Ujian Muhajirin Yaman: Menyelamatkan Diri dari Peperangan, Dilanda Banjir Bandang

7 September 2022, 20:47.
Penyaluran paket yang berisi barang-barang kesehatan dan kebersihan dasar, pakaian, dan makanan siap saji yang merupakan bantuan darurat banjir di Al Jawf, Yaman. (UNFPA Yaman)

Penyaluran paket yang berisi barang-barang kesehatan dan kebersihan dasar, pakaian, dan makanan siap saji yang merupakan bantuan darurat banjir di Al Jawf, Yaman. (UNFPA Yaman)

“Awan mendung memenuhi langit, lalu tiba-tiba hujan deras menghanyutkan tempat perlindungan kami. Semua yang kami miliki–dokumen pribadi, selimut, makanan–semuanya hancur.”

Qubool, 42 tahun, adalah satu-satunya pencari nafkah untuk enam anaknya. Ketika peperangan meletus di dekat desa mereka pada awal Januari, dia bersama keluarganya menyelamatkan diri ke kamp pengungsian Baga, Provinsi Al Dhale, barat daya Yaman.

Qubool berkata, “Kami meninggalkan segalanya. Saya tidak membawa apa pun untuk bisa memenuhi kebutuhan hidup yang paling penting, seperti makanan maupun obat-obatan.”

Setelah dipaksa meninggalkan rumah mereka dan kehilangan harta benda, keluarga itu mendapat pukulan lain: Mereka termasuk di antara puluhan ribu pengungsi yang kini kembali kehilangan tempat bernaung. Hujan lebat yang melanda wilayah itu menghanyutkan apa pun yang mereka punya.

Sejak bulan April, banjir bandang yang melanda berdampak pada rusaknya infrastruktur penting termasuk jalan, sumber mata air, dan pusat layanan kesehatan.

Lebih dari 300.000 orang diperkirakan dalam kondisi darurat, dengan lebih dari setengahnya adalah perempuan dan anak perempuan. Banyak di antaranya yang telah mengungsi berkali-kali dan berada dalam kondisi fisik maupun psikologis yang rentan.

Mengatasi Krisis 

Eman, 28 tahun, berasal dari provinsi Al Hudaydah barat, menggambarkan kehidupan mereka sebelum peperangan sebagai kehidupan yang sederhana, namun bahagia.

Dia mensyukuri pekerjaannya sebagai penjahit. Sementara suaminya, Mohammed, mengelola sebuah toko sayur kecil yang sukses. Akan tetapi, ketika peperangan semakin mendekat ke desa mereka, keluarga itu terpaksa menyelamatkan diri ke Provinsi Amran di utara.

Eman mengatakan, “Saya tidak punya pilihan selain menjual mesin jahit saya yang berharga untuk membantu kami membayar transportasi. Itu adalah saat yang sulit. Saya kehilangan satu-satunya sumber pendapatan saya.”

Perubahan kehidupan mereka begitu mengejutkan. Tiba-tiba mereka kehilangan pekerjaan, terisolasi, khawatir akan kesehatan anak-anak mereka, tidak lagi memiliki atap yang aman di atas kepala mereka, membuat pasangan orangtua muda itu terjebak dalam pilihan sulit.

“Saya harus memutuskan apakah akan menyiapkan makanan untuk keluarga saya atau menggunakan uang itu untuk mencegah hujan agar tidak membanjiri rumah kami,” jelas Mohammed.

Perempuan dan Anak yang Paling Kesulitan 

Setelah hampir delapan tahun peperangan dengan meningkatnya bencana alam, 23 juta orang di Yaman membutuhkan bantuan kemanusiaan darurat. Jutaan orang telah kehilangan rumah mereka, ekonomi telah runtuh, dan sistem kesehatan hampir tidak berfungsi lagi.

Dari 4,3 juta orang yang mengungsi di Yaman, lebih dari tiga perempatnya adalah perempuan dan anak-anak. Sekira 1,3 juta wanita saat ini hamil, hampir 200.000 di antaranya berisiko mengalami komplikasi yang mengancam jiwa, namun tak memiliki akses genting ke layanan kesehatan reproduksi. (Reliefweb)

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Aplikasi untuk Memata-matai Etnis Uyghur Beredar Luas, Berkedok Buku Elektronik
Perlakuan Malaysia terhadap Muhajirin Rohingya Berubah Drastis Selama Pandemi Covid-19 »