharap, suatu hari (catatan-catatan) itu akan berguna untuk memberikan keadilan.”

Akan tetapi, karena upayanya tersebut, kelompok bersenjata yang ditempatkan di dalam kamp mengancam akan membunuhnya.

“Saya harus bersembunyi selama beberapa bulan,” jelasnya, “tetapi, berkat ini, saya juga bisa meninggalkan Bangladesh. Organisasi bergerak untuk memberikan saya jalan keluar.”

Menjaga Kelestarian Budaya Rohingya 

Meskipun Ali sudah pindah ke Kanada setahun yang lalu, dia terus mengingat kondisi kamp pengungsian Cox’s Bazar.

“Orang tua dan saudara saya masih di sana,” katanya. “Mereka memberitahu saya bahwa kondisi semakin buruk dari bulan ke bulan. Ada semakin banyak ketidakamanan. Setiap kali ada cuaca buruk, tempat penampungan menjadi hancur. Penyakit-penyakit juga menyebar luas.”

Menurut Médecins Sans Frontières (MSF), kasus disentri di kamp pengungsian meningkat 50% dibandingkan tahun 2019 dan infeksi kulit, seperti kudis, menyebar luas.

Para Muhajirin Rohingya juga khawatir akan kejahatan yang kian bertambah, di mana sekira 100 pembunuhan telah terjadi dalam kurun lima tahun, menurut hitungan AFP. Beberapa korban di antaranya merupakan tokoh masyarakat yang telah lama menjadi incaran kelompok-kelompok kriminal bersenjata.

Kaum muda, tanpa prospek masa depan yang jelas, tidak diizinkan meninggalkan kamp maupun bekerja. Untuk menanggulangi kepadatan kamp pengungsian, pihak berwenang Bangladesh telah memindahkan sekira 30.000 Muhajirin ke Bhashan Char, sebuah pulau terpencil rawan bencana, di lepas Teluk Bengal.

Ali tergerak hatinya untuk tetap membantu. Dia mengajak komunitas-komunitas internasional untuk mengakui kejahatan genosida yang dialami bangsanya. Dia juga bekerja keras untuk menyediakan akses pendidikan bagi anak-anak Rohingya di Cox’s Bazar, di mana sebagian di antaranya lahir di dalam kamp tersebut.

“Sebagian anak telah berada di sana selama lima tahun, dalam kurun waktu itu mereka telah kehilangan pendidikan. Saya tak mau membiarkan ini, membiarkan mereka menjadi generasi yang dikorbankan,” katanya.

Dia telah berhasil mendirikan dua sekolah, dengan bantuan asosiasi lokal, di mana para murid mempelajari kurikulum pendidikan Myanmar.

“Jika suatu hari, dengan penuh keajaiban, mereka pulang kembali ke Burma, mereka bisa langsung masuk ke sekolah,” jelas Ali.

“Ketika kita berbicara tentang pembantaian Rohingya, kita memikirkan tentang kekerasan dan kejahatan fisik. Akan tetapi, kenyataannya budaya dan bahasa kami juga diserang,” tegasnya.

“Ketika menjadi seorang pengungsi, kami kehilangan akar budaya kami. Kami harus melawan itu. Jika budaya kami dapat bertahan, begitu pula bangsa kami.”

“Saya ingin terus menulis, diterbitkan di beberapa negara, terus berjuang untuk bangsa saya dan mendorong masyarakat internasional untuk bertindak,” ucapnya.

Ali menutup dengan: “Sebuah bangsa, sejak puluhan tahun, hanya karena jati dirinya sebagai minoritas Muslim, terus-menerus di bawah kilatan pedang dan peluru. Terkurung dalam penindasan, pemerkosaan, dan penahanan. Terjebak dalam api dan ketakutan. Sungguh! Sebuah kekejaman yang sangat besar!” (France24)

Dalam otobiografinya, "L'Effacement", Mayyu Ali menyuarakan keadilan bagi etnis Muslim minoritas Rohingya. © DR

Dalam otobiografinya, “L’Effacement”, Mayyu Ali menyuarakan keadilan bagi etnis Muslim minoritas Rohingya. © DR

 

 

 

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Fakta Terkuak, Agen Intelijen Kanada Selundupkan Pelajar Perempuan ke Suriah
Aplikasi untuk Memata-matai Etnis Uyghur Beredar Luas, Berkedok Buku Elektronik »