Perlakuan Malaysia terhadap Muhajirin Rohingya Berubah Drastis Selama Pandemi Covid-19

10 September 2022, 18:59.
Sebuah truk Imigrasi Malaysia di depan gardu Sungai Bakap di Penang, di mana ratusan Muhajirin Rohingya melarikan diri pada bulan April 2022. (AFP)

Sebuah truk Imigrasi Malaysia di depan gardu Sungai Bakap di Penang, di mana ratusan Muhajirin Rohingya melarikan diri pada bulan April 2022. (AFP)

Setelah sebelumnya menjadi salah satu negara yang paling mendukung etnis minoritas Rohingya, Malaysia kini semakin menunjukkan ketidakberpihakannya terhadap kelompok yang dianiaya itu, membuat banyak Muhajirin takut ditangkap dan kesulitan untuk bekerja maupun bersekolah.

Ketika Amir* melarikan diri dari kamp pengungsian Rohingya di Bangladesh menggunakan perahu pada tahun 2015, dia ditinggalkan oleh pedagang manusia di laut terbuka dalam perjalanan ke Malaysia.

“Kami kehilangan sekira 300 orang karena kehabisan makanan dan hanya terombang-ambing tak tentu arah,” kenangnya. Dia mengatakan, beberapa Muhajirin ketika itu sampai mengigau karena dehidrasi, ada yang nekat mencoba melubangi dasar perahu untuk bisa minum walaupun dengan air laut yang asin.

“Mereka bahkan tidak punya tenaga lagi untuk naik ke lantai atas.”

Saat kapal bocor dan mulai tenggelam, ratusan orang tewas karena tidak bisa berenang, hingga nelayan Indonesia dari Provinsi Aceh menolong Amir dan korban selamat lainnya.

“Ada sambutan yang luar biasa dari masyarakat tuan rumah, mereka membawa apa pun yang mereka bisa, obat-obatan, makanan, dan air. Orang-orang yang sakit parah dikirim ke rumah sakit, bahkan didirikan pula tenda medis di kamp pengungsian untuk memberikan perawatan darurat,” tuturnya.

Meski disambut hangat, Amir tetap melanjutkan perjalanan ke Kuala Lumpur setelah setahun di Aceh, “Niat dari awal memang untuk ke Malaysia.”

Ketika ditanya apakah dia menyesali keputusan itu sekarang, Amir mengangkat bahu, “Ketika Anda seorang pengungsi, selamanya Anda adalah seorang pengungsi.”

Pada tahun 2017, militer Myanmar melancarkan operasi brutal terhadap etnis Rohingya, menewaskan ribuan warga sipil dan memaksa lebih dari 750.000 orang melarikan diri melintasi perbatasan ke Bangladesh.

Di sana mereka bergabung dengan sekira 250.000 Muhajirin yang telah mengungsi terlebih dahulu pada operasi pembersihan militer sebelumnya, termasuk keluarga Amir.

Sayangnya, sikap terhadap Rohingya telah berubah di Malaysia; simpati untuk mereka memuncak sekira tahun 2016 dan 2017, tetapi berubah menjadi penuh kecurigaan dan rasisme selama pandemi Covid-19.

Rahmat Abdul Karim, salah satu tokoh komunitas Rohingya di Malaysia mengatakan, mereka menghadapi banyak tantangan di Kuala Lumpur, mulai dari minimnya akses layanan kesehatan dan pendidikan, hingga sulitnya mencari pekerjaan serta hambatan lainnya.

Para Muhajirin sebenarnya mendapat diskon berobat di rumah sakit jika mereka terdaftar di badan kepengungsian PBB, UNHCR. Akan tetapi, proses pendaftarannya “sangat panjang dan sangat lambat”, membuat banyak Muhajirin terbebani dengan tagihan yang di luar kapasitas mereka.

“Bahkan beberapa administrator rumah sakit, jika mengetahui ada pasien yang tidak terdaftar, mereka akan melaporkannya ke imigrasi,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa dia mengetahui ada seorang ibu muda Rohingya yang dikirim ke pusat penahanan segera setelah melahirkan.

Ribuan Muhajirin Rohingya telah ditangkap aparat Malaysia karena dianggap memasuki negara itu secara ilegal, dan menghadapi penahanan tanpa batas waktu karena mereka tidak dapat dideportasi kembali ke Myanmar.

Rahmat menambahkan, ada risiko serupa dalam hal mencari penghasilan. Muhajirin Rohingya “harus siap membayar sogokan” kepada pemerintah setempat karena telah bekerja tanpa izin.

“Orang-orang semua bekerja, bedanya kami tidak memiliki izin kerja, jadi semuanya bergantung pada keberuntungan. Tidak ada kontrak formal. Jika seseorang bekerja dan dia terluka, dia tidak akan mendapatkan kompensasi apa pun,” jelasnya.

Daw Rose*, seorang ibu Rohingya berusia 48 tahun dari Sittwe, Arakan, datang ke Malaysia 28 tahun yang lalu dan telah menjalani berbagai marabahaya selama bertahun-tahun.

“Tinggal di Sittwe, kami menghadapi banyak kesulitan, seperti diskriminasi, tidak diizinkan bepergian dengan bebas, sebagaimana warga Rohingya lainnya,” katanya. Dia datang ke Kuala Lumpur bersama suaminya, yang kemudian dikaruniai enam anak, tetapi suaminya meninggal karena penyakit jantung tahun lalu.

Hari ini dia telah memegang kartu UNHCR, yang memungkinkan dia untuk bekerja secara legal sebagai pembantu rumah tangga. Akan tetapi, dia mengatakan bahwa ia sebagian besar masih bekerja secara informal tanpa kontrak, membuatnya tak mendapat jaminan kerja, padahal dia bekerja untuk menghidupi seluruh keluarganya.

Politik Kebencian 

Muhajirin Rohingya seperti Daw Rose melarikan diri dari Myanmar untuk menghindari penindasan yang semakin keras. Bahkan sebelum itu, Muslim Rohingya telah ditolak kewarganegaraannya sehingga mereka sulit untuk mengakses layanan publik, seperti pendidikan dan perawatan kesehatan. Mereka tak memiliki kebebasan untuk bergerak dan tidak diberi hak untuk memilih–kondisi yang digambarkan Amnesty International sebagai apartheid.

Operasi kejam militer Myanmar tahun 2017 dikutuk keras oleh dunia, termasuk Malaysia yang mayoritas warganya Muslim. Akan tetapi, saat ini Rahmat merasa warga Malaysia juga semakin memusuhi para Muhajirin Rohingya.

“Kami hanya bertahan hidup sendiri,” katanya. “Selama Covid, ada banyak ujaran kebencian dan kampanye media yang menyudutkan para imigran dan pengungsi.”

“Mereka mengatakan hal-hal seperti, ‘Mengapa mereka tidak ditahan dan dikirim ke negara asal mereka?’ Sebelumnya tidak seperti itu,” jelas Rahmat.

Sebagai contoh, pada tahun 2020, Menteri Dalam negeri Malaysia mengatakan bahwa organisasi apa pun yang mewakili Rohingya adalah ilegal dan para Muhajirin Rohingya tidak memiliki status, hak, atau dasar untuk membuat klaim apa pun kepada pemerintah Malaysia.

Charles Santiago, seorang anggota parlemen Malaysia dan Ketua Parlemen ASEAN untuk Hak Asasi Manusia, mengatakan bahwa dulu kondisinya tidak seperti itu.

“Pada suatu waktu, di bawah mantan perdana menteri sebelumnya, hubungannya sangat baik,” ucapnya, seraya menambahkan bahwa ketika itu etnis Rohingya memiliki dukungan publik yang hampir sama dengan warga Palestina, yang dianggap sebuah keharusan bagi orang Malaysia.

Mantan perdana menteri tersebut adalah Najib Razak, yang kini dipenjara karena keterlibatannya dalam skandal korupsi 1MDB bernilai miliaran dolar.

Pada tahun 2016 dan 2017, ia muncul sebagai pendukung kuat Rohingya dan penentang vokal terhadap pemerintah Myanmar dan Daw Aung San Suu Kyi. Akan tetapi, sebagian menganggap bahwa sikap Najib tersebut hanyalah polesan untuk mengalihkan tekanan publik atas tuduhan korupsi yang meningkat.

“Dalam beberapa tahun terakhir, kondisinya berubah menjadi negatif,” kata Santiago, yang menyetujui bahwa ada upaya terorganisir untuk menyudutkan etnis Rohingya.

Berjuang Mencari Pendidikan 

Ketika Rahmat pertama kali datang ke Malaysia pada tahun 2010, ia melakukannya untuk bisa melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Meskipun dia selalu bermimpi menjadi seorang dokter, statusnya yang tidak memiliki kewarganegaraan menjadi ganjalan ke mana pun dia pergi.

“Saya lahir di Myanmar, di Maungdaw di Arakan pada tahun 1978,” katanya. “Ayah saya adalah seorang guru sekolah, tetapi karena banyak masalah politik, kami pindah ke Arab Saudi. Kami bepergian ke Bangladesh, ke Pakistan dan dari Pakistan ke Arab Saudi.”

Akan tetapi, saat menempuh pendidikan menengah di Arab Saudi, Rahmat ditolak masuk karena dia orang asing. Dia kembali ke Pakistan, di mana dia belajar di sekolah internasional.

“Akan tetapi, Pakistan tidak mengizinkan orang asing untuk belajar di universitas,” jelasnya, akhirnya dia memutuskan datang ke Malaysia untuk kuliah.

“Saya ingin belajar satu tahun di sini dan satu tahun lagi di Australia, tetapi ketika saya pergi ke kedutaan [Australia], mereka ingin bukti bahwa saya memiliki $100.000 untuk menunjukkan saya dapat menghidupi diri sendiri. Akan tetapi, saya tidak dapat menunjukkannya sehingga saya masih di sini,” terang Rahmat.

Anak-anak Muhajirin Rohingya di Malaysia juga menghadapi kendala yang sama dalam mengakses pendidikan, menimbulkan masalah bagi generasi masa depan tersebut.

“Anak-anak (Muhajirin) melakukan yang terbaik untuk belajar,” ucap Rahmat, yang melihat pihak berwenang Malaysia enggan memberi akses pendidikan untuk mereka.

“Mereka berpikir, ‘Mengapa kita perlu membangun sekolah untuk para pengungsi atau imigran, Anda di sini hanya untuk sementara, kami tidak akan membiarkan Anda tinggal di sini dalam waktu lama,’” jelasnya.

Situasi yang sama terjadi di Bangladesh, di mana pihak berwenang memberlakukan pembatasan yang semakin keras terhadap para Muhajirin Rohingya, sebagai upaya untuk mendesak mereka agar segera kembali ke Myanmar.

Enam anak Daw Rose berusia antara 6 dan 28 tahun. Pembatasan akses pendidikan ini semakin membulatkan tekadnya untuk mencoba meninggalkan Malaysia.

“Anak-anak tidak bisa mengenyam pendidikan formal di Malaysia,” terangnya, “mereka hanya bisa belajar di sekolah agama atau sekolah yang dibuka PBB bagi para pengungsi.”

Dia mengatakan, ketika suaminya masih hidup, dia menjalankan sekolah agama serta menangani berbagai masalah sosial Muhajirin Rohingya sehingga dia merasa berkewajiban untuk tetap bertahan demi mendukung komunitas Rohingya di Malaysia.

“Akan tetapi, ketika suami saya meninggal, tanggung jawab untuk masa depan anak-anak saya jatuh pada saya. Anak ketiga saya sekarang di sekolah menengah dan mengatakan kepada saya bahwa dia ingin melanjutkan ke perguruan tinggi,” ucapnya.

Amir mengatakan beberapa anak berhasil bersekolah di sekolah negeri hingga pendidikan menengah, tetapi tidak diperbolehkan mengikuti ujian matrikulasi pemerintah.

“Ada beberapa pusat komunitas di mana Anda dapat menyekolahkan anak-anak Anda, tetapi hanya sedikit yang menempuh pendidikan menengah, sedangkan untuk pendidikan tinggi tidak ada,” jelasnya.

Amir meminta dukungan dunia internasional, untuk membantu melatih para guru Rohingya dan mengembangkan kurikulum bagi anak-anak.

“Terutama jika nanti kami bisa kembali [ke Rakhine], kami sudah memiliki guru yang terlatih,” katanya.

Mimpi Rumah

Saat ini, prospek untuk bisa kembali ke Rakhine masih sangat gelap. Militer yang melakukan genosida terhadap Rohingya, kembali ke istana kekuasaan di Nay Pyi Taw.

Sementara, perang antara militer dan Arakan Army (AA), kelompok pemberontak lokal, berkobar kembali setelah hampir dua tahun gencatan senjata pada tahun 2020, menjadikan Rakhine tempat yang berbahaya untuk kembali.

Hal ini membuat para Muhajirin Rohingya di Malaysia dan di tempat lain terjebak dalam ketidakpastian.

“Saya merasa tersesat di sini,” ucap Rahmat. “Saya lahir di Myanmar, saya besar di Arab Saudi, lalu saya datang ke sini… saudara perempuan, saudara laki-laki, dan orang tua saya ada di Arab Saudi, tetapi saya tidak dapat mengunjungi mereka di sana karena saya tidak memiliki dokumen perjalanan. Jadi, saya dalam kondisi terombang-ambing.”

Rahmat mengatakan, dia merasa bangsa Rohingya kembali ke situasi 10 tahun yang lalu.

“Ketika Aung San Suu Kyi berada di penjara, kami berdoa agar dia bisa dibebaskan, karena kami berharap dia akan mendirikan parlemen yang bisa mengangkat permasalahan kami di sana,” jelasnya, merujuk pada penahanan Suu Kyi di bawah rezim militer sebelumnya.

Akan tetapi, komunitas Rohingya kecewa ketika partai demokratis Suu Kyi pada pemilu 2015 tidak mengajukan satu pun kandidat Muslim. Setelah memenangkan pemilihan itu dengan telak, partai tersebut dan para pendukungnya tidak juga memperjuangkan hak etnis Rohingya seperti yang diharapkan, namun justru berpihak pada militer.

“Mereka memberi tahu kami bahwa kami harus pergi ke Bangladesh, tetapi rumah kami ada di Maungdaw dan Buthidaung. Kami telah tinggal di sana dari generasi ke generasi. Jadi, kalau kami pergi ke Bangladesh, kami justru menjadi orang asing di sana… kalau kami ke Bangladesh, warga Bangladesh tidak akan menyambut kami karena mereka menganggap kami dari negeri seberang,” terangnya.

Sejak pemerintahan Suu Kyi digulingkan dalam kudeta, di mana ia sekali lagi dibawa ke tahanan militer, anggota parlemen yang terpilih melalui pemilu 2020 telah membentuk pemerintahan bayangan yang dikenal sebagai Pemerintah Persatuan Nasional. Mereka berjanji untuk memberikan kewarganegaraan dan hak-hak lainnya kepada minoritas Rohingya, yang tentu memberikan harapan baru bagi masyarakat etnis Muslim tersebut.

Akan tetapi, bagi sebagian orang seperti Daw Rose, janji itu sudah terlambat.

“Kami sangat mengingat dan merindukan Myanmar,” tuturnya. “Saya yakin tidak ada orang yang tidak merindukan negara asalnya. Akan tetapi, saya hanya akan kembali untuk berkunjung. Saya tidak ingin menghadapi lagi diskriminasi dan penghinaan yang saya alami sebelumnya.”

Akan tetapi, bagi Rahmat dan Amir, mereka masih berharap besar untuk bisa pulang.

“Memang saya belum pernah menginjak negara saya, tetapi ketika saya masih kecil, saat tinggal di kamp pengungsian, ayah saya biasa membawa saya ke puncak gunung dan menunjukkan kepada saya, di situlah kampung halamanmu,” kenang Amir. “Selalu ada keinginan untuk bisa kembali ke negara asal kami.” (Frontier Myanmar)

*Nama disamarkan atas permintaan narasumber

Anak-anak Rohingya mengenakan tanda wajah tradisional Myanmar, thanaka, saat merayakan Iduladha di Kuala Lumpur pada bulan Juli. (AFP)

Anak-anak Rohingya mengenakan tanda wajah tradisional Myanmar, thanaka, saat merayakan Iduladha di Kuala Lumpur pada bulan Juli. (AFP)

Pengungsi Rohingya berjalan menuju kamp pengungsian Balukhali di Bangladesh pada November 2017, setelah melarikan diri dari Myanmar. (AFP)

Pengungsi Rohingya berjalan menuju kamp pengungsian Balukhali di Bangladesh pada November 2017, setelah melarikan diri dari Myanmar. (AFP)

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Ujian Muhajirin Yaman: Menyelamatkan Diri dari Peperangan, Dilanda Banjir Bandang
Rezim Cina Berdalih Terapkan Lockdown Covid-19, Warga Uyghur Diposisikan Seperti Tahanan Rumah; Belasan Orang Meninggal »